2020, Telkom untung Rp20,8 triliun

Jumat, 30 April 2021 10:12

JAKARTA (IndoTelko) - PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom) mampu mencatat kinerja yang baik dengan membukukan pertumbuhan yang positif dari sisi pendapatan, EBITDA (Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi) serta laba bersih selama tahun 2020.

Perseroan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp136,46 trilliun tumbuh positif sebesar 0,7% dibanding tahun 2019 sebesar Rp135,567 triliun.

EBITDA Perseroan tahun 2020 tercatat Rp72,08 triliun naik 11,2% dibanding 2019 sebesar Rp64,832 triliun.  

 Laba bersih 2020 sebesar Rp20,80 triliun naik dan 11,5% dibanding 2019 sebesar Rp18,663 triliun.

Direktur Utama Telkom, Ririek Adriansyah mengatakan, tahun 2020 merupakan tahun yang sangat menantang dan penuh dinamika bagi Indonesia di mana pandemi Covid-19 melanda hampir seluruh dunia dan masih berlangsung hingga saat ini. Sama halnya dengan sektor bisnis yang lain, industri telekomunikasi merasakan dampak yang cukup besar dengan adanya pandemi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi juga membawa perubahan terhadap kebutuhan dan gaya hidup masyarakat, dengan tingkat adopsi digital masyarakat meningkat signifikan.

“Pandemi telah mempercepat transformasi digital menjadi beberapa tahun lebih cepat dan ini menjadi ruang akselerasi bagi Telkom. Sejalan dengan langkah perseroan untuk bertransformasi menjadi perusahaan telekomunikasi digital, Telkom secara aktif terus mendukung upaya pemerintah dalam Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional melalui dukungan konektivitas, platform, dan aplikasi digital, selain juga bantuan sosial. Kami berkomitmen untuk terus hadir memberikan kemudahan kepada masyarakat yang dikarenakan pandemi harus melaksanakan beragam aktivitasnya secara digital dari rumah termasuk untuk bekerja dan belajar,” ujar Ririek.

Pandemi Covid-19 mendorong kebutuhan masyarakat yang lebih besar akan akses internet di rumah. Menangkap fenomena tersebut, Telkom berupaya untuk memenuhi permintaan masyarakat yang meningkat sepanjang tahun 2020 dengan melayani penambahan pelanggan IndiHome lebih dari 1,01 juta. Sehingga pada akhir 2020 jumlah pelanggan IndiHome mencapai 8,02 juta pelanggan atau tumbuh 14,5% jika dibanding akhir 2019.

Kondisi ini berdampak positif bagi perusahaan di mana IndiHome mencatat kenaikan pendapatan signifikan sebesar 21,2% menjadi Rp22,2 triliun dibanding tahun lalu dan memposisikan diri sebagai internetnya Indonesia dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia.

Untuk segmen Mobile, Telkomsel selaku entitas anak usaha Telkom mencatat kenaikan trafik data yang cukup besar hingga 43,8% dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi 9.428 petabyte, seiring dengan semakin besarnya kebutuhan layanan data, khususnya dikarenakan perubahan gaya hidup masyarakat akibat dampak pandemi.

Hal ini tidak lepas dari kontribusi dari 169,5 juta pelanggan Telkomsel dengan pengguna mobile data tercatat sebanyak 115,9 juta pelanggan atau meningkat 5,2% dibanding tahun lalu. Sepanjang 2020, pendapatan Digital Business Telkomsel tumbuh sebesar 7,0% menjadi Rp62,33 triliun yang sekaligus menjadi katalis dalam pergeseran bisnis legacy ke layanan digital business. Kontribusi pendapatan dari Digital Business meningkat menjadi 71,6% dari total pendapatan Telkomsel, dari 63,9% pada tahun sebelumnya.

Sebagai upaya mendukung dunia pendidikan selama masa pandemi, Telkomsel menghadirkan inisiatif Merdeka Belajar Jarak Jauh (MBJJ) yaitu penawaran spesial kuota belajar bagi masyarakat Indonesia untuk mengakses e-learning dan kuota untuk platform konferensi video.

Pada 2020, Telkomsel membangun 27,7 ribu Base Tranceiver Station (BTS) 4G LTE baru sehingga sampai dengan akhir Tahun 2020, Telkomsel telah memiliki total BTS lebih dari 231 ribu unit dengan 78% di antaranya adalah BTS 3G/4G.

Pada segmen Enterprise, fundamental bisnis yang semakin sehat sebagai hasil penerapan kebijakan Telkom untuk berfokus pada lini bisnis yang memiliki profitabilitas lebih tinggi, menghasilkan penurunan biaya operasi terutama dari biaya perangkat pelanggan di segmen ini. Sebagai hasil, segmen Enterprise membukukan pendapatan tahun 2020 sebesar Rp17,7 triliun. Bahkan pada kuartal empat 2020 sendiri, pendapatan segmen Enterprise mencapai Rp6,3 triliun, tumbuh signifikan sebesar 67,9% dibanding kuartal tiga 2020. Pencapaian ini dikontribusi oleh pendapatan dari data center & cloud, application services, dan enterprise broadband.

Selanjutnya, segmen Wholesale & International Business yang merupakan enabler strategis seluruh segmen bisnis TelkomGroup, menunjukkan kinerja yang baik, dengan peningkatan pendapatan sebesar 27,3% YoY menjadi Rp13,5 triliun. Pencapaian ini terutama didorong oleh peningkatan bisnis menara telekomunikasi, voice wholesale, data center, dan inisiatif inorganik. Saat ini perseroan tengah mempersiapkan rencana unlocking value Mitratel demi meningkatkan valuasi dan memperkuat portofolio bisnis menara telekomunikasi TelkomGroup. Pada segmen ini perseroan juga terus mengembangkan inisiatif neuCentrIX dalam melayani market wholesale industri telekomunikasi dan ekosistem digital melalui penyediaan layanan data center yang terintegrasi dengan infrastruktur backbone yang memiliki coverage terluas dan berdaya saing global.

Total belanja modal perseroan pada tahun 2020 tercatat sebesar Rp29,4 triliun atau 21,6% dari total pendapatan. Penyerapan belanja modal di tahun 2020 lebih kecil daripada rencana proyeksi dikarenakan pandemi yang mengakibatkan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Belanja modal tersebut terutama digunakan untuk memperkuat jaringan dan infrastruktur lainnya dalam rangka meningkatkan kapabilitas digital demi memberikan pengalaman digital terbaik bagi pelanggan, meliputi jaringan 4G LTE, jaringan akses serat optik ke rumah, jaringan backbone serat optik bawah laut serta menara telekomunikasi dan data center.

Dalam rangka mendukung perekonomian nasional, Telkom mencatat nilai besaran Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) secara mandiri sekitar 41.6% dari belanja Capex dan 92% dari belanja Opex pada tahun 2020.

“Di tengah pandemi yang masih kita hadapi hingga saat ini, kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap berbagai layanan TelkomGroup. Kami akan terus berupaya menghadirkan solusi digital terbaik untuk membantu masyarakat dalam menghadapi pandemi maupun memulihkan perekonomian nasional sejalan dengan komitmen kami untuk menjadi penggerak digitalisasi Indonesia. Kami meyakini dengan digitalisasi, bersama-sama kita mampu menghadapi pandemi dan menjadikan Indonesia lebih baik,” tutup Ririek.(ak)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap satu orang pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diduga berkaitan dengan readyviewed insiden bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

Informasi itu dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes Pol E Zulfan. Zulfan mengatakan, total pihaknya telah mengamankan total 33 orang terkait dengan insiden bom itu.

"Benar, sudah 33 orang yang ditangkap guna pemeriksaan oleh penyidik Densus 88," kata Zulfan saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Senin (19/4).

Namun demikian, Zulfan tidak menjelaskan secara rinci terkait peran pegawai BUMN itu dalam insiden bom bunuh diri Makassar.

Diketahui, sepasang suami istri berinisial L dan YSF melakukan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar pada 28 Maret lalu.

Beberapa hari setelah insiden itu, Densus mengamankan tersangka berinisial W yang merupakan otak perakit bom.

Densus juga menangkap sejumlah rekan L dan YSF di kelompok tersebut. Beberapa orang itu diduga kuat memberi motivasi agar L dan YSF menjalankan aksinya. Selain itu, terdapat juga pihak yang ikut survei lokasi pengeboman.

Selain rangkaian operasi di Makassar, polisi juga menangkap sejumlah terduga teroris di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Puluhan terduga teroris yang telah ditangkap itu kini menjalani pemeriksaan intensif oleh tim Densus 88. Dari semua yang diamankan diketahui merupakan jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah atau JAD, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. 

(yoa/pris)

Diterbitkan di Berita

voi.id JAKARTA - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan produksi baterai untuk kendaraan mobil listrik bisa mencapai 140 giga watt hour (GWh). Kapasitas itu diproyeksikan bisa terealisasi pada 2030. Wakil Menteri BUMN Pahala Nugraha Mansury mengatakan, 50 di antaranya bisa di ekspor ke luar negeri. 

Sisanya menurut Pahala akan digunakan oleh Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk memproduksi kendaraan listrik di dalam negeri. 

"Indonesia ingin kapasitas baterai itu kurang lebih 140 GW hour di 2030 nanti. 50 GW hour dari produksi baterai cell ini mungkin akan kami ekspor, sisanya bisa digunakan industri baterai yang akan produksi electric vehicle (EV) yang ada di Indonesia," ujarnya, Jumat, 26 Maret. 

Pada tahap pertama, pihaknya menargetkan bisa memproduksi antara 10 GWh hingga 30 GWh. Sayangnya, dia belum secara gamblang menjelaskan mengenai rencana pendirian pabrik baterai dan produksi tahap pertama yang dimaksud. 

Pahala menyampaikan, enam bukan ke depan, Antam bakal memulai studi bersama calon mitra untuk pengembangan tambang. Kemudian, berlanjut ke pengembangan smelter. 

Untuk produksi kendaraan listrik di Indonesia, kata Pahala, Kementerian BUMN meyakini IBC mampu memproduksi 10 juta kendaraan roda dua. Sementara roda empat di atas 2 juta. Produksi ini bisa direalisasikan pada 2030.  

Nilai investasi mencapai Rp238 triliun 

Kementerian BUMN mencatat nilai investasi untuk industri baterai kendaraan listrik Indonesia yang dibutuhkan mencapai 17 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp238 triliun (kurs Rp 14.000 per dolar AS). 

Pahala mengatakan IBC tidak hanya mengelola satu pabrik pembuatan kendaraan listrik. Namun terintegrasi dari mining, smelting, kemudian produksi prekursor, hingga battery pack. 

"Jadi bukan bangun 1 pabrik saja, tapi Indonesia punya mining-nya, smelting-nya, kemudian produksi prekursor, battery pack, bahkan tadi disampaikan kami ingin juga energy storage stabilizer dan recycling-nya. Investasi yang dibutuhkan bisa sampai sampai 17 miliar dolar AS," ujarnya. 

Sekadar informasi, IBC merupakan konsorsium BUMN yang dibentuk untuk mengembangkan ekosistem industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Konsorsium ini baru saja diresmikan Menteri BUMN Erick Thohir.  

Holding ini terdiri dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau MIND ID, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam, PT Pertamina (Persero), dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) alias PLN. Nantinya, masing-masing perusahaan memiliki saham 25 persen. 

Pabrik pembuatan kendaraan listrik itu akan didesain secara terintegrasi mulai dari mining, smelting, kemudian produksi prekursor, hingga battery pack, sampai ekosistem kendaraan listrik benar-benar berjalan. 

Diterbitkan di Berita

Annisa Saumi alinea.id 

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meresmikan pendirian Indonesia Battery Corporation (IBC) atau holding baterai kendaraan listrik. Erick mengatakan persiapan pendirian holding ini dilakukan pihaknya sejak setahun lalu. 

"Adanya pandemi Covid-19 mempercepat proses transformasi ke arah baterai listrik. Tentunya dengan adanya EV battery ini akan membuat Indonesia lebih bersahabat dengan ekonomi hijau," kata Erick dalam konferensi pers, Jumat (26/3).

Pembentukan holding ini menjadi salah satu langkah berani Indonesia untuk bersaing dengan negara lain seperti China, Amerika Serikat, dan Korea Selatan dalam industri baterai kendaraan listrik. 

Sebagai informasi, perusahaan holding IBC ini terdiri dari empat BUMN, yaitu PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) yang dikenal dengan Inalum atau MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero).

"Alasan kami membuat IBC, tidak lain ingin mengosolidasikan potensi yang kita punya dan manfaatkan bersama-sama. Kita juga membuka kerja sama dengan partner lainnya yang saling menguntungkan," ujarnya. 

Dia menuturkan, pada April nanti, dirinya bersama dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi akan mengunjungi AS dan Jepang untuk membuka kerja sama EV battery dengan pihak-pihak yang ada di kedua negara tersebut.

"Kita bekerja sama dengan banyak pihak, tetapi ini harus terkonsolidasi. Jangan sampai ini hanya mengalihkan kekayaan alam kita ke luar negeri," ucapnya. 

Diterbitkan di Berita
Staf Khusus III Menteri BUMN Arya Sinulingga, langsung membantah informasi jika pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta jatah komisaris terkait fatwa Vaksin AstraZeneca.

Ia menyatakan tidak pernah ada pengurus MUI meminta kursi komisaris.  “Kementerian BUMN sampai hari ini tidak pernah ada permintaan komisaris untuk MUI ataupun pejabat-pejabat di MUI,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (21/3/2021).

Lanjutnya, ia juga memastikan informasi yang dimaksud sama sekali tidak berkaitan dengan rencana penggunaan vaksin AstraZeneca. 

“Apalagi berhubungan dengan vaksin AstraZeneca, sama lagi tidak ada hubungannya. Dan kami juga tidak ada keterkaitan dengan hal tersebut,” tegasnya.

Diketahui, informasi ini bermula dari laporan yang diturunkan Majalah Tempo edisi 20 Maret 2021. Dalam laporan itu disebutkan, permintaan tersebut muncul di tengah upaya pemerintah mempercepat keluarnya fatwa halal vaksin AstraZeneca.

Disebutkan, ada pengurus MUI yang meminta pemerintah mempertimbangkan pembagian posisi komisaris di perusahaan BUMN untuk petinggi lembaga itu.

“Sumber yang sama menyebutkan pengurus MUI meminta nantinya dilibatkan dalam sosialisasi vaksin AstraZeneca di berbagai daerah,” tulis laporan tersebut. 

Akan tetapi, informasi tersebut mendapat bantahan dari anggota Komisi Fatwa MUI, Aminuddin Yakub.

Jika memang benar ada, belum tentu pula permintaan itu terkait dengan kapasitasnya sebagai pengurus MUI. 

“Banyak pengurus MUI juga memegang jabatan di organisasi kemasyarakatan. Tapi, kalau benar terkait dengan MUI, itu melanggar kode etik,” ujar Aminuddin Yakub dalam laporan tersebut.

Diterbitkan di Berita