Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Kesehatan meminta pemerintah, terutama Kementerian Keuangan agar menaikkan gaji dua kali lipat untuk para tenaga kesehatan yang bertugas di daerah-daerah terpencil.

Daerah ini sering disebut juga dengan 3T yakni Terdepan, Terpencil dan Tertinggal. Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes Abdul Kadir, berharap Kementerian dalam Negeri, Kementerian Pendayaan Aparatur Negara dan Kementerian Keuangan bisa mempertimbangkan hal tersebut.

"Untuk itu kami meminta kepada mereka yang bertugas di daerah pedalaman mungkin kalau di sini ada Mendagri dan mudah-mudahan ada juga MenPAN, dan mudah-mudahan Kementerian Keuangan, memberikan penghasilan yang lebih daripada saudara-saudara kita yang bekerja di kota-kota besar," ujar Kadir, dalam pernyataan sikap Asosiasi Puskesmas se-Indonesia secara virtual, Sabtu (25/9).

Kadir menuturkan nakes yang berada di kawasan terpencil dapat diberikan gaji dua kali lipat sebagai bentuk penghargaan terhadap mereka. Ia tak bisa membayangkan bagaimana para dokter dan tenaga kesehatan berjuang naik perahu atau kapal kecil untuk bisa ke Puskesmas tujuan.

Khususnya, kata dia, ke Puskesmas di Kiwirok, Papua yang jika ditempuh dengan jalan kaki dari distrik bisa menghabiskan waktu selama dua hari. Kadir juga menyatakan keprihatinannya dan mengecam atas serangan yang dilakukan KKB tersebut.

Ia lalu mendorong para pihak terkait agar memberikan keselamatan dan keamanan kepada para tenaga kesehatan khususnya yang bertugas di daerah-daerah termasuk di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Sebelumnya, terjadi serangan dan pembakaran di Puskesmas di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang oleh KKB pada Senin (13/9) lalu. Sebanyak dua nakes dikabarkan hilang, usai dilakukan pencarian, aparat menemukan dua nakes di jurang.

Satu nakes dinyatakan meninggal dunia yakni Gabriella Meilan, sementara yang satu lagi, Kristina Sampe ditemukan dalam keadaan hidup. 

Realisasi Insentif Nakes 

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan realisasi insentif tenaga kesehatan (nakes) cair Rp10,6 triliun ke 1,29 juta orang per akhir Agustus 2021. Jika dirinci, penyaluran insentif nakes pusat mencapai Rp6,5 triliun ke 941,4 ribu orang dan daerah Rp4,1 triliun ke 357 ribu orang.

"Kami monitor terus, terutama di daerah-daerah di mana kemarin realisasi (insentif) nakes agak terlambat. Kami coba dorong terus bersama Kementerian Dalam Negeri," ujar Ani, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers APBN KiTa edisi September 2021, Kamis (24/9).

(isa/asa)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Gatra.com - Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) Setiaji mengatakan Kemenkes RI akan meluncurkan fitur baru dalam PeduliLindungi.

Nantinya, para Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA) yang memperoleh vaksin COVID-19 di luar negeri dapat memiliki Kartu Verifikasi Vaksinasi Non Indonesia (VNI).

"Nah tentunya ini dalam rangka memudahkan verifikasi bagi Warga Negara Indonesia maupun juga WNA yang sudah mendapat vaksinasi di luar negeri," ucapnya, via Zoom dalam keterangan pers secara virtual terkait dengan "Launching Feature Baru PeduliLindungi untuk Pemegang Kartu Vaksin Luar Negeri", yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kementerian Kesehatan RI pada Selasa, (14/9).

Setiaji mengatakan ada beberapa hal yang harus dipersiapkan atau terdapat alur bagi WNI dan WNA untuk mendapatkan Kartu Verifikasi VNI.

Sebelum mengarah ke sana, ia menyebut Kemenkes RI sudah menyiapkan website dengan alamat vaksinln.dto.kemkes.go.id untuk para WNI dan WNA guna mendaftarkan dan nanti mereka akan verifikasi.

Pertama, kata Setiaji, WNI dan WNA yang mendapatkan vaksin virus corona di luar negeri dapat mengunjungi situs web tersebut dan melakukan pendaftaran serta mengajukan verifikasi.

Kedua, untuk WNI, data vaksinasi COVID-19 akan diverifikasi oleh Kemenkes RI. Sedangkan WNA akan diverifikasi oleh kedutaannya masing-masing.

Ketiga, lanjutnya, sesudah diverifikasi, hasil verifikasi akan dikonfirmasi melalui e-mail atau surat elektronik (surel) dalam kurang lebih maksimal 3 hari kerja.

Kemudian, keempat, ialah WNI dan WNA perlu mengklaim untuk mengaktifkan status vaksinasi serta mendapatkan Kartu Verifikasi Vaksinasi tersebut. 

Caranya adalah dengan mendaftarkan dan login atau masuk di aplikasi PeduliLindungi. Untuk mengaktifkan status vaksinasi perlu melengkapi akun sesuai data.

Dan guna mendapatkan Kartu Verifikasi Vaksinasi itu, yaitu dengan masuk ke web pedulilindungi.id, pilih menu cek sertifikat dan lengkapi data.

Kelima atau yang terakhir, setelah itu WNI dan WNA tersebut perlu membuka PeduliLindungi dan pilih scan Quick Response (QR) code. Hal ini bertujuan, terang Setiaji, agar mereka dapat menggunakan aplikasi tersebut dan bisa digunakan di berbagai tempat aktivitas masyarakat seperti di mall, penerbangan dan lain sebagainya.

Reporter: Farid Nurhakim
Editor: Rosyid
 
  
Diterbitkan di Berita

tek.id Kementerian Kesehatan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) melakukan tata kelola perlindungan data dan keamanan sistem PeduliLindungi.

Hal ini merupakan buntut perkara sertifikat vaksin Presiden Joko Widodo yang diakses orang lain sehingga menjadi topik panas di Twitter.

Staf Khusus Menteri Kominfo Bidang Digital dan SDM Dedy Permadi memaparkan, Kemenkes akan bertanggungjawab atas pemanfaatan data pada sistem PeduliLindungi yang terintegrasi dengan Pusat Data Nasional (PDN), sesuai dengan PP No. 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE) serta Perpres No. 39 Tahun 2019 tentang Inisiatif Satu Data Indonesia.

Sementara BSSN sebagai lembaga yang berwenang melaksanakan kebijakan teknis keamanan siber bertanggungjawab untuk melakukan pemulihan dan manajemen risiko keamanan siber Sistem Elektronik sesuai dengan PP PSTE dan Pepres No. 28 Tahun 2021 tentang BSSN.

Terakhir, sesuai PP PSTE, PM Kominfo No. 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik, serta Pepres No. 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik, Kominfo selaku regulator akan melakukan langkah strategis pemutakhiran tata kelola data sistem PeduliLindungi.

Sebelumnya, Kominfo juga sudah melakukan migrasi sistem PeduliLindungi ke PDN pada 28 Agustus 2021. Migrasi meliputi sistem, layanan aplikasi, database aplikasi PeduliLindungi, serta sistem aplikasi SiLacak, dan PCare.

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keamanan Sistem Pedulilindungi. Dedy menambahkan, agar masyarakat tidak terprovokasi terkait isu kebocoran data dan tetap menggunakan aplikasi PeduliLindungi yang akan terus disempurnakan.

“Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak tepat terkait sistem PeduliLindungi. Pemerintah menghimbau agar masyarakat dapat mengunduh dan tetap memanfaatkan aplikasi PeduliLindungi yang saat ini fiturnya terus dikembangkan untuk mendukung aktivitas masyarakat dalam masa adaptasi pengendalian pandemi Covid-19,” ujar Dedy.

Diterbitkan di Berita

tagar.id Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono melalui siaran virtual yang ditayangkan pada Kamis, 2 September, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus Covid-19 telah menunjukkan penurunan secara drastis.

Menurutnya, penurunan per hari itu mencapai angka 10,36 persen dan juga ada penurunan angka kematian angka kematian yang menyentuh 37 persen. "Tren kasus Covid-19 makin lama makin menurun," ujarnya, Kamis, 2 September 2021.

Wamenkes menjelaskan, bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani pandemi. Sehingga, sejumlah indikator penurunan Covid-19 menurun secara tajam beberapa waktu belakangan ini.

Kunci dalam menekan angka positif Covid-19, kini terletak pada disiplin melakukan protokol kesehatan (prokes) dalam kegiatan sehari-hari. Melalui disiplin prokes akan dapat membuat pencegahan yang efektif dalam menghadapi ancaman nyata pandemi saat ini.

Amerika Serikat, Inggris, Israel, dan Jepang kembali mengalami lonjakan kasus itu karena protokol kesehatan yang tidak dilakukan. "Makin menurun sejalan dengan berbagai macam protokol kesehatan yang kita kampanyekan," katanya.

Belajar dari lonjakan Covid-19 di berbagai negara disebabkan oleh tidak patuhnya terhadap prokes yang diterapkan. Akibatnya, lonjakan kasus positif yang meningkat tajam dalam beberapa waktu belakangan.

"Amerika Serikat, Inggris, Israel, dan Jepang kembali mengalami lonjakan kasus itu karena protokol kesehatan yang tidak dilakukan," katanya.[]

Diterbitkan di Berita

Kemenkes dan BSSN: Data eHAC Tidak Bocor

Kamis, 02 September 2021 09:17

KBRN, Jakarta: Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anas Mas'ruf memastikan data masyarakat yang ada di sistem Indonesia Health Alert Card (eHAC) tidak bocor dan mengalir ke platform mitra.

Perlu diketahui, sebelumnya vpnMentor mengungkap adanya dugaan kebocoran data 1,3 juta pengguna aplikasi eHAC di Indonesia.

"Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan bahwa data masyarakat yang ada di dalam sistem eHAC tidak bocor dan dalam perlindungan. Data masyarakat yang ada di dalam eHAC tidak mengalir ke platform mitra," kata Anas dalam keterangan pers terkait ‘Progres Investigasi Data e-HAC’ secara virtual, seperti dikutip RRI.co.id, Rabu (1/9/2021).

Menurut Anas, saat vpnMentor mengungkap potensi kebocoran data itu, pihaknya segera mengambil tindakan dengan menelusurinya.

 

Kepala Pusat Data dan Informasi Kemenkes Anas Mas"ruf  Dalam Konpers Virtual Tentang Progres Investigasi Data e-HAC’, Rabu 1/9 (Foto:Youtube Kemenkes RI)

 

Pada proses penelusuran, pihak Kemenkes menemukan celah keamanan pada mitra eHAC.

"Kami langsung mengambil tindakan untuk memperbaiki celah keamanan pada mitra eHAC itu," ungkapnya.

Meski demikian, Kemenkes, lanjut Anas, tetap menindaklanjuti hal tersebut dengan berkoordinasi langsung dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) serta Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri.

Anas mengatakan ini merupakan bagian dari mitigasi keamanan siber.

Nantinya, tim akan menginvestigasi guna menelusuri dan memastikan bahwa tak ada kerentanan lain yang bisa digunakan untuk mengeksploitasi sistem tersebut.

"Kami mengucapkan terima kasih atas masukan pihak-pihak terkait kerentanan sistem eHAC tersebut," tuturnya.

Sementara itu, lanjut Anas, bagi data masyarakat yang ada di platform mitra menjadi tanggung jawab penyelenggara sistem elektronik sesuai dengan amanah UU Nomor 19 tahun 2016 tentang informasi elektronik (UU ITE).

"Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengimbau kepada masyarakat untuk memakai PeduliLindungi di mana fitur eHAC yang terbaru sudah terintegrasi di dalamnya. Platform PeduliLindungi tersimpan di pusat data nasional," ujar Anas.

Hal senada juga disampaikan Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN, Anton Setiawan.

 

Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN, Anton Setiawan Dalam Konpers Virtual Tentang Progres Investigasi Data e-HAC’, Rabu 1/9 (Foto:Youtube Kemenkes RI)

 

“Sebanyak 1,3 juta data itu tidak bocor, tetapi proof of concept yaitu vpnMentor mengidentifikasi adanya celah keamanan dan ini sudah kami verifikasi dan tengah diperbaiki dan ditutup agar tidak mengalami kerentanan data,” kata Anton.

Anton menjelaskan secara teknis kerentanan yang terjadi pada aplikasi eHAC mitra disebut sebagai sensitive data exposure yaitu kerentanan pada sistem atau port tertentu dalam transaksi data.

“Seharusnya dalam port tersebut data ini tidak seharusnya memiliki celah ini yang ditemui dan sekarang telah diperbaiki,” jelasnya.

Menurut Anton, kejadian yang dialami masyarakat beberapa waktu belakangan bukan merupakan kebocoran data.

Melainkan bagian dari proses threat information sharing, dimana pihak yang memiliki fokus akan keamanan siber saling bertukar informasi.

“Alhamdullilah kita mendapatkan informasi yang sangat baik dari teman-teman di vpnMentor dan kemudian kami bisa verifikasi dan ternyata teman dari Kementerian Kesehatan juga bisa menindaklanjuti kerentanan tersebut. Data-data yang ada masih tersimpan dengan baik dan informasi ini juga bagian dari mitigasi risiko dalam bagian langkah pencegahan,” jelas Anton.

Anton mengatakan, BSSN berperan dalam melakukan Information and Technology Security Assestment (ITSA) dan memberikan masukan terkait dengan penerapan keamanan di dalam sistem elektronik.

Untuk diketahui, ITSA adalah proses penilaian keamanan pada suatu sistem elektronik platform atau aplikasi untuk mencari kerentanan atau kerawanan yang mungkin timbul dan dapat digunakan oleh pihak lain dalam mengeksploitasi platform tersebut.

Aspek yang dinilai dimulai dari kode sumber, implementasi sistem, penerapan keamanan, dan mitigasi risiko.

Menurut Anton, hasil dari itsa tersebut adalah rekomendasi yang kami berikan untuk perkuatan keamanan PeduliLindungi yang sekarang digunakan bersama-sama dan fitur eHac.

Terhitung sejak Juli 2021, pemerintah telah mengintegrasikan eHAC ke dalam aplikasi PeduliLindungi.

Dengan kata lain, aplikasi eHAC yang lama sudah tidak dipakai. Kini semua data terjamin keamanannya dalam satu data besar utama dalam aplikasi pedulilindungi yang dikawal lintasinstansi nasional. (Miechell Octovy Koagouw)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, meminta Dinas Kesehatan tiap kabupaten/kota untuk kembali mengecek ulang data stok vaksin.
Sehingga, mereka tidak kehabisan stok yang dapat menghambat jalannya vaksinasi. "Pengiriman vaksin bagi kabupaten/kota dengan estimasi stok lebih dari 30 hari akan ditunda terlebih dahulu.
 
Kabupaten/kota diberikan waktu 2 hari untuk melakukan cross-check dan update terkait data stok yang telah disampaikan, untuk memastikan tidak ada kekurangan pada saat pelaksanaan vaksinasi karena ditundanya pengiriman vaksinasi," kata Nadia dalam keterangan pers virtual, Rabu (1/9). Nadia menjelaskan, pengiriman vaksin corona dapat diprioritaskan pada daerah yang stok vaksinnya lebih sedikit. Selama ini pun pengiriman vaksin dilakukan setiap minggu.
 
Untuk itu, pihaknya meminta kepada seluruh dinkes kabupaten/kota untuk memastikan stok vaksinnya paling tidak memenuhi paling sedikit sampai 7 hari ke depan. "Alokasi vaksin di kabupaten/kota mempertimbangkan laju penyuntikan pada minggu sebelumnya. Sehingga alokasi vaksin diharap dapat memenuhi kebutuhan dosis 1 dan 2 minimal 7 hari," ungkapnya.
 
Selain itu, dinkes provinsi juga dapat merealokasikan stok vaksin pada kabupaten/kota yang stoknya berlimpah kepada daerah lain yang stoknya menipis.
 
 
Kemenkes Tunda Distribusi Vaksin Corona ke Daerah yang Stoknya Cukup Sebulan (1)
Petugas kesehatan menyuntikan vaksinasi Pfizer. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
 
"Dinkes provinsi perlu didorong untuk mempercepat laju distribusi vaksin dari provinsi ke kabupaten/kota mengikuti laju pengiriman pusat terutama bagi daerah yang mudah dijangkau. Bila perlu pemerintah provinsi bisa realokasi pada kabupaten/kota yang masih memiliki stok vaksin yang cukup banyak untuk diberikan kepada kabupaten/kota lain yang tentu memiliki stok vaksin sedikit di minggu tersebut," jelas Nadia.
 
Dengan adanya pendistribusian vaksin ke daerah yang masih kekurangan stok, Nadia optimistis dapat mengejar target penyuntikan hingga 2 juta dosis sehari pada September ini. "Dengan distribusi vaksin sebanyak 15,2 juta di minggu ke-4 Agustus ini dan 20,3 juta di minggu ke 5 Agustus hingga awal September nanti. Maka kami yakin target 2 juta dosis per hari bisa dicapai," pungkasnya.
Diterbitkan di Berita

Suara.comKementerian Kesehatan Republik Indonesia menduga sumber kebocoran data pengguna elektronik health alert card atau eHAC berasal dari pihak mitra. Pihak mitra yang dimaksud adalah pengelola aplikasi eHAC yang bekerjasama dengan Kemenkes RI.

Hal ini disampaikan Kepala Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, Anas Ma'ruf dalam acara konferensi pers, Selasa (31/8/2021) tadi.

Ia juga memastikan bahwa saat ini pemerintah Indonesia sudah menonaktifkan aplikasi eHAC lama, yang awalnya digunakan untuk keperluan perjalanan transportasi udara.

"Dugaan kebocoran di aplikasi eHAC yang lama diakibatkan dugaan kebocoran dari pihak mitra, dan kini (dugaan kebocoran) sudah diketahui oleh pemerintah dan saat ini sudah dilakukan tindakan pencegahan dengan menonaktifkan eHAC lama," ujar Anas.

Anas memastikan pihaknya juga sudah melakukan investigasi bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) serta aparat berwajib untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh.

Keterlibatan aparat berwajib ini, kata Anas, sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem Digitalisasi Data Elektronik.

Sementara itu Biro Komunikasi Kemenkes, Widyawati mengatakan bahwa status kebocoran data pengguna eHAC masih sebatas dugaan, dan belum bisa dipastikan apakah memang terjadi kebocoran data.

"Ini adalah baru dugaan kebocoran, karena sebuah insiden kebocoran baru 100 persen bisa dikatakan bocor jika sudah ada hasil audit digital forensik," tutur Widyawati.

Di sisi lain, pemerintah juga meminta masyarakat untuk menghapus atau menguninstall aplikasi eHAC lama dan mengunduh aplikasi PeduliLindungi yang keamanannya diklaim lebih terjamin karena data dikirim langsung ke pusat data nasional.

"PeduliLindungi servernya berada di pusat data nasional, dan terjamin keamanannya dengan didukung oleh lembaga terkait, baik itu Kominfo maupun juga Badan Siber Nasional (BSN) dan ini satu paket dengan seluruh sistem informasi yang terkait dengan pengendalian Covid-19," pungkas Anas.

 

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Indonesia telah menerima 1,5 juta dosis vaksin corona Pfizer yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Kamis (19/8) lalu. Untuk tahap awal, vaksin ini telah didistribusikan ke wilayah Jabodetabek. 
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes, drg. Widyawati, menuturkan vaksin Pfizer dengan merek COMIRNATY ini diperuntukkan bagi masyarakat umum yang belum sama sekali menerima vaksin.
 
Ia menjelaskan, pendistribusian ke wilayah Jabodetabek ini dikarenakan sistem logistik penyimpanan vaksin yang lebih kompleks ketimbang jenis vaksin lainnya. 
"Vaksin ini harus disiapkan oleh petugas kesehatan yang sudah dilatih menggunakan teknik tertentu dalam menangani rantai dingin. Termasuk cara mencairkan dan mengencerkan vaksin sebelum disuntikkan,” kata Widyawati dalam keterangan Kemenkes, Sabtu (21/8).
 
Vaksin Pfizer ini harus disimpan dalam tempat penyimpangan khusus, yakni di rantai dingin (cold chain) bersuhu sangat rendah -90 hingga -10 derajat celsius. Vaksin ini juga harus segera digunakan. 
Saat ini, sudah ada enam jenis vaksin corona yang digunakan di Indonesia. Keenam vaksin itu adalah vaksin jadi buatan Sinovac, Coronavac dari bulk Sinovac, AstraZeneca, Moderna, dan Pfizer.
 
"Meski terdapat beberapa jenis vaksin di Indonesia, kami mengimbau masyarakat untuk tidak pilih-pilih vaksin karena pemerintah sudah menjamin keamanan dan khasiat dari vaksin COVID-19 yang digunakan saat ini. Kembali saya tekankan, jangan pilih-pilih vaksin, semuanya aman dan berkhasiat dan segera lakukan vaksinasi," tutur Widyawati.
 
Kemenkes: Vaksin Pfizer Tahap Awal Didistribusikan di Jabodetabek (1)
Indonesia kembali mendatangkan vaksin COVID-19 merk Pfizer sebanyak 1.560.780 dosis vaksin jadi dan siap pakai. Foto: Dok. Kominfo
 
Vaksin Pfizer sudah mendapatkan emergency use authorization (EUA) atau izin penggunaan darurat dari BPOM pada 14 Juli lalu. Efikasi atau kemanjuran vaksin Pfizer ini mencapai 95,4 persen untuk warga berusia 16 tahun ke atas, dan pada kelompok remaja 12-15 tahun 100 persen.
Secara bertahap, Indonesia total akan mendapatkan 50 juta vaksin Pfizer lewat skema pembelian langsung. Jumlah ini tidak termasuk vaksin yang akan didapatkan melalui skema GAVI/Covax sebesar 4,6 juta dosis dalam beberapa minggu ke depan.
 
 
"Pemerintah terus mendatangkan vaksin terbaik dari berbagai produsen dalam rangka mengamankan ketersedian vaksin untuk melindungi 208 juta rakyat Indonesia yang menjadi sasaran vaksinasi COVID-19," tutup Widyawati.
Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengemukakan stok vaksin yang tersedia saat ini di fasilitas pemerintah pusat mencukupi untuk memenuhi permintaan daerah.

"Kita punya stok cukup vaksin. Tapi harus dipahami bahwa vaksin itu tidak bisa sekaligus vaksinasi semua sasarannya, karena dosis vaksin juga datang bertahap," kata Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), total kedatangan vaksin di Indonesia hingga Selasa (3/8) berjumlah 179,4 juta dosis vaksin terdiri atas 144,7 juta dosis berbentuk bahan baku dan 34,7 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

Sedangkan total vaksin jadi produksi PT Bio Farma berjumlah 152 juta dosis vaksin. Sebanyak 117,3 juta berupa bahan baku dan 34,7 juta berupa vaksin jadi. Bahan baku vaksin tersebut berjenis Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm dan Moderna.

Direktorat Jenderal (Ditjen) Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes melaporkan hingga Senin (2/8), vaksin yang telah didistribusikan menuju 34 provinsi berjumlah 90.988.817 dosis. Sebanyak 68.641.750 dosis di antaranya telah digunakan.

Menurut Nadia Indonesia tidak ada masalah dengan stok vaksin. Tapi, masyarakat harus paham bahwa vaksin didistribusikan secara bertahap.

Kekosongan vaksin di beberapa daerah, kata Nadia, penyebabnya karena data stok vaksin tidak diperbarui, sehingga Kemenkes melihat stok vaksin di daerah masih aman.

Menurut Nadia, masalah ini sudah diperbaiki. Jutaan dosis vaksin sudah dan akan didistribusikan ke daerah.

"Kami sudah mendistribusikan pada pekan ketiga itu 3 juta untuk vaksin dosis kedua dan yang pekan keempat ini ada sekitar 6 juta. Nanti kami akan kirim lagi sekitar 6 juta," katanya.

Nadia mengatakan antusiasme masyarakat yang tinggi untuk mengikuti vaksinasi juga mempengaruhi persediaan vaksin di Tanah Air. Apalagi, sekarang usia sasaran vaksinasi semakin luas.

"Sekarang ini vaksinasi tidak ada batasan khusus, artinya siapapun, usia di atas 12 tahun bisa divaksin. Jadi tentu harus cermat mengatur kuota vaksinnya," ujarnya.

Nadia meminta masyarakat tidak perlu khawatir jika tidak menerima vaksin dosis kedua tepat pada tanggal yang sudah ditetapkan vaksinator. Masih ada waktu sampai 28 hari setelah dosis pertama disuntikkan.

Pemerintah juga memperluas kerja sama dengan swasta untuk menjangkau lebih banyak masyarakat yang divaksin. "Potensi swasta ini kan akan sangat banyak, bagaimana semakin banyak sentra-sentra vaksinasi yang kita buka," ujarnya.

Kemenkes juga berupaya menambah tenaga vaksinator mengingat Indonesia akan menerima sangat banyak dosis vaksin pada Oktober 2021.

"Oktober itu kemungkinan dua kali lipat dari yang saat ini kita terima jumlah vaksinnya. Tentunya kita harus segera menyuntikkan kepada masyarakat. Jadi memang harus segera diperluas (akses vaksin)," katanya.

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan pemerintah hinga saat ini belum menetapkan sertifikat vaksin Covid-19 sebagai syarat administrasi.

Demikian ditegaskan Juru bicara vaksinasi covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmidzi. Menurutnya, kabar mengenai sertifikat vaksin sebagai salah satu syarat administrasi adalah bbohong atau hoaks.

Dikatakan Nadia, sertifikat vaksin Covid-19 belum digunakan untuk menjadi persyaratan administrasi apapun.

"Sampai sekarang vaksinasi sebagai bukti administrasi kami belum lakukan persyaratan tersebut. Kalau ada yang mengatakan saat ini sertifikat vaksin sudah menjadi syarat administrasi itu adalah hoaks ya," kata Nadia, Selasa (29/6/2021)

Nadia pun menegaskan, hingga saat ini syarat perjalanan pun masih menggunakan hasil rapid antigen dan juga swab PCR. 

"Yang pasti yang kita gunakan PCR atau rapid antigen, kalau syarat administrasi sampai sekarang belum kita lakukan," tegasnya.

Menurut Nadia, aturan tersebut jelas tertuang dalam Surat Edaran Satuan Tugas atau Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 12 Tahun 2021.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Irawan HP

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 3