Elshinta.com - Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr. Reisa Broto Asmoro mengatakan cakupan vaksinasi COVID-19 Indonesia dengan dosis pertama hingga saat ini setara hampir tiga kali populasi Malaysia.

"Angka ini sama dengan hampir kita sudah memvaksinasi hampir seluruh populasi Vietnam bahkan kalau diibaratkan kita sudah memvaksinasi hampir tiga kali populasi Malaysia," kata Reisa dalam Siaran Pers PPKM virtual di Jakarta, Rabu.

Penerima vaksin dosis pertama di Indonesia hingga Rabu (29/9) mencapai 89.822.987 orang. Pencapaian tersebut merupakan kerja sama semua pihak untuk mempercepat cakupan vaksinasi di Tanah Air dan mewujudkan kekebalan kelompok di tengah masyarakat Indonesia.

"Tentu ini bukan capaian yang kecil bagi upaya gotong royong lebih dari 100.000 vaksinator, ratusan ribu relawan, mahasiswa aparatur sipil negara, dan anggota TNI dan Polri yang tak kenal lelah mengelola sentra vaksinasi di seluruh penjuru Indonesia," ujar Reisa.

Sementara, capaian vaksin COVID-19 dosis lengkap atau dua kali suntikan sudah mencapai 50.412.993 warga di Indonesia. Capaian itu sama dengan vaksinasi hampir seluruh populasi Singapura dengan 10 kali putaran.

"Kita lakukan semuanya dalam kurun waktu sembilan bulan dari pertengahan Januari tahun ini sampai dengan sekarang dan tentunya tidak akan berhenti sampai di sini," tutur Reisa.

Pemerintah Indonesia terus mengupayakan vaksinasi COVID-19 merata dan setara bagi masyarakat termasuk para lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas dan anak-anak. Itu ditujukan untuk mewujudkan perlindungan yang merata bagi semua anak bangsa.

Di samping itu, Reisa menuturkan pemerintah Indonesia sudah mempersiapkan semua kemungkinan untuk menghadapi dan mewaspadai kemungkinan gelombang kejadian COVID-19 terutama di akhir tahun 2021.

Namun, apabila cakupan vaksinasi COVID-19 bisa diperluas jauh lebih cepat dari mutasi virus atau datangnya varian baru, dan protokol kesehatan masyarakat Indonesia jauh lebih kuat, maka momentum melemahnya virus dan turunnya status pandemi menjadi endemi akan dapat dihadapi dengan penuh kesiapsiagaan dan resiliensi yang tinggi dengan berbekal semangat gotong royong yang tetap kuat.

"Karena kita sudah pernah melalui semuanya dan kita bisa. Insya Allah kondisi baik ini akan dapat kita pertahankan tentunya dengan segala kewaspadaan untuk Indonesia," ujar Reisa.

Diterbitkan di Berita

KABAR BANTEN - Varian Mu merupakan salah satu varian baru yang ditetapkan oleh WHO sebagai Varian of Interest atau varian yang menarik. Varian Mu atau nama lainnya yakni Varian B. 1.621 ini terdaftar dalam Who sebagai Varian of Interest pada 30 Agustus 2021 lalu.

Varian Mu yang ditetapkan sebagai Variantt of Interest ini, pertama kali diidentifikasi dan ditemukan di Kolombia pada Januari 2021. Menurut WHO, sejak saat itulah akhirnya varian merebak ke beberapa negara diseluruh dunia termasuk di Amerika Serikat, Inggris, Eropa, AS, dan Hongkok.

Bahkan, berdasarkan infografis yang dibagikan pada laman instagram @drjeffaloys bahwa varian Mu ini sudah sampai ke Malaysia. Tentu, Indonesia harus mulai waspada dan terus protect dalam menjaga diri, terutama tetap disiplin dalam menerapkan prokes.

Apalagi, dalam buletin mingguan WHO dijelaskan bahwa sebagai Variant of Interest, varian Mu ini memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk dapat lolos dari kekebalan.

Bahkan, varian Mu ini didefinisikan sebagai varian yang memiliki perubahan genetik yang diprediksi dapat mempengaruhi karakteristik virus tertentu. Termasuk, keparahan penyakit, pelepasan imun, pelepasan diagnostik atau terapeutik, dan penularan.

Melihat kondisi tersebut, lalu bagaimana caranya untuk dapat melindungi diri dari paparan Covid-19 terkhusus varian Mu?

Dilansir kabarbanten.pikiran-rakyat.com dari Health.com, menurut dokter penyakit menular, Richard Watkins, MD, mengungkapkan bahwa cara terbaik untuk melindungi diri dari varian Mu pada dasarnya sama.

Artinya, layaknya bagaimana melindungi diri dari berbagi varian Covid-19 termasuk varian Mu maka itulah yang diterapkan.

Lebih lanjut, Richard Watkins, MD yang juga merupakan profesor penyakit dalam di Northeast Ohio Medical University menjelaskan bahwa dengan mengikuti vaksinasi yang sesuai dengan pedoman suntikan booster, maka hal tersebut cukup efektif.

Kemudian, Richard Watkins, MD juga mengingatkan penting kiranya sering mencuci tangan dan memakai masker terutama di area dalam ruangan dengan tingkat penyebaran Covid-19 baik sedang maupun tinggi. 

Terakhir, agar mengurangi risiko terpapar Covid-19, termasuk varian Mu, maka upayakan untuk menghindar dari keramaian. Demikian penjelasan mengenai bahayanya varian Mu dan cara terbaik untuk melindungi diri sendiri.*** 

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Malaysia, Ismail Sabri Yaakob, menganggap penutupan wilayah (lockdown) tak lagi tepat. Ia berencana melonggarkan pembatasan selama pandemi Covid-19 dengan membuka belasan sektor ekonomi demi pemulihan finansial negara.

Padahal, lonjakan infeksi Covid-19 Malaysia masih terbilang tinggi. Total kasus Covid-19 di Negeri Jiran mencapai 2 juta lebih pada Selasa (14/9). 

"Pembukaan kembali 11 sektor ekonomi di negara bagian di bawah Fase 1 dari rencana Pemulihan Nasional (NRP) adalah hal tepat, karena tingkat vaksinasi yang tinggi di negara bagian," ucap Ismail Sabri seperti dikutip The Star, Rabu (14/9).

Pemerintah, kata Ismail Sabri, telah mengambil keputusan usai mempertimbangkan data dari penilaian risiko yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perdagangan, dan Konsumen dalam Negeri.

Ismail Sabri mengatakan relaksasi lockdown dilakukan karena khawatir kebijakan penutupan itu hanya akan memberi dampak negatif, termasuk terhadap kesehatan mental warga Malaysia.

Ia menuturkan pencabutan lockdown tak hanya akan mempercepat pemulihan ekonomi, tapi juga memberikan kesepatan waga meningkatkan kesejahteraan hidup.

Ismail Sabri mengatakan berbagai sektor perekonomian akan dibuka kembali secara bertahap dengan aturan protokol kesehatan yang ketat. Salah satunya adalah hanya mengizinkan konsumen dan pekerja yang sudah divaksinasi secara penuh.

Ismail Sabri mengatakan 74 persen populasi penduduk dewasa Malaysia telah rampung divaksinasi, sementara itu sekitar 91,6 persen setidaknya telah menerima dosis pertama vaksin Covid-19.

Saat ditanya apakah keputusan tersebut juga mempertimbangkan risiko infeksi Covid untuk populasi yang tidak divaksin seperti anak usia 17 tahun ke bawah, Ismail Sabri hanya mengatakan tanggung jawab ada pada semua orang untuk menjaga kedisiplinan protokol kesehatan demi melindungi keluarga dan orang sekitar risiko infeksi virus corona.

"Masa depan negara kita berkaitan dengan covid-19, bergantung dengan kita," kata Ismail Sabri seperti dikutip The Straits Times. "Kita tak bisa bergantung pada vaksin saja. Pengendalian diri sangat penting atau semua usaha kita akan sia-sia," paparnya menambahkan.

Beberapa pihak menyangsikan pelonggaran yang dilakukan pemerintah, mengingat angka kematian harian Covid-19 di Malaysia juga masih di angka ratusan per hari. Namun Ismail Sabri mengatakan keputusan itu dilakukan berdasarkan sains dan data.

(isa/rds/bac)

 

Diterbitkan di Berita

INDOZONE.IDMenteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ekonomi di Indonesia telah rebound atau membaik daripada tahun lalu dan membandingkannya dengan Singapura serta Malaysia yang belum memiliki nasib serupa.

Pandemi yang terjadi di hampir seluruh negara membuat seluruh ekonominya jatuh, termasuk dengan Indonesia. Pada kuartal II 2020, ekonomi RI minus 5,32 persen atau hanya di posisi Rp2.500 triliun. Nilai ini jadi yang terparah sejak pemerintahan Presiden Habibie. 

Namun dengan perlahan ekonomi Indonesia mulai bangkit. Pada kuartal II 2021, ekonomi RI naik sampai 7,07 persen atau naik ke posisi 2.773 secara tahunan. Tapi tak semua negara punya perbaikan seperti Indonesia.

"Apakah dengan adanya kontraksi ekonomi menjamin rebound? Ternyata tidak. Lihat Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. GDP (produk domestik bruto) mereka di kuartal II 2021 belum bisa melewati kondisi sebelum COVID-19," kata Sri Mulyani, dikutip pada Rabu (1/9).

Menurutnya, keberhasilan ini membalikkan keadaan lantaran APBN bekerja sangat teratur. Alokasi yang semula dirancang hanya Rp400 triliun, kini ditambah jadi Rp774 triliun. 

"Ekonomi semester I ini kita sudah melewati fase resesi. Dan kedepannya ditentukan oleh kemampuan kita kendalikan COVID-19. Varian baru bisa berpotensi disrupsi, karena itu seluruh kebijakan harus adaptif dan fleksibel tapi harus ada arahan yang jelas untuk melindungi masyarakat," pungkas Sri Mulyani.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Malaysia menjadi salah satu negara yang terdampak sangat parah oleh pandemi Covid-19. Bahkan, dalam rasio perbandingan kasus positif per populasi, Negeri Jiran itu merupakan salah satu yang terburuk di dunia.

Mengutip CNBC International, dari data yang dihimpun Our World In Data pada basis rata-rata pergerakan tujuh hari, Malaysia mencatat 483,72 infeksi Covid yang dikonfirmasi per satu juta orang pada hari Rabu (28/7/2021).

Ini merupakan rasio tertinggi kedelapan secara global dan teratas di Asia. Bahkan, ini masih lebih tinggi dari Indonesia yang mencatatkan 152,8 infeksi Covid per satu juta orang.

Dari segi kematian, kasus kematian dalam basis sepekan menunjukkan bahwa negara yang berbentuk persekutuan itu melaporkan sekitar 4,90 per satu juta populasi kematian terkait Covid-19.

Itu merupakan yang tertinggi ke-19 secara global. Selain itu, angka ini merupakan yang tertinggi ketiga di Asia setelah Myanmar dengan rasio 6,29 dan Indonesia dengan rasio 5,79.

Beberapa analis menilai bahwa tingginya kasus Covid ini disebabkan oleh respon penanganan wabah yang kurang baik dan tanggap. Meski sudah lockdown berkali-kali, dinamika politik yang menjadi sebuah momok bagi penanganan pandemi.

"Respons Malaysia terhambat oleh pemerintahan yang kacau dan pertikaian politik yang terus-menerus," ujar Joshua Kurlantzick, peneliti Asia Tenggara di lembaga think tank Council on Foreign Relations.

Malaysia sendiri memang sedang dalam konflik politik internal yang tajam. Banyak pihak yang mengecam dan meminta Perdana Menteri (PM) Muhyiddin Yassin untuk mundur akibat manuvernya yang meminta keadaan darurat nasional dilakukan dan pembatasan pergerakan publik secara sepihak.

Bahkan, langkah ini membuat pihak partai koalisi pendukungnya saat ini semakin menipis. Terakhir kontroversi juga muncul saat salah satu menteri menyebut status darurat akan dicabur meski Raja Malaysia menyebut tak ada pembicaraan soal itu.

Terlepas dari pergumulan politik, pihak berwenang Malaysia telah mempercepat laju vaksinasi dalam beberapa pekan terakhir. Lebih dari 18% dari 32 juta penduduk negara itu telah divaksinasi penuh.

Pemerintah Malaysia mengatakan pihaknya bertujuan untuk menginokulasi sebagian besar populasi orang dewasa pada akhir tahun. Malaysia menargetkan pelonggaran bisa segera dilakukan Oktober nanti.

Hingga saat ini, Malaysia mencatatkan sekitar 1,06 juta kasus Covid-19 dengan 8.551 kematian sejak pandemi melanda. Kemarin dan lusa kasus baru berada di kisaran 17.000 pasien

(sef/sef)

Diterbitkan di Berita

Anadolu Agency JAKARTA Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud mengarahkan Pusat Bantuan Kemanusiaan Raja Salman (KSrelief) untuk mengirim bantuan kepada Malaysia dalam rangka penanganan Covid-19.

Raja Salman memberikan arahan tersebut menanggapi permintaan dari Menteri Luar Negeri Malaysia Hishammuddin Hussein saat berkomunikasi dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Supervisor General di KSrelief Abdullah bin Abdulaziz Al Rabeeah mengungkapkan bantuan itu terdiri dari 1 juta dosis vaksin Covid-19, alat kesehatan, dan kebutuhan medis lainnya.

Berdasarkan pemberitaan media Saudi Press Agency, Abdullah mengatakan arahan kerjaan tersebut merupakan penegasan peran kemanusiaan oleh Arab Saudi terhadap negara-negara yang paling terdampak pandemi.

Malaysia tengah mengalami peningkatan kasus Covid-19 akibat merebaknya varian Delta ke seluruh negeri. Pada Senin hari ini, Malaysia melaporkan 14.516 kasus baru Covid-19 sehingga totalnya menjadi 1.027.954 orang.

Jumlah kasus baru pada Senin hari ini menurun dibanding data pada Minggu ketika Malaysia mencatat 17.045 pasien baru dan menjadikannya kasus harian Covid-19 tertinggi.

Malaysia menerapkan lockdown atau karantina secara nasional mulai 12 Mei dan baru akan mencabutnya jika jumlah kasus di bawah 4.000 per hari.

Diterbitkan di Berita
Novi Christiastuti - detikNews Kuala Lumpur - Malaysia baru saja mencetak rekor tertinggi untuk kematian harian akibat virus Corona (COVID-19). Negara ini melaporkan nyaris 200 kematian dalam sehari, yang menandai hari terkelam sejak pandemi Corona merebak awal tahun lalu.

Seperti dilansir Channel News Asia, Kamis (22/7/2021), Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan sedikitnya 199 kematian akibat Corona dalam 24 jam terakhir di wilayahnya.

Dengan tambahan itu, maka total 7.440 kematian akibat Corona kini tercatat di Malaysia. Kementerian Kesehatan Malaysia juga melaporkan tambahan 11.985 kasus Corona dalam sehari. Ini berarti sudah sembilan hari berturut-turut Malaysia mencatat tambahan kasus harian Corona di atas 10.700 kasus setiap harinya.

Lebih dari separuh tambahan kasus terbaru di Malaysia berasal dari wilayah Klang Valley, dengan 5.550 kasus terdeteksi di Selangor dan 1.174 kasus terdeteksi di ibu kota Kuala Lumpur. Wilayah Negeri Sembilan melaporkan 745 kasus, sedangkan wilayah Kedah dan Johor melaporkan masing-masing 800 kasus dan 644 kasus.

Lonjakan kasus itu menjadikan total kasus Corona di Malaysia saat ini mencapai 951.884 kasus. Dari total kasus tersebut, sebanyak 137.587 kasus di antaranya masih merupakan kasus aktif dan sebanyak 806.857 kasus Corona lainnya berujung kesembuhan. 

Disebutkan juga oleh Kementerian Kesehatan Malaysia bahwa negara ini masih menangani 927 pasien Corona yang dirawat di unit perawatan intensif, dengan 459 pasien di antaranya membutuhkan bantuan alat pernapasan.

Diketahui bahwa Malaysia memasuki lockdown nasional ketiga sejak 1 Juni lalu, setelah melaporkan lebih dari 9.000 kasus dalam sehari. Jumlah kasus harian terus bertambah hingga akhirnya mencapai lima digit angka untuk pertama kalinya pada 13 Juli lalu.

Situasi ini mendorong warga Malaysia untuk meluapkan ketidaksenangan mereka terhadap pemimpin dan pemerintahan di negaranya melalui tagar berbunyi #KerajaanGagal via media sosial.

(nvc/ita)
Diterbitkan di Berita

inharmonia.co - Sebuah cuitan di twitter memberitakan kejadian penangkapan sejumlah PMI (Pekerja Migran Indonesia) oleh Polisi Diraja Malaysia karena melanggar peraturan lockdown.

 

https://twitter.com/tukangrosok___/status/1417549180248068099

 

Harian Metro Malaysia memberitakan ada 31 orang warga negara asing dan seorang wanita penduduk setempat mengadakan acara makan-makan merayakan Idul Adha di sebuah rumah di Taman Selayang Utama, Batu Caves pada 20 Juli 2021.

Polisi Daerah Gombak yang menerima laporan masyarakat mengatakan ada sejumlah pihak mengadakan jamuan itu pada 10 pagi. Polisi kemudian bertindak menangkap mereka untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Hasil pemeriksaan yang dijalankan mendapati sebanyak 31 orang di dalam rumah mengadakan jamuan makan dalam rangka Idul Adha", kata Zainal Mohamed Mohamed, kepala Polisi Daerah Gombak.

"Mereka terdiri 29 laki-laki dan seorang wanita warga negara asing serta wanita penduduk setempat, semua berusia antara 20 tahun hingga 40 tahun," katanya dalam pernyataan malam ini.

Zainal berkata, dari 30 warga asing ini sebanyak empat orang mempunyai dokumen perjalanan yang sah dan enam memiliki Pas Lawatan Kerja Sementara (PLKS) yang kadaluarsa. "Sebanyak 20 orang lagi tidak memiliki dokumen perjalanan apapun yang sah", katanya.

"Mereka didapati melakukan kesalahan tidak mematuhi SOP dengan berkumpul dan tidak menjalankan penjagaan jarak sosial, memiliki PLKS yang kadaluarsa, dan tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah," katanya.

"Kesemua warga asing yang ditangkap itu akan dibawa ke Mahkamah Majistret Selayang besok untuk permohonan tahanan reman," katanya.

Katanya pula, wanita penduduk setempat yang turut berada di rumah itu dikenakan denda sebanyak RM4,000 mengikut Peraturan 16, Peraturan-Peraturan Pencegahan dan Pengawalan Penyakit Berjangkit, (PPN) 2021.

Sumber: Harian Metro

Diterbitkan di Berita
Syahidah Izzata Sabiila - detikNews Jakarta - Malaysia mencatatkan rekor kematian harian baru COVID-19. Tercatat kematian harian mencapai 138 kasus pada Sabtu (17/7), sehingga mencatatkan total kumulatif 6.866 kasus kematian COVID-19 sejak awal pandemi.

Seperti dilansir The Star dan Bernama, Minggu (18/7/2021) Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah menyebut dari total 138 kasus kematian, 128 diantaranya dialami warga negara Malaysia. Sedangkan 10 kasus lainnya dialami warga negara asing (WNA).

Sementara itu, kasus harian COVID-19 dilaporkan mencapai 12.528, dimana 12.509 adalah transmisi lokal, sementara 19 lainnya kasus impor.

"Saat ini ada 119.814 kasus aktif, sedangkan total pasien Covid-19 yang dirawat di ICU sebanyak 908 orang dengan 425 orang di antaranya mengalami masalah pernapasan," katanya.

Untuk kesembuhan, total 6.629 orang sembuh, sehingga total kasus sembuh menjadi 779.171 sejauh ini.

Lebih dari 98% kasus harian baru COVID-19 pada Sabtu (17/7) tidak menunjukkan gejala, atau hanya memiliki gejala ringan. Lebih dari separuh kasus baru (6.840) atau 54,6% diklasifikasikan sebagai Kategori 1 (tanpa gejala), dan 5.468 kasus (43,6%) dalam Kategori 2 (gejala ringan).

Sebanyak 112 kasus atau 0,9% tergolong Kategori 3 (mengalami radang paru-paru), dan 44 kasus (0,4%) masuk Kategori 4, artinya mengalami radang paru-paru dan membutuhkan oksigen. Sebanyak 64 kasus, atau 0,5% berada di Kategori 5, yang berarti mereka adalah kasus kritis yang membutuhkan ventilator.

Berikut Data Kasus Kematian Harian COVID-19 Malaysia pada Sabtu (17/7) yang disampaikan Dr Noor Hisham Abdullah:
1. 46 kematian di Selangor
2. 20 kematian di Negeri Sembilan
3. 16 kematian di Kuala Lumpur
4. 16 kematian di Johor
5. 12 kematian di Pahang
6. 11 kematian di Melaka
7. 7 kematian di Kedah
8. 4 kematian di Perak
9. 3 kematian di Penang
10. 2 kematian di Terengganu
11. 1 kematian di Sabah

Warga Malaysia Diminta Tak Picu Klaster Baru Jelang Idul Adha

Dr Noor Hisham Abdullah, memperingatkan warga Malaysia agar tidak memicu klaster baru dengan saling berkunjung atau bepergian ke luar batas negara di masa perayaan Hari Raya Idul Fitri. Menurutnya, banyak klaster COVID-19 yang muncul karena perilaku lalai selama perayaan serupa sebelumnya.

"Kementerian Kesehatan menghimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai dan tidak mengulangi sikap yang tidak bertanggung jawab, terutama saat perayaan Hari Raya Idul Adha yang akan jatuh pada Selasa (20 Juli). Masyarakat diingatkan bahwa larangan perjalanan lintas kabupaten dan antar negara bagian masih berlaku. Begitu juga larangan kunjungan untuk merayakan Idul Adha. Jangan sampai kemeriahan merayakan Hari Raya Aidiladha membuat kita semua 'dikorbankan' untuk COVID-19," ujarnya dalam keterangan tertulis.

(izt/dhn)

 

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Menteri Sains Malaysia Khairy Jamaluddin, Jumat (16/7), mengatakan negaranya akan segera mengizinkan penjualan vaksin COVID-19 Sinopharm dan Sinovac secara komersial.

Hal tersebut diputuskan ketika pemerintah mencoba meningkatkan program vaksinasi di tengah kasus COVID-19 yang melonjak.

Malaysia memiliki salah satu dari jumlah infeksi virus corona per kapita tertinggi di Asia Tenggara, tetapi juga sekaligus menjadi salah satu negara dengan tingkat vaksinasi tercepat.

Reuters mengutip Khairy, melaporkan vaksin Sinopharm - yang disetujui Malaysia pada hari Jumat (16/7) untuk penggunaan darurat- akan segera dijual untuk pembelian pribadi.

Sementara itu, vaksin Sinovac akan tersedia untuk umum mulai 1 Agustus, setelah pemerintah menerima pengiriman sekitar 15 juta dosis, katanya.

Malaysia pada hari Jumat (16/7) melaporkan 12.541 kasus virus corona baru, sehingga total infeksi menjadi 893.323, termasuk 6.728 kematian.

 

Seorang perawat memberikan vaksin COVID-19 kepada seorang wanita tua di rumahnya di pedesaan Sabab Bernam, negara bagian Selangor tengah, Malaysia, Selasa, 13 Juli 2021. (Foto: AP)
 

 

Malaysia sebelumnya mengatakan akan berhenti memberikan vaksin Sinovac setelah stoknya habis, dan sebaliknya akan sangat bergantung pada vaksin Pfizer untuk program vaksinasi nasionalnya.

Pada hari Jumat (16/7), Khairy mengklarifikasi bahwa kelebihan vaksin Sinovac akan tetap tersedia bagi mereka yang mungkin memiliki masalah alergi dengan vaksin lain.

"Tidak ada masalah atas kemanjuran Sinovac," katanya.

Malaysia juga akan mempertimbangkan untuk membeli lebih banyak dosis dari Sinovac jika terjadi kekurangan vaksin AstraZeneca dari negara tetangga Thailand, kata Khairy. [ah]

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2