Konten ini diproduksi oleh Palu Poso

Irham, narapidana yang divonis terlibat kasus tindak pidana terorisme dengan hukuman 2 tahun penjara berbicara blak-blakan mengenai rencana aksinya sebagai calon pengantin untuk amaliyah di Kabupaten Morowali pada 2019.
 
“Dan saya salah satu calon pengantin untuk amaliyah di Morowali tahun 2019. Saya sudah siap dan sudah dibekali dengan bom,” kata Irham, napi teroris Poso, kepada media ini, Rabu (14/4).
 
Sasaran amaliyah saat itu kata Irham, adalah aparatur negara, diskotek, tempat kantor Polisi, tempat TNI, dan kantor Bupati. Rencana itu tercium aparat sehingga ia ditangkap pada 14 September 2019.
 
Irham mengakui, keterlibatannya pada rencana aksi amaliyah itu ketika ia pertama kali melakukan kontak hubungan dengan sejumlah orang dari Ansharut Daulah Islamiyah.
 
Ketika itu, ia mengaku masih menjalani proses hukum dalam Rutan.
 
“Saya berkomunikasi dengan mereka dan diajak. Ketika saya saat itu sudah bebas, mereka mau jemput saya untuk bergabung dengan mereka di sana.
 
Dan, saat itu mereka biayai saya dengan besar, yaitu dana Rp500 ribu untuk perjalanan pergi melaksanakan aksi amaliyah di Morowali,” kata Irham.
 
Napi teroris yang menjalani proses asimilasi ini, mengaku sebelumnya ia juga pernah ditahan karena kasus pembakaran gereja di Poso. Kemudian ditahan di Kabupaten Poso.
 
Saat itu katanya, ia sudah dikontak oleh rekan-rekannya yang memiliki satu pemahaman di Poso.
 
Keberadaan dirinya di Rutan dimanfaatkan untuk mengajak sesama napi untuk bergabung dalam aksi perjuangannya. Tapi, saat itu para napi tidak ada yang tertarik untuk mengikuti jejak perjuangannya. Sehingga, ia memberanikan diri berangkat ke Kabupaten Poso.
 
“Dan selama itu saya belajar agama di Poso dengan Ustad YS dengan Ustad SU. Selain itu belajar lewat chanel-chanel telegramnya. Saya belajar sejak tahun 2018,” katanya.
 
Irham juga mengakui pernah jalan-jalan ke hutan (gunung biru) yang menjadi tempat persembunyian kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso. Namun saat itu, ia tidak bertemu dengan mereka.
 
Ketertarikannya menuju lokasi persembunyian kelompok MIT Poso karena terinspirasi dari ajakan pimpinan MIT Poso Santoso alias Abu Wardah kala itu, bahwa mengikuti mereka adalah jalan yang benar untuk menuju surga.
 
"Kami diajarkan memerangi negara-negara yang dianggap kafir, walaupun kita mati atau membunuh mereka akan dijamin masuk surga. Meski saat itu saya belum sempat ketemu Santoso. Saya hanya sempat hadir di pemakamannya,” ujarnya.
Diterbitkan di Berita