Jakarta, CNN Indonesia -- Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf mengaku siap maju sebagai kandidat calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Muktamar Lampung yang rencananya digelar pada Desember 2021 mendatang.

"Iya betul [maju sebagai Caketum PBNU]," kata Yahya kepada CNNIndonesia.com, Senin (11/10). Yahya bercerita sudah menemui Ketum PBNU Said Aqil Siraj untuk meminta restu dan mengutarakan niatnya untuk maju sebagai Caketum PBNU.

Said, kata Yahya, merespons positif dan mempersilakan Yahya untuk mewujudkan keinginannya tersebut. "Saya sampaikan [ke Said] 'saya mohon restu saya maju sebagai calon ketua umum'. Beliau persilakan "monggo-monggo", iya mempersilakan," kata Yahya.

Yahya lantas menjelaskan bila nanti terpilih, dirinya menawarkan gagasan konsolidasi nasional NU dari tingkat PBNU, PWNU hingga PCNU. Gagasan itu ia bentuk karena melihat selama ini PBNU, PWNU dan PCNU kerap berjalan masing-masing dengan gagasannya sendiri-sendiri.

Dengan konsolidasi, Yahya yakin bisa memperkokoh kepengurusan NU di tingkat pusat hingga cabang. "Dan rupanya ini [gagasan] mudah ditangkap oleh PCNU. Nah saya juga sudah berkomunikasi dengan berbagai pihak yang kita harapkan jadi semacam akselerator atau pihak yang membantu, meski bukan dari NU, tapi mau bekerja sama dengan NU," kata dia.

Tak hanya itu, Yahya juga memiliki gagasan melakukan aktivasi kegiatan ekonomi PCNU yang tersebar lebih dari 500 wilayah di Indonesia. Baginya, PCNU memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi umat Islam saat ini.

"Kalau kita bicara soal cabang-cabang kita punya 500-an lebih cabang. Itu outlet ekonomi, semua orang bisa pakai, pemerintah bisa pakai untuk salurkan agenda-agenda, misalnya investasi, bisa dilakukan memanfaatkan ini. Jadi kita ingin aktivasi cabang-cabang agar bergerak untuk menjalankan agenda-agenda itu," ucapnya.

Muktamar NU ke-34 dihelat pada 23-25 Desember mendatang. Sejumlah nama menyeruak dalam bursa calon ketua umum PBNU. Survei Indostrategic baru-baru ini memunculkan nama KH Marzuki Mustamar sebagai tokoh dengan elektabilitas tertinggi.

Marzuki adalah Ketua PWNU Jawa Timur. Posisi kedua dalam survei Indostrategic ditempati KH Hasan Mutawakkil Alallah dengan elektabilitas 22,2 persen, ditempel KH Said Aqil Siradj 14,8 persen yang juga incumbent Ketum PBNU saat ini.

Selain itu ada nama tokoh muda Bahaudin Nursalim alias Gus Baha. Yahya tak menampik jika pengurus NU di level wilayah dan cabang banyak yang berkeinginan untuk melakukan regenerasi kepemimpinan di tubuh PBNU.

Terlebih lagi, saat ini banyak tokoh-tokoh NU juga diisi oleh banyak kalangan muda. Yahya juga mengatakan kerap menulis dan berbicara di publik soal ide dan gagasannya mengenai NU ke depan.

Ia sendiri tak menyangka bahwa gagasan tersebut disambut positif oleh para pengurus daerah NU saat ini. "Sehingga aspirasi untuk menempatkan mereka dalam kepemimpinan kuat sekali. Yang sangat kuat aspirasinya dan banyak memang soal regenerasi," kata dia.

"Dan ini cepat sekali. Saya terkejut kenapa secepat ini. Saya menyatakan secara eksplisit ke publik awal September," tambahnya.

(rzr/wis)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Katib Aam PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) KH Yahya Cholil Staquf kembali dipercaya untuk berbicara pada pertemuan tingkat internasional yang membahas tentang pentingnya perdamaian global.

Kamis (9/9/2021), Kiai Yahya diundang secara khusus oleh Regent University, Virginia, Amerika Serikat untuk menjadi narasumber peringatan 20 tahun atas Serangan Gedung World Trade Center (WTC) New York, 11 September 2001.

Pembicara lain pada acara yang disiarkan secara internasional ini antara lain mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Pat Robertson, pendiri Regent University, tokoh-tokoh dari kalangan diplomatik, ahli dan pemegang wewenang militer, keamanan dan hukum, serta intelektual AS.

Dalam paparannya, Gus Yahya, sapaan akrabnya, menekankan bahwa pasca serangan WTC tatanan dunia membutuhkan pengelolaan yang semakin tangguh.

Di antaranya adalah dengan menjaga keutuhan negara-bangsa yang ditopang lewat tradisi keagamaan dan budaya lokal yang kokoh dari serangan ideologi-ideologi transnasional. Ideologi itu bisa didasarkan pada identitas agama, etnik atau ras, maupun gagasan-gagasan sekuler.

"Ini krusial sekali karena senyawa antara negara-bangsa, tradisi keagamaan dan budaya lokal adalah satu-satunya struktur dasar yang tersedia dalam tata dunia saat ini untuk mengelola proses negosiasi global menuju peradaban yang harmonis," kata Gus Yahya yang memberikan paparannya melalui rekaman video.

Melalui kecermatan dalam pola adaptasi terhadap globalisasi tersebut, maka tatanan dunia diyakini akan semakin membaik. Namun sebaliknya, jika negosiasi ini gagal, maka ketegangan-ketegangan baru bisa saja tak terhindarkan.

"Negara-bangsa adalah fondasi tata dunia pasca Perang Dunia Kedua yang menopang stabilitas dan keamanan global saat ini," tandasnya.

Pada kesempatan itu, Gus Yahya juga menjelaskan potensi besar yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU) dengan tradisi keagamaan lokalnya yang kokoh serta bangsa Indonesia dengan visi "Bhinneka Tunggal Ika" dalam rangka membangun peradaban umat manusia.

Melalui tradisi keagamaan lokal dan visi bangsa itu, Gus Yahya menilai proses perwujudan konsensus menuju peradaban global yang harmonis bukanlah impian.

Acara peringatan Serangan WTC yang digelar Regent University dipandu langsung oleh Michele Bachmann, dekan pada The Robertson School of Government di kampus tersebut.

Pada kesempatan itu, Michele Bachmann menyampaikan kekagumannya dan memberikan apresiasi atas pidato Gus Yahya. Bahkan Bachmann menyebut "Pak Yahya sebagai suara muslim terdepan dalam menghadapi ekstremisme."

(abd)

Diterbitkan di Berita