Yogi Ernes - detikNews - Polisi menangkap tiga pelaku pembunuhan paranormal A di Pinang, Kota Tangerang. Pembunuhan ini direncanakan oleh tersangka Matum karena cemburu istrinya, MY, diduga berselingkuh dengan A.

"Bahwa korban ini memang bekerja sudah hampir 20 tahun sebagai paranormal. Sering mengobati orang, juga paranormal. Rasa dendam ini karena ada dugaan memang kejadian sekitar tahun 2010 yang lalu, pada saat itu istri tersangka M berobat kepada korban yang kerjanya sebagai paranormal, Masang susuk pada saat itu, tetapi yang terjadi adalah korban disetubuhi," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (28/9/2021).

Matum memendam dendam selama bertahun-tahun. Ini diawali ketika pada 2010, Matum menemukan pesan dari seseorang ke handphone istrinya.

Matum kemudian mencurigai istrinya berselingkuh. Saat itu, Matum mendesak istrinya (MY) mengaku perselingkuhan. "Kemudian istrinya disuruh ngaku istrinya pada saat itu. Belum ada pengakuan," ujar Yusri.

Matum mengancam akan menceraikan istrinya jika tidak mengaku. Namun MY meminum racun hingga dibawa ke Rumah Sakit Mayapada, Kota Tangerang. Pada 2019, Matum dan istrinya kemudian menunaikan ibadah haji.

Selesai melaksanakan tawaf di depan Ka'bah, Matum mengeluarkan Al-Qur'an dan meminta istrinya bersumpah bahwa tidak melakukan perzinaan. Karena takut, akhirnya istri Matum mengaku telah berzina dengan A di sebuah hotel melati di Serpong, Tangerang Selatan.

Niat Matum membunuh korban lalu tercetus setelah kakak Matum meninggal dunia akibat bercerai dengan istrinya. Matum menduga meninggalnya sang kakak itu akibat istri sang kakak berselingkuh dengan korban A.

Singkat cerita, pada 30 Juli 2021, Matum berkenalan dengan tersangka Yadi. Dalam pertemuan itu, Matum meminta Yadi mencarikan orang yang mau membunuh korban. Yadi menyanggupinya. Kemudian ia membawa eksekutor Kusnadi dan Saripudin. Mereka sanggup membunuh korban dengan permintaan imbalan sejumlah uang.

Para tersangka ditangkap oleh tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Metro Tangerang Kota yang dipimpin oleh Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Handik Zusen, Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Awaludin Amir, Kompol Iskandar, Kompol Resa Marasabessy, AKP Adam, AKP reza Pahlevi, Iptu Fajar Kiansantang, dan Ipda Roy Andarek.

Polisi: Penembakan Tak Terkait Kapasitas Ustaz 

Polisi menyatakan korban tewas ditembak dalam kapasitasnya sebagai paranormal. Korban memang dikenal warga sekitar sebagai ustaz setelah menjadi ketua majelis taklim.

"Jadi saya tekankan di sini bahwa korban adalah paranormal. Peristiwa pembunuhan ini tidak terkait predikatnya dalam kapasitas ustaz, karena memang bukan ustaz. Jadi ustaz, dipanggil ustaz oleh lingkungan sekitarnya, adalah ketika dia menjadi ketua majelis taklim saja," kata Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Selasa (28/9/2021).

Kepastian mengenai latar belakang korban ini didapat polisi dari keterangan saksi. Selain itu, polisi menemukan barang bukti di rumah korban.

"Dia tidak mengajarkan ngaji, tidak mengajarkan ilmu agama, tidak mengajarkan ini. Latar belakang ini menjadi sangat penting bagi arah penyelidikan selanjutnya. Kalau memang ternyata kita pastikan bahwa yang bersangkutan adalah paranormal. Dari para saksi yang sudah diperiksa satu yang pernah berobat di sana. Yang kedua dari barang bukti yang ditemukan di rumah korban. Apa saja itu? Daftar buku tamu dengan berbagai macam keperluannya. Artinya, si orang ini melayani itu," ujar Tubagus.

(mea/mea)

Diterbitkan di Berita
Jeka Kampai - detikNews Padang - Polisi menangkap seorang guru SMP Islam terpadu di Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar). Guru yang sekaligus juga Ketua Yayasan sekolah tersebut ditangkap karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap murid laki-laki.

Kasat Reskrim Polres Padang Panjang Iptu Ferly P Marasin menyebutkan guru yang ditangkap tersebut berinisial MS alias Ustaz S (33). Dia diduga adalah penyuka sesama jenis atau gay karena melecehkan murid laki-laki berusia 14 tahun.

"Iya. Kita dapat laporan dari korban. Tersangka juga sudah kita amankan," kata Ferly saat dimintai konfirmasi, Senin (14/6/2021).

 Dia mengatakan korban membuat laporan pada 25 Mei 2021. Penangkapan dilakukan pada Kamis (10/6).

"Kita terima laporan pada 25 Mei. Lalu tersangka kita tangkap 10 Juni dan ditahan pada 11 Juni beserta barang bukti," ujar Ferly.

Pelecehan diduga telah terjadi beberapa kali. Dalam laporan korban kepada polisi, ada tiga kali peristiwa bejat yang dialami korban pada 26 Desember 2020, 6 Januari dan 21 Januari 2021.

Peristiwa diduga terjadi di sekolah SMP Islam terpadu di Padang Panjang. Sebelum melakukan pelecehan, tersangka yang diduga gay sempat meminta korban mengirimkan video rekaman alat kelamin tapi ditolak korban.

Setelah itu, korban diduga diminta datang ke asrama dan terjadi pelecehan. Polisi menjerat tersangka dengan sejumlah pasal terkait perlindungan anak.

(haf/haf)

Diterbitkan di Berita

Elshinta.com - Gubernur Riau Syamsuar meminta Majelis Ulama Indonesia berperan untuk mengajak pendakwah atau ustadz tidak menimbulkan prasangka di tengah masyarakat, setelah dirinya mendapat laporan ada da'i yang berceramah di dekat kediamannya menyebut pandemi COVID-19 merupakan rekayasa bangsa Yahudi Israel. 

"Saya mendapatkan laporan di sebuah masjid Pekanbaru masih ada ustadz-ustadz yang ceramahnya menyampaikan COVID-19 adalah rekayasa dan kerjaan Yahudi, Israel. Padahal di Israel juga ada dan banyak kasus COVID-19," kata Syamsuar kepada wartawan di Pekanbaru, Senin.

Syamsuar berharap isi ceramah bukan merupakan provokasi dan mengenai penanganan pandemi namun diharapkan berisi ajakan masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan. Penerapan protokol kesehatan sangat penting di tempat umum bahkan juga di tempat ibadah.

Ia khawatir apabila ada warga yang percaya begitu saja isi ceramah yang menyebut COVID-19 adalah rekayasa. "Itu ceramah yang tidak benar sehingga masyarakat menilai COVID-19 sudah hilang," sesal Syamsuar.

Syamsuar mengatakan Pemprov Riau akan menggandeng MUI Riau untuk menyosialisasikan penerapan prokes di tempat-tempat ibadah. 

"Saya sudah sampai kepada ketua MUI Riau agar menyampaikan kepada para ustadz, saat menyampaikan ceramah di masjid atau mushala hendaknya diselipkan ajakan untuk mematuhi protokol kesehatan untuk pencegahan COVID-19," katanya.

Dari laporan diterimanya, Syamsuar mengatakan saat ini masih ada masjid-masjid yang tidak menerapkan protokol kesehatan saat pelaksanaan ibadah selama bulan Ramadhan. Hal tersebut tentunya berbahaya dan bisa menjadi penyebab penularan COVID-19.

"Saya dapat kabar masih ada masjid yang tidak melakukan protokol kesehatan, untuk itu para ustadz atau ulama hendaknya dapat mengingatkan hal tersebut," ujarnya. 

Diterbitkan di Berita

SuaraSumbar.idTim Densus 88 Anti Teror menggeledah satu rumah dugaan pergerakan terorisme di Bukittinggi, Sumbar pada Jumat (19/3/2021).

Pantauan Covesia.com---jaringan Suara.com, pada Sabtu (20/3/2021) di lokasi, terlihat rumah tersebut sudah diberi garis polisi.

Selain itu, di lokasi juga terlihat spanduk yayasan amal yang dibentang di depan rumah dengan latar belakang foto Ustaz Abdul Somad (UAS). Yayasan tersebut adalan Yayasan Amal Syam Organizer. 

Dalam penggeledahan yang dilakukan, Tim Densus 88 menyita uang dan kotak-kotak amal.

Yayasan amal Syam Organizer diketahui melatarbelakangi spanduk yang terpasang di salah satu rumah dugaan terorisme di Bukittinggi.

Berdasarkan penelusuran Covesia.com, melalui situs yayasan amal tersebut, Syam Organizer berdiri pada tahun 2013, berawal dari sebuah event organizer yang mengadakan roadshow tabligh akbar untuk mengkabarkan kondisi umat Islam yang sedang terzolimi di seluruh belahan dunia.

Kemudian berkembang menjadi satu lembaga kemanusiaan internasional yang fokus membantu korban bencana kemanusiaan di Negeri Syam.

Untuk di Indonesia, Syam Organizer sendiri sudah tersebar di 21 cabang di Indonesia termasuk Kota Padang, Sumbar.

Dalam situsnya, yayasan amal ini memiliki kantor pusat di jalan Suryodiningratan, kecamatan Mantrijero, Yogyakarta- DIY dan telah mendapatkan predikat audit WTP 2019.

Sejak berdiri, Syam Organizer telah memiliki berbagai program seperti save the children of sham, emergency relief, qurban peduli syam, water for sham, winter aid project syam organizer, ramadhan peduli syam, sham bread factory dab sham productive assistance.

Guna mengkonfirmasi kebenaran apakah ada hubungan cabang yayasan tersebut di Bukittinggi atau tidak, Covesia sudah berusaha menghubungi nomor kontak yang ada di website syamorganizer.org pada Sabtu petang. Namun, nomor kontak handphone tidak dapat dihubungi dengan balsan operator provider “…mohon periksa kembali nomor tujuan Anda.”

Sementara, ketika mencoba menghubungi nomor kontak kantor yayasan, terdengar perintah, “…nomor tujuan Anda sendang sibuk, cobalah beberapa menit lagi.”

Diterbitkan di Berita

Tangerang, Beritasatu.com - Seorang pria yang diketahui berprofesi sebagai ustaz bernama Fuad Junaidi ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Penangkapan pria yang diduga terkait aktivitas radikal itu dilakukan di kediamannya di Perumahan Pondok Makmur, Kelurahan Gebang Raya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Sabtu (20/3/2021) sekitar pukul 04.30 WIB pagi.

Hal tersebut dibenarkan Kasubag Humas Polres Metro Tangerang Kota, Kompol Abdul Rachim saat dihubungi tim Beritasatu.com, Minggu (21/3/2021).

"Ya benar (FJ ditangkap) oleh Densus 88 dari Mabes Polri. Yang menangani langsung dari Mabes Polri, jadi tidak ada kewenangan dari kami untuk memberikan informasi. Yang bersangkutan langsung dibawa ke Mabes Polri," kata Abdul Rachim.

Senada dengan Abdul Rachim, Lurah Gebang Raya, Nasih menyatakan penangkapan yang dilakukan Densus 88 terhadap warganya tersebut lantaran diduga pelaku tindak pidana terorisme.

 

"Ya berdasarkan informasi dari pihak RT/RW di tempat kediaman yang bersangkutan. Yang bersangkutan ditangkap kemarin pagi dan sekitar pukul 07.00 WIB pagi dibawa oleh tim Densus. Yang dibawa hanya suaminya saja FJ, sementara istri dan lima anaknya tidak ikut dibawa. Informasinya ada sekitar 30 anggota Densus yang melakukan penangkapan tersebut dipimpin Komisaris Zakaria dari Mabes Polri yang didampingi Kepala Polsek Jatiuwung Komisaris Dimas Aditya," ujar Nasih.

Berdasarkan penulusuran di lapangan, Fuad Junaidi selama ini dikenal sebagai pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitul Makmur. Selain itu, Fuad juga dikenal sebagai pendakwah.

 

"Sepengetahuan saya beliau orangnya baik dan terbuka juga dengan masyarakat. Selain itu beliau juga pengurus masjid sebagai biro dakwah dan dakwahnya juga bagus, enggak menyinggung masalah politik. Warga sini kaget beliau ditangkap atas dugaan tergabung dalam kelompok teroris," tutur seorang warga yang tinggal di dekat rumah Fuad yang meminta namanya tidak disebut.

Dari penangkapan tersebut, Densus membawa beberapa barang, seperti sejumlah buku, laptop, busur dan anak panah, hard disk dan ponsel. Aparat tidak menemukan senjata tajam, amunisi, peledak, atau senjata api.

Diterbitkan di Berita

Pebriansyah Ariefana SuaraBanten.idSeorang ustadz tak dikenal umumkan Abu Janda buzzer bertugas hancurkan Islam di Indonesia. Selain Abu Janda disebut juga Denny Siregar dan Ade Armando.

Hal iu diumumkan dalam video seorang pendakwah menyebut pemerintah sengaja membentuk buzzer dengan tujuan untuk menghancurkan Islam. Video tersebut diunggah oleh akun Twitter pegiat media sosial Denny Siregar @dennysiregar7.

Dalam video berdurasi 40 detik yang diunggah tersebut tampak seorang pendakwah sedang menyampaikan materi ceramah di atas mimbar.

Belum diketahui siapa sosok pendakwah yang membahas mengenai buzzer dengan misi menghancurkan Islam itu.

"Selamat pagi wahai para kadrun yang sibuk memelihara jenggot tapi jarang menggunakan akal. Sehat-sehat selalu ya, enggak ada kalian kurang ramai dunia permedsosan," tulis Denny seperti dikutip Suara.com, Sabtu (13/3/2021).

Dalam ceramahnya, ia menuding pemerintah Indonesia sengaja membentuk buzzer untuk memperkuat sekulerisasi di Nusantara. "Pemerintah sekarang untuk memperkuat sekulerisasi di Indonesia yaitu mendirikan kelompok buzzer," kata si pendakwah.

Pria itu menyebutkan beberapa nama buzzer yang disebutnya mendapatkan gaji langsung dari pemerintah melalui APBN. Tak tanggung, bayaran yang diberikan kepada buzzer oleh pemerintah disebutnya mencapai Rp 74 miliar.
 
"Ade Armando, Abu Janda, Denny Siregar dan lain-lain digaji langsung dari pemerintah ambil dari APBN. Berapa gajinya buzzer? Rp 74 miliar," ungkapnya. Pendakwah itu membeberkan tugas utama para buzzer bentukan pemerintah. Ia meyakini buzzer dibentuk untuk menghancurkan Islam.
Diterbitkan di Berita