JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pernyataan Edhie Baskoro Yudhyono memberikan ucapan selamat ulang tahun dengan perpaduanbahasa Inggris dan bahasa Indonesia kepada saudaranya Agus Harimukti Yudhoyono ramai menjadi sorotan warganet. 

Dosen Universitas Indonesia ikut mencuit menanggapi video yang beredar tersebut. Namun, ia menilai kualitas pernyataan Ibas dianggap buruk.

“Maaf lho buruk sekali,” kata Ade Armando, Sabtu 14 Agustus 2021.

Banyak sekali warganet ikut memberikan komentar terhadap cuitan Ade Armando. Berikut di antaranya.

Imelda Andini Bawintil: “Masih kinyis2 ya.” 

Maya Purnomo: “Aku juga mau sok inggris aah. In this video. I don't find any characteristics of Indonesian People. Bang Ade, sudah bagus blm English gue."

Erind P Erind: “Bahasa Inggris logat cik3as.”

Iyun Ambarita: “Qualitas Waketum partai... Itupun karena Bapak, prestasi???? Udahlah."

Untuk diketahui, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat (Waketum PD) Edhie Baskoro Yudhyono atau Ibas mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ketum PD Agus Harimurti Yudhoyono. Ibas berharap AHY di usia 43 tahun sukses meraih mimpi dan menjalani karir.

"Hai, hai, it's me Ibas, Mas AHY, Mas Agus Harimurti Yudhoyono yang saya sayangi dan dan saya banggakan, you are my brother, my one and only, selamat ulang tahun, semoga panjang umur, sehat dan senantiasa dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT," kata Ibas di akun Instagram-nya, seperti dilihat pada Jumat (13/8/2021).

Kepada sang kakak, Ibas mengatakan keluarganya selalu mendukung AHY. Ibas mengingatkan kembali apa yang pernah diucapkan AHY kepada dirinya.

"Sebagai adik tentunya di hari yang berbahagia ini aku hanya bisa mendoakan. EBY family, we always support you, no matter what. Once you always said to ask all, Mas AHY selalu mengatakan dream big, work hard and never give up," ujarnya.

Bagi Ibas, AHY merupakan contoh dalam bekerja dan berumah tangga. Ibas berharap AHY sukses dalam mengejar mimpin dan menjalani hidup.

"Tentu di usia ke-43 tahun, di usia yang penuh kematangan, matang pikiran, matang hati, dan matang perbuatan, Mas AHY bisa menjadi contoh yang membanggakan, menjadi panutan dalam lingkungan, dalam pekerja, dan dalam rumah tangga. Untuk itu good luck with your dreams, good luck with your careers, dan good luck with your life," ucap Ibas.

"I made not always be your side all the time, but you always be in my heart forever. Once again, happy, happy birthday, enjoy your day," imbuhnya seperti dinukil detik.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati

 
Diterbitkan di Berita
Tim detikcom - detikNews Jakarta - Politikus senior PDIP Hendrawan Supratikno angkat bicara perihal duo pimpinan Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, yang kompak mempertanyakan kemampuan Negara mengatasi Corona.
Hendrawan berpesan, jangan memanfaatkan kecemasan publik saat ini sebagai komoditas politik.

"Hendaknya tidak ada pihak yang memanfaatkan amukan pagebluk dan kecemasan publik sebagai komoditas politik, atau mengurangi konsentrasi kekuatan kita sebagai bangsa dalam mengatasi situasi ini," kata Hendrawan kepada wartawan, Kamis (8/7/2021).

"Jangan menganggap remeh kerja keras kita untuk lepas dari badai yang sempurna duo pandemi-resesi ini," imbuhnya. Hendrawan pada dasarnya menganggap kekhawatiran AHY dan Ibas sebagai pengingat. Tapi jangan sampai mengurangi semangat penanganan pandemi COVID-19.

"Keprihatinan yang disampaikan duo AHY-Ibas tentu kita perhatikan, kita jadikan cambuk untuk bekerja lebih keras, tanpa mengurangi energi positif kita untuk terus bergotong royong mengatasi COVID," ucap Hendrawan.

Lebih lanjut, Hendrawan menuturkan bahwa saat ini diperlukan kesadaran masyarakat untuk mensukseskan PPKM darurat. Untuk pemerintah, anggota DPR RI itu mengingatkan akan pentingnya konsistensi dalam menerapkan aturan PPKM darurat. 

"Sekarang kita sambut gembira kesadaran kolektif yang terus tumbuh di masyarakat untuk menyukseskan program PPKM darurat ini. Jangan kita kendur karena ini memang arena maraton. Konsistensi kebijakan dan disiplin eksekusi sangat dibutuhkan," terangnya.

Seperti diketahui, duo pimpinan Partai Demokrat, AHY dan Ibas, kompak mempertanyakan kemampuan Negara dalam mengatasi pandemi Corona. AHY khawatir akan kondisi penyebaran COVID-19 di Indonesia yang semakin ganas. Sementara Ibas tak ingin Indonesia jadi failed nation dalam menangani Corona.

(zak/tor)

Diterbitkan di Berita

Siti Afifiyah tagar.id Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono tidak perlu kebakaran jenggot.

Mereka sebaiknya menjelaskan kepada masyarakat, kenapa organisasi radikal tumbuh subur pada zaman SBY menjadi Presiden Republik Indonesia selama sepuluh tahun, 20 Oktober 2004 - 20 Oktober 2014.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Rahmad, juru bicara Partai Demokrat hasil Kongres Luar Biasa Deli Serdang, kepada wartawan, Selasa, 30 Maret 2021. 

Sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan ideologi jahat radikal teror sudah mulai masuk ke partai politik. Pertarungan ideologi juga terjadi di tubuh Partai Demokrat.

Ini alasan Moeldoko bersedia didaulat jadi Ketua Umum Partai Demokrat dalam Kongres Luar Biasa Deli Serdang untuk menggantikan Agus Harimurti Yudhoyono. Demi menyelamatkan Indonesia dari ideologi berbahaya. Bukan sekadar menyelamatkan Partai Demokrat.

Terhadap pernyataan Moeldoko itu, Agus Yudhoyono menegaskan Partai Demokrat berideologi Pancasila, Bhineka Tunggal Ika. Partai Demokrat jelas mengutuk, mengharamkan ideologi radikal teror. AHY lantas bertanya apakah Moeldoko menganut ideologi pecah belah, ideologi fitnah keji.

Rahmad memperjelas konteks pernyataan Moeldoko dengan mengajak masyarakat melihat kembali fakta bahwa organisasi radikal tumbuh subur di Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

AHY dan SBY sebaiknya menjelaskan kepada masyarakat, kata Rahmad, "Kenapa organisasi radikal bisa tumbuh subur di Indonesia di era kepemimpinan SBY sebagai Presiden sekaligus sebagai Ketua Umum dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat."

Rahmad mengatakan AHY dan SBY tidak perlu kebakaran jenggot mendengar pernyataan Moeldoko soal pertarungan ideologi dalam tubuh Demokrat.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.TV – Ketua Umum Partai Demokrat dilaporkan oleh delapan orang kader Demokrat ke Bareskrim Polri.

Adapun kader yang melaporkan adalah  Darmizal, Ahmad Yahya, Yus Sudarso, Syofwatillah Mohzaib, hingga Franky Awom, yang berasal dari  unsur DPC maupun DPP Partai Demokrat.

Menurut keterangan kuasa hukum Rusdiansyah, AHY diduga telah melakukan pemalsuan akta otentik AD/ART Partai Demokrat tentang pendirian partai berwarna biru tersebut.

“Kita ingin melakukan pelaporan terbaru terkait dengan pemalsuan akta otentik AD/ART Partai Demokrat, tentang pendirian. Dimana, di dalam AD/ART Partai Demokrat, tidak terdapat nama Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pendiri Partai Demokrat”, ungkap Rusdiansyah saat memberikan keterangan pers kepada wartawan (12/3).

Ia mengatakan, terdapat perbedaan antara AD/ART awal Partai Demokrat dengan AD/ART Partai Demokrat tahun 2020.

“Di dalam AD/ART Partai Demokrat 2020, di situ sudah diubah, yang menjadi founding father Partai Demokrat adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ini tidak benar”, tuturnya.

Saat datang ke Mabes Polri, tim kuasa hukum telah  membawa sejumlah barang bukti berupa akta pendirian Partai Demokrat tahun 2001, AD/ART Partai Demokrat tahun 2020, dan SK Kemenkumham Tahun 2020.

 

Editor : Lisa

Penulis : Abdur Rahim

Diterbitkan di Berita

jpnn.com, JAKARTA - Ferdinand Hutahaean angkat bicara terkait dinamika Partai Demokrat (PD) setelah Kongres Luar Biasa (KLB) di Sibolangit, Deli Serdang, Sumut memecat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai berlambang bintang mercy.

Bagi mantan ketua biro energi dan sumber daya mineral DPP Partai Demokrat ini, prahara yang menimpa PD merupakan dinamika berorganisasi.

Dia mengatakan bahwa konflik terkadang muncul dari perbedaan pendapat dan bisa juga karena kepemimpinan yang lemah, tak mengakar dan tidak mendapat legitimasi kharisma politik.

"Dan konflik juga bisa muncul karena semangat perubahan," ucap Ferdinand kepada JPNN.com, Sabtu (6/3). Ferdinand menyampaikan pemahaman bahwa organisasi politik itu bersifat terbuka dan bukan kerajaan.

KLB pun menurutnya sesuatu yang sah untuk dilakukan sepanjang memenuhi syarat dalam AD/ART. Namun, dia melihat pertarungan sesungguhnya bukanlah di arena KLB, tetapi di pengadilan yang nantinya akan bergulir.

"Inilah pertarungan politik dan pertarungan hukum serta pertarungan kekuatan sesungguhnya siapa yang layak memimpin, dan siapa yang dipercaya grassroot," jelas Ferdinand.

Secara pribadi, pria yang pernah memimpin Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) ini tidak mau melihat KLB Sibolangit dari sisi aturan AD/ART, tetapi secara politik kader yang hadir menginginkan perubahan.

Hasilnya, kata Ferdinand, Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko menjadi pilihan untuk perubahan tersebut, sekaligus menang telak melawan dominasi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan AHY.

"Moeldoko telah menjadi pilihan untuk perubahan serta Moeldoko telah menang 2-0 melawan SBY dan AHY," ucap Ferdinand.

Kemenangan pertama Moeldoko adalah berhasil menyingkirkan AHY sebagai ketum secara politik, dan yang kedua mantan Panglima TNI itu memenangkan opini publik. "Bahwa publik saat ini melihat dan mendengar Demokrat KLB, dan Moeldoko ketum baru.

Itulah kemenangan Moeldoko saat ini. Tinggal dua pertandingan lagi yaitu di Kemenkumham dan di pengadilan," tutur pria asal Sumatera Utara ini.

Ferdinand memprediksi akhir dari prahara Demokrat ini akan tetap dimenangkan oleh suami Koesni Harningsih tersebut. "Apakah Moeldoko akan menang 4-0 nantinya? Kita akan melihat ke depan hasilnya.

Tetapi prediksi saya, Moeldoko akan memenangkan pertandingan ini baik secara politik maupun secara hukum," pungkasnya.(fat/jpnn)

Diterbitkan di Berita