JAKARTA, KOMPAS.TV - Polri menggelar rilis penangkapan tiga terduga teroris kelompok Jemaah Islamiyah (JI) yang ditangkap Densus 88 Antiteror di kawasan Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa (15/11/2021).

Tiga terduga teroris tersebut merupakan tokoh agama yang berperan sebagai pengurus dan Dewan Syuro JI. Masing-masing yaitu Farid Okbah, Ahmad Zain An Najah, dan Anung Al Hamad.

Dalam rilis tersebut, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono mengungkapkan, kelompok teroris (JI) memiliki dua sumber dana untuk mempertahankan eksistensi organisasi tersebut, yaitu secara internal dan eksternal.

Internal, setiap anggota JI melakukan infaq atau iuran sebesar 2,5 persen dari hasil pendapatan masing-masing anggota setiap bulannya. Sementara eksternal, yaitu dengan mendirikan lembaga sosial amil zakat Abdurahman bin Auf.

"Agar tetap bisa mempertahankan eksistensi organisasi tersebut ada dua sumber pendanaan yang pertama pendanaan internal ini melalui Infaq yang diberikan setiap bulan dari seluruh anggota kelompok JI, besarannya sekitar 2,5 persen dari pendapatan anggota setiap bulannya," kata Rusdi, Rabu (17/11/2021).

"Kemudian sumber yang kedua ini melalui eksternal yaitu dengan mendirikan lembaga Amil zakat Baitul maal Abdurrahman bin Auf, yaitu suatu lembaga yang dibuat oleh kelompok ini untuk mendapatkan pendanaan," terangnya.

Ia mengatakan, dana yang didapat dari lembaga tersebut dialokasikan untuk menggerakkan organisasi ini melalui kegiatan pendidikan dan sosial terhadap para anggota. Baitul Maal Abdurrahman bin Auf sendiri, lanjut Rusdi, tersebar di beberapa wilayah seperti Jakarta, Sumatera Utara, Lampung, dan Medan.

Selain itu, Rusdi juga menegaskan bahwa penangkapan terhadap tiga tokoh agama tersebut bukan bentuk kriminalisasi terhadap kelompok siapa pun. 

Ia mengatakan, Densus 88 telah melakukan proses yang panjang untuk menuntaskan kelompok teroris JI dari Tanah Air, sehingga penangkapan terhadap ketiganya bisa dipertanggungjawabkan legalitasnya.

"Tidak ada upaya upaya untuk melakukan kriminalisasi kepada siapa pun termasuk juga kegiatan Densus yang dilakukan di Bekasi pada 16 November 2021 kemarin," ucapnya. Penelusuran terhadap kelompok JI dimulai sejak menangkap amir JI yang bernama Aji Parawijayanto pada 29 Juni 2019 silam.

Dari Aji inilah, Densus 88 akhirnya menemukan pintu masuk untuk dapat menggambarkan beberapa aspek. Mulai dari struktur organisasi, pola rekrutmen, pendanaan, dan bagaimana strategi JI itu sendiri.

"Sehingga sekali lagi, apa yang dilakukan oleh Densus 88 murni sebagai penegakan hukum yang tegas dan kedua tidak ada kriminalisasi terhadap kelompok siapa pun," ujarnya.

Penulis : Baitur Rohman | Editor : Fadhilah

 

Sumber: https://www.kompas.tv/article/233125/selain-lewat-lembaga-sosial-sumber-dana-kelompok-teroris-ji-berasal-dari-iuran-anggota-per-bulan?page=all

 

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta -Kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI) diduga mengisi pundi-pundinya tak cuma melalui penyebaran kotak amal dari Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Abdurrahman Bin Auf (LAZ ABA).

Kelompok itu ternyata juga berinvestasi dengan cara berbisnis kebun kurma. Bukan hanya berjualan, mereka bahkan memiliki perkebunan kurma di Gunung Megang, Kecamatan Pulopanggung, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Fakta itu diketahui berdasarkan pemeriksaan terhadap tersangka teroris Ir S yang ditangkap tim Densus 88 Antiteror Polri di Lampung, beberapa waktu lalu. Kepada polisi, S mengaku bisnis kurma itu menjadi program yang dicanangkan LAZ ABA.

“Pada saat Munas LAZ Aba 2019 disampaikan sosialisasi program LAZ ABA di antaranya terkait pemberdayaan perkebunan kurma,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (12/11/2021).

Ramadhan menyampaikan LAZ ABA juga tengah mencanangkan penanaman kurma baru yang kini dalam proses pembuatan lubang di Gunung Megang, Pulau Panggung, Tanggamus, Lampung. Ia menyampaikan penanaman kurma baru itu disediakan di atas tanah wakaf seluas 4 hektare.

Lahan itu dibeli LAZ ABA dari seseorang berinisial S dengan harga Rp400 juta. Ia memastikan lahan itu dikelola bukan perusahaan resmi dan tidak berbadan hukum. Status tanah itu masih atas nama S. Namun, Ramadhan belum mengungkap sosok S.

“Sudah disiapkan lahan tanah wakaf dan 4 hektare lahan rencana akan ditanami pohon kurma, di mana 2 hektare merupakan wakaf dari S dan 2 hektare dibeli oleh ABA dari S seharga Rp400 juta, namun masih kurang Rp175 juta,” ujarnya.

Seperti diketahui, Densus 88 Antiteror Polri menangkap 8 anggota teroris Jamaah Islamiah (JI) di wilayah Lampung sejak Minggu (31/10/2021). Mereka yang ditangkap mayoritasnya adalah pengurus LAZ-ABA Lampung.

LAZ ABA adalah yayasan yang terafiliasi teroris Jamaah Islamiyah. Yayasan itu bertugas menghimpun dana dari masyarakat. Salah satunya lewat penyebaran kotak amal ke masyarakat. “Setiap bulan rata-rata untuk BM ABA Lampung berhasil menghimpun dana sebesar 70 juta per bulan,” kata Kombes Aswin Siregar.

 

Sumber: https://damailahindonesiaku.com/selain-kotak-amal-kelompok-teroris-ji-di-lampung-juga-investasi-kebun-kurma.html

 

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Aparat Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri dalam dua pekan terakhir telah mengamankan lebih dari 1.000 kotak amal milik kelompok teroris jaringan Jamaah Islamiyah (JI) di Lampung. Karena kotak amal tersebut disalahgunakan untuk dana operasi JI.

Direktur Indonesia Intelegence Institute Ridlwan Habib mengapresiasi kinerja dari Densus 88. Mengingat pengungkapan terhadap kelompok teroris jaringan JI ini sudah terjadi kurang lebih sejak enam bulan silam.

“Salut terhadap kegigihan Densus 88 Polri yang terus berupaya membongkar jaringan ini dan ini harus kita dukung,” ujar Ridlwan dalam tayangan Metro Pagi Primetime di Metro TV, Kamis (11/112021).

Bahkan Ridlwan menyebut JI memiliki militansi yang luar biasa. Hal ini terlihat dari proses kaderisasi yang terus berjalan dan kotak amal yang tetap diedarkan, meski tokoh-tokoh kunci JI sudah tertangkap.

“Militansi yang luar biasa dari kelompok JI, mereka tidak gentar walaupun orang orang yang menjadi kuncinya itu sudah tertangkap,” kata Ridlwan seperti dikutip medcom.id.

Dari penelitian yang sudah dilakukan sejak tahun 1999, Ridlwan memperkirakan simpatisan JI saat ini sudah mencapai 6.000 orang. Kemudian, yang tertangkap sekitar 180 orang.

Ridlwan menjelaskan penangkapan tokoh kunci kelompok JI merupakan strategi dari Densus 88, mengingat aparat tidak bisa menangkap semua simpatisan JI. Penangkapan tersebut bertujuan untuk dapat memberikan efek jera terhadap anggota JI lainnya.

“Densus 88 punya strategi, sehingga dilakukan penangkapan bertahap diambil tokoh kuncinya dahulu dengan harapan anak buahnya bisa jera dan menghentikan tindakannya,” jelas Ridlwan.

 

Sumber: https://damailahindonesiaku.com/kelompok-teroris-ji-dinilai-pengamat-punya-militansi-yang-kuat.html

 

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co Beredar sebuah video Pengakuan Teroris JI yang menggunakan kotak amal untuk mendanai terorisme.

Dalam video yang beredar, Fitria Sanjaya, Pimpinan BM ABA dan Anggota Jamaah Islamiyah mengaku setiap tahun kelompoknya bisa mendapat Rp 28 M dari kotak amal dan digunakan untuk latihan teroris, persenjataan dan gaji karyawan.

Beredarnya video tersebut mendapat komentar dari warganet. Ia menyindir pihak-pihak yang meminta Densus 88 agar tidak hanya mengurusi kotak amal bahkan mereka mendesak pembubaran Densus 88.

“Bukti pengakuan TERORIS JI, mereka menggunakan KOTAK AMAL sebagai sumber pemasukan Setiap tahun, mereka bisa dapat Rp 28 M digunakan utk latihan teroris, persenjataan, gaji karyawan, dll”, tulis Jhon Sitorus di akun twitternya @Miduk17

“Fadli Zon harusnya paham, DENSUS 88 bukan menarget Islam, tapi TERORIS berkedok agama”, imbuhnya

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Gatra.com – Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap Thoriqudin alias Abu Rusdan di Bekasi, Jawa Barat pada Jumat, 10 September 2021. Abu Rusdan tak lain tokoh senior Jama’ah Islamiyah (JI) dan mantan Amir JI pada 2003-2004.

Setelah menjalani hukuman penjara lewat putusan majelis hakim pada Februari 2004, Abu Rusdan kembali aktif di masyarakat. Ia diketahui menjadi penceramah dan motivator agama serta rutin berdakwah keliling Indonesia.

Pengamat terorisme Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib mengatakan, penangkapan Abu Rusdan memantik perhatian para pengamat dan analis kajian terorisme.

“Kalau betul T alias AR yang ditangkap polisi adalah Abu Rusdan berarti itu penangkapan yang sangat serius. Ini figur yang sangat terkenal di kelompoknya,” ujar Ridlwan dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (12/9).

Abu Rusdan diketahui menjadi tokoh kunci JI dan termasuk yang mendukung kegiatan “amaliyah” dan aksi terorisme atas nama JI. Menurut Ridlwan, Abu Rusdan adalah alumni pelatihan paramiliter mujahidin Afghanistan angkatan ke-2.

Ia berangkat ke Afghanistan pada 1986 bersama Huda bin Abdul Haq alias Mukhlas. Abu Rusdan tinggal di Afghanistan sampai tahun 1989 bersama tokoh JI lainnya, Nurjaman Riduan Isamuddin alias Hambali. Dari sana, ia direkrut masuk ke dalam sel JI.

“Abu Rusdan berlatih militer di Camp Sadda, Pakistan dan sempat berinteraksi langsung dengan Osama Bin Laden,” kata Ridlwan.

Setelah kasus Bom Bali I, Abu Rusdan ditangkap aparat di Kudus, Jawa Tengah pada 2003. Ia didakwa membantu menyembunyikan pelaku bom Bali, Huda bin Abdul Haq alias Ali Ghufron alias Mukhlas. Abu Rusdan kemudian dijatuhi hukuman tiga setengah tahun penjara.

“Setelah bebas, Abu Rusdan berdakwah keliling Indonesia dan sangat populer di Youtube,” kata Ridlwan. Bahkan, netizen dapat menemukan konten ceramah Abu Rusdan di YouTube dengan berbagai macam tema yang memantik kontroversi.

“Salah satu yang cukup viral adalah ceramah Abu Rusdan soal Pancasila bukan Islam,” ia menambahkan. Ia berpandangan, penangkapan Abu Rusdan berpotensi memicu aksi balasan dari para pengikutnya. Terutama sel-sel JI dan mantan kombatan yang terafiliasi dengannya.

“Tokoh senior ini banyak murid online nya yang dalam istilah kontra-terorisme disebut lone wolf,” ujar Ridlwan. Alumni S2 Kajian Intelijen UI itu mengingatkan, aparat keamanan agar memperkuat penjagaan dan lebih waspada.

“Kelompok Neo JI, walaupun tidak pernah menyerang sejak 2009 tapi masih punya orang-orang militan yang punya keahlian berbahaya,” katanya.

Selain itu, Polri lewat Direktorat Tindak Pidana Siber, menurutnya perlu memblokir situs dan portal yang masih memuat ceramah ceramah Abu Rusdan.

“Penangkapan Abu Rusdan membuktikan bahwa deradikalisasi belum sukses mengubah orang. Selama belasan tahun Abu Rusdan bebas tanpa ada keberhasilan pemerintah menundukkan ideologinya,” pungkasnya.

Abu Rusdan diketahui menggantikan posisi Abu Bakar Ba’asyir menjadi amir JI setelah Ba’asyir ditangkap pada Oktober 2002. Ia dipilih oleh Abu Dujana, Aris Sumarsono, Sulaiman dan Huda bin Abdul Haq. Sebagai amir, Abu Rusdan memimpin rapat JI dan mengatur pergerakan kelompok.

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Badan Intelijen Negara (BIN) memastikan terus memantau aktivitas jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI). BIN menyebut anggota jaringan ini relatif masih muda-muda.

“Sekarang ada Jamaah Islamiyah lagi di mana anggotanya relatif muda-muda. Ini menjadi catatan,” kata Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto dalam diskusi yang ditayangkan di YouTube Gelora TV, Kamis (2/9/2021).

Wawan tak menjelaskan lebih detail kisaran usia para penggawa Jemaah Islamiyah tersebut. Polisi, kata Wawan, telah berhasil mencegah aksi teror dari kelompok ini dengan melakukan penangkapan beberapa waktu lalu.

“Jadi kita di Indonesia sudah ada penangkapan-penangkapan yang terantisipasi karena mereka melakukan langkah-langkah (teror),” ucapnya.

Lebih jauh, Wawan memastikan jaringan Jamaah Islamiyah tak berkaitan dengan kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan. Akan tetapi, kata dia, dengan kondisi euforia Taliban, tak tertutup kemungkinan hal itu bisa membangkitkan lagi jaringan teroris di Tanah Air.

“Dan itu dari patroli siber yang kita lakukan itu sudah muncul gerakan-gerakan seperti itu. Maka kita langsung masuk kepada saudara-saudara kita yang melakukan euforia itu untuk meredakan situasi yang emosional tadi supaya tetap mengedepankan bahwa Indonesia ini adalah bukan medan perang,” ujarnya.

Sebelumnya, Densus 88 telah menangkap 53 terduga teroris selama medio Agustus 2021 atau menjelang HUT ke-76 RI. Polri menyebut para terduga teroris itu ingin memanfaatkan momen Hari Kemerdekaan RI dengan menebar aksi teror.

Diterbitkan di Berita

Puteranegara BatubaraOkezone JAKARTA - Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengungkapkan, terduga teroris BA yang ditangkap di Deliserdang, Sumatera Utara, pernah ikut latihan menembak bersama kelompok Jamaah Islamiyah.

"Keterlibatannya itu tahun 2015 dia mengikuti latihan menembak bersama anggota Rodifah Isobah Barat Kodimah Barat Jamaah Islamiah (JI)," kata Ramadhan saat dihubungi, Jakarta, Jumat (2/7/2021).

Kemudian, kata Ramadhan, pada 2014, terduga itu juga berperan sebagai pihak menyimpan senjata api yang digunakan untuk pelatihan tersebut.

Selain itu, pada 2016, terduga tersebut juga menjabat sebagai Ketua Khidmat Rodifah Isobah Barat Jamaah Islamiyah. Setahun berikutnya, ia ditetapkan sebagai ketua untuk koperasi yang diduga milik kelompok tersebut.

"Sejak 2017 terpilih sebagai ketua koperasi Attoyibah yang merupakan koperasi milik Rodifah Isobah JI dan sebagai penanam modal koperasi Attoyibah tersebut," ujar Ramadhan.

Sebelumnya, personel Detasemen Khusus 88 Anti-teror Mabes Polri menangkap seorang terduga teroris dari kawasan Bandar Klippa, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang, Sumatera Utara, Kamis (1/7/2021).  

(erh)

Diterbitkan di Berita

Ayu mumpuni alinea.id

Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri melakukan penangkapan terhadap seorang terduga teroris berinisial AM. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus membenarkan, adanya penangkapan pukul 07.45 WIB.

Dia menyebut, lokasi penangkapan berada di Jalan Komari 2, Perumahan Islamic Villave, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.

"Benar telah dilakukan penangkapan terduga teroris atas nama AM," kata Kombes Yusri dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/3). Tim Densus 88 juga langsung melakukan penggeledahan di rumah terduga teroris. Namun, tidak disebutkan apa saja yang disita tim Densus 88.

"Dilakukan penggeledahan di rumah yang bersangkutan," tutur Yusri. Yusri menuturkan, terduga teroris saat ini sedang dalam pemeriksaan intens tim Densus 88. Dia juga belum dapat membeberkan AM masuk dalam kelompok teroris apa.

Sebelumnya, Tim Densus 88 juga menangkap 22 terduga teroris kelompok Jamaah Islamiah (JI). Penangkapan tersebut pengembangan dari penangkapan kelompok Fahim di Jawa Timur.

Diterbitkan di Berita

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Rusdi Hartono menyebutkan, penangkapan dilakukan di Jakarta, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut).

"Dua di Jakarta, enam di Sumbar, dan 14 di Sumut," kata Rusdi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (22/3/2021).

Penangkapan ini dinyatakan sebagai pengembangan dari 22 teroris di Jawa Timur (Jatim).

Rusdi mengungkapkan, tim Densus 88 sampai saat ini masih memeriksa intens para terduga teroris. Densus 88 juga masih mengembangkan keterlibatan pihak lain.

"Sekarang masih dikembangkan, kita tunggu Densus bekerja," tutur Rusdi.

Menurut Rusdi, pihaknya belum dapat membeberkan barang bukti apa saja yang disita. Dia juga belum dapat menyebutkan inisial para teroris itu.

Berdasarkan informasi yang didapat, salah satu tersangka yang ditangkap di Jakarta berinisial FJ (43).

Dia diketahui sebagai pengurus masjid daerah Kota Tanggerang, Banten. (Ccp)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- 

Sebanyak 22 tersangka terorisme dari kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang ditangkap di wilayah Jawa Timur akan ditempatkan di Rumah Tahanan (Rutan) khusus teroris Cikeas, Jawa Barat.

Mereka dibawa oleh anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri ke Jakarta melalui Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

"Ke-22 tersangka akan dibawa ke rutan Cikeas," kata Rusdi kepada wartawan, di Bandara Soetta, Kamis (18/3).

Rusdi mengatakan penangkapan puluhan tersangka itu merupakan bentuk pecegahan atau preventif strike terkait aktivitas terorisme di Indonesia.

Dalam penangkapan tersebut, Densus 88 turut mengamankan satu pucuk senjata api berjenis FN dengan 50 butir peluru, beberapa senjata tajam berupa katana, pedang, pisau, panah, hingga busur.

"Perlu kita sadari bersama, kelompok-kelompok ini masih hidup di antara kita," ujarnya.

Para teroris itu diringkus di sejumlah wilayah antara lain Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya, Mojokerto, Malang dan Bojonegoro. Mereka antara lain FA, FU, NA, SS, AY, TS, YA, RZ, BR, YP, EP, YT, AI, AS, RA, ZA, ME, IE, HS, AR, BS dan, HAB.

Jamaah Islamiyah (JI) JI sendiri merupakan jaringan terorisme yang bertanggung jawab atas berbagai kasus teror di Indonesia. Beberapa di antaranya seperti Bom Bali 1 dan 2, kemudian ledakan di hotel JW Marriot serta Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 2009.

(mjo/fra)

 
Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2