Jakarta, CNBC Indonesia - Menyusul keberadaan sejumlah varian Covid-19 di global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja mengumumkan varian baru bernama Lambda. Varian itu masuk dalam daftar Variant of Interest atau VOI.

"Pada 14 Juni 2021, varian yang ditetapkan untuk garis keturunan Pango C.37, clade GR/452Q.V1, NexStrain clade 20D, ditetapkan sebagai VOI global dan diberi label WHO Lambda," tulis buletin WHO, dikutip India Today, Sabtu (26/6/2021).

Varian Lambda menambah panjang daftar varian Covid-19 yang beredar di dunia saat ini. Misalnya saja varian Delta yang menyebabkan 'tsunami' Covid-19 di India dan juga masuk dalam klasifikasi VOI WHO pada Mei lalu.

Klasifikasi itu diberikan karena varian terbukti lebih menular, mematikan, atau lebih resite pada vaksin serta perawatan yang dilakukan saat ini. Varian Delta juga telah ditemukan di 92 negara dunia.

Untuk mengenal lebih jauh, berikut sejumlah fakta mengenai varian baru Lamdba:

1. Masuk Varian VOI
WHO menyebutkan Lambda telah lama dipantau sebagai varian yang perlu mendapat peringatan.

Berdasarkan informasi lebih lanjut dan penilaian yang diperbarui, varian ini sekarang telah dianggap sebagai 'memenuhi definisi kerja VOI berdasarkan bukti kemunculan yang berkelanjutan dan dugaan implikasi fenotipik'.

2. Terdeteksi Pertama Kali di Peru
WHO menyebutkan jika Lambda terdeteksi awalnya di Peru pada Agustus 2020. Laporan WHO menyebutkan di negara itu hingga April 2021, 81% kasus merupakan varian Lambda.

3. Meluas ke 29 Negara
Sejak ditemukan di Peru, varian itu dilaporkan telah ditemukan di 29 negara, yakni sebagian besar Amerika Latin termasuk Argentina dan Chili.

Di Chili 32% dalam 60 hari di Chili juga berasal dari varian yang sama. Varian itu beredar bersama pada tingkat yang sama dengan varian Gamma (33%), namun mengalahkan varian Alpha (4%) pada periode yang sama.

Argentina melaporkan prevalensi Lambda sejak minggu ketiga Februari 2021. Sejak 2 April hingga 19 Mei, Lambda menyumbang 37% dari kasus yang ada.

3. Bawa Sejumlah Mutasi

WHO menyebutkan Lambda membawa sejumlah mutasi, yakni dengan dugaan implikasi fenotipik, seperti potensi peningkatan penularan atau kemungkinan peningkatan resistensi terhadap antibodi pentetral.

"Ini ditandai dengan mutasi pada protein lonjakan, termasuk G75V, T761, del247/253, L452Q, F490S, D614G dan T859N," ungkap WHO.

WHO mengatakan telah ada bukti terbatas mengenai dampak penuh dengan perubahan genom. Lembaga itu mencatat studi lebih lanjut mengenai dampak fenotipik diperlukan, untuk lebih memahami dampak pada tindakan pencegahan dan mengendalikan penyebaran.

Selain itu penelitian juga dibutuhkan untuk memahami dampak pada tindakan pencegahan dan mengendalikan penyebaran.

4. Keefektifan Vaksin

Kehadiran varian baru juga diikuti dengan pertanyaan apakah bisa dilawan dengan vaksin yang ada. Namun nampaknya belum ada jawaban soal pertanyaan itu.

Sebab WHO mengatakan dibutuhkan studi lebih lanjut untuk memvalidasi efektivitas vaksin yang berkelanjutan.


(tas/tas)

Diterbitkan di Berita

JAKARTA - Jerinx pernah dipenjara setelah dinyatakan bersalah menyebut IDI sebagai kacung WHO. Setelah bebas, nampaknya Jerinx belum bisa move on dari ungkapan yang membuatnya dipenjara. Buktinya, dia kembali mengutarakan hal yang sama saat meluapkan kemarahannya pada Tompi. 

Personil Superman Is Dead (SID) ini mengungkapkan amarahnya kepada Tompi lantaran pernyataannya di podcast Deddy Corbuzier pada 5 bulan silam. Hal ini terungkap dari unggahan Instagram pribadinya. Saar itu, Tompi menyindirnya karena Jerinx SID dinilai hanya omong kosong untuk bertemu langsung dengan pasien Covid-19 dan disuntikkan virus ke tubuhnya.

Melalui Instagram Story-nya, musisi berusia 44 tahun itu mengaku ingin membeberkan isi pesan dirinya dengan penyanyi yang juga dokter itu. Jerinx SID menyebut Tompi mengidap megalomania, masalah mental yang memusatkan perhatian diri sendiri.

"Ingin sekali menyebar chat pribadi saya dengan 'dokter' Tompi agar orang-orang tahu betapa psiko dan megalomaniaknya seleb ini," tulis Jerinx SID, dikutip dari Insta Story pada Rabu, 23 Juni. 

 

 

Jerinx SID kesal saat Tompi tak mau meminta maaf kepadanya atas ucapannya yang meremehkan sang musisi asal Bali di Podcast Deddy Corbuzier.

"Serasa sedang chat sama Tuhan, bedanya ini Tuhan versi ibukota yang rela lakukan apa saja demi gengsi (termasuk menolak meminta maaf meski sudah terbukti bacotan dia di podcast Deddy 100 persen sampah)," tuturnya.

Lebih lanjut, dia menyebut sikap Tompi untuk menolak meminta maaf dikarenakan gengsi. Jerinx juga menyebut sang dokter ahli bedah plastik sebagai sampah.

"Tapi dipikir-pikir, sikap Tompi (menolak meminta maaf demi gengsi) ini emang udah umum di kalangan kacxng WHO. Di Bali juga banyak yang kayak gini. Sampah." pungkasnya. 

Kata-kata Jerinx ini berbeda dengan janjinya saat duduk di kursi terdakwa.

Jerinx SID pernah memohon agar majelis hakim bisa memutuskan perkaranya dengan bijak sesuai fakta persidanga dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama yang dianggap mencemarkan nama baik Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Jerinx mengaku akan bijak menggunakan media sosial.

“Saya juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama, tidak akan membuat gaduh pihak yang merasa terganggu oleh saya. Jika saya terbukti melakukan hal yang sama, terbukti melakukan kegaduhan lagi, saya siap sekali dihukum seberat-beratnya meskipun tanpa pengadilan,” imbuhnya.

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Covid-19 varian Delta yang pertama kali ditemukan di India bakal mendominasi kasus penularan secara global. Kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan mengatakan, adanya varian Covid-19 baru yang lebih menular meningkatkan kebutuhan akan vaksin yang efektif.

Inggris melaporkan lonjakan kasus infeksi yang tajam akibat varian Delta, memaksa Perdana Menteri Boris Johnson untuk memperpanjang pembatasan hingga akhir Juli.

Pejabat kesehatan Jerman memperkirakan Delta bisa dengan cepat menjadi varian dominan di negaranya meskipun jumlah warga yang menerima vaksin sudah terbilang banyak.

Di Rusia, pemerintah menyebut lonjakan kasus infeksi harian sebagian besar dipicu varian Delta. Negara itu berada di ambang gelombang ketiga wabah virus corona setelah penambahan kasus harian mencetak rekor lagi, terutama di Moskow.

Pemerintah Rusia juga menyalahkan warganya yang enggan mendapatkan vaksin Covid-19.

"Delta dalam perjalanan untuk menjadi varian dominan secara global karena peningkatan transmisibilitasnya," kata Swaminathan, dalam pernyataan dari Jenewa, Swiss, dikutip dari Reuters, Sabtu (19/6/2021).

Dilansir ABC varian Delta pertama kali terdeteksi di India pada Oktober tahun lalu. Saat ini strain dominan di Inggris, menurut angka Kesehatan Masyarakat Inggris. 

Pihak berwenang Inggris memperkirakan varian Delta 40 persen lebih menular daripada varian Alpha yang membuat Inggris memberlakukan lockdown pada awal tahun. 

Sedangkan, daftar gejala terbaru menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), yaitu kelelahan, nyeri otot atau tubuh, sakit kepala, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau pilek, mual atau muntah, dan diare sebagai kemungkinan gejala infeksi. 

Pada Rabu (16/6/2021) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan varian Delta telah terdeteksi di lebih dari 80 negara dan terus bermutasi saat menyebar.

 

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman mengungkapkan untuk sementara ini setidaknya ada 59 kasus mutasi virus corona (SARS-CoV-2) yang tergolong 'Variant of Concern (VoC)' atau varian yang perlu diwaspadai, berhasil teridentifikasi di Indonesia.

Puluhan kasus yang terdeteksi berdasarkan hasil Whole Genome Sequence (WGS) it terdiri atas tiga varian, yakni virus corona B117, B1617, dan B1351.

Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio menjelaskan, teknik pencarian strain virus baru WGS dilakukan bersama antara pihaknya dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan serta beberapa Universitas di Indonesia.

Amin juga menyebut Indonesia telah melaporkan temuan itu ke lembaga Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). GISAID adalah sebuah lembaga bank data yang saat ini menjadi acuan untuk data genom virus corona SARS-CoV-2.

"Data terakhir di beberapa hari yang lalu, kita sudah mendapatkan 23 virus dari B117, kemudian B1617 ini sudah ada 32 isolat yang diidentifikasi.

Kemudian yang dari Afrika Selatan B1351 ini ada 4 isolat sudah berhasil diidentifikasi," kata Amin dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Mikrobiologi FK-KMK UGM sebagaimana dikutip CNNIndonesia.com, Senin (31/5).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kata dia, sebelumnya sudah menetapkan ada empat varian yang masuk dalam kategori VoC atau varian yang perlu diwaspadai, yaitu B117 dari Inggris, B1351 dari Afrika Selatan, B1617 dari India dan P1 dari Brasil.

VoC merupakan varian yang memiliki peningkatan penularan atau perubahan yang merugikan dalam epidemiologis, memiliki peningkatan virulensi atau perubahan presentasi penyakit klinis, bahkan mampu menurunkan efektivitas vaksin. 

Hanya saja masih sedikit bukti sehingga perlu penelitian lebih lanjut.

 
Infografis fakta mutasi covid-19 B117 Inggris masuk RI
Infografis fakta mutasi Covid-19 B117 Inggris masuk RI. (CNN Indonesia/Fajrian)

 

Lebih lanjut, Amin juga menyoroti perkembangan mutasi VoC di Indonesia mulai terlihat sejak awal 2021. Tapi menurut dia, puncaknya mulai terlihat pada April 2021 lalu.

"Puncaknya terjadi bulan April yang lalu, B1617 ini meningkat tajam, ini karena memang ada beberapa visitor yang berasal dari India sana datang ke Indonesia," ungkap Amin.

Amin sebelumnya juga menilai eksistensi mutasi VoC tersebut dikhawatirkan mampu mempengaruhi target herd immunity atau kekebalan kelompok terhadap virus corona di Indonesia.

Kendati demikian, ia menyebut hingga saat ini target capaian herd immunity masih belum bisa diprediksi dengan akurat, lantaran masih perlu dipastikan melalui serangkaian zero surveillance test.

(khr/nma)

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Sebuah draf salinan studi bersama antara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan China tentang asal-usul munculnya COVID-19 menyimpulkan bahwa penularan virus dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain adalah skenario yang paling mungkin terjadi, menurut Associated Press.

Kebocoran virus dari laboratorium ke publik dianggap sangat tidak mungkin menurut hasil investigasi bersama itu, kata kantor berita tersebut. Studi itu juga mengungkapkan bahwa cerpelai dan kucing rentan terhadap virus corona sehingga menyiratkan bahwa mereka juga bisa menjadi pembawa virus itu.

Seorang diplomat yang berbasis di Jenewa dari sebuah negara anggota WHO berbagi hasil penelitian yang tampaknya mendekati versi final dengan Associated Press, Senin (29/3). Namun, kantor berita itu tidak mengungkap identitas diplomat tersebut karena ia tidak berwenang untuk menyampaikan informasi sebelum dipublikasikan.

 

Laporan itu sebagian besar didasarkan pada kunjungan yang dilakukan tim ahli internasional awal tahun ini ke Wuhan, lokasi di China di mana virus corona pertama kali muncul. Para peneliti membuat daftar empat skenario dalam urutan kemungkinan munculnya virus bernama SARS-CoV-2.

Daftar teratas adalah penularan melalui hewan kedua, yang menurut mereka sangat mungkin terjadi. Mereka mengevaluasi kemungkinan penyebaran langsung dari kelelawar ke manusia, dan mengatakan bahwa penyebaran melalui produk makanan “rantai dingin'' mungkin terjadi tetapi tidak mungkin.

Kerabat terdekat dari virus penyebab COVID-19 telah ditemukan pada kelelawar, yang diketahui bisa membawa virus corona. Namun, laporan tersebut mengatakan bahwa jarak evolusioner antara virus kelelawar ini dan SARS-CoV-2 diperkirakan beberapa dekade sehingga menunjukkan adanya mata rantai yang hilang.

 

Peter Ben Embarek, pakar WHO yang memimpin misi Wuhan, mengatakan, Jumat pekan lalu, bahwa laporan tersebut telah diselesaikan dan sedang diperiksa faktanya dan diterjemahkan. “Saya harapkan dalam beberapa hari mendatang seluruh proses itu sudah selesai dan bisa kita rilis ke publik," ujarnya.

Draf laporan tidak berhasil memastikan apakah wabah itu dimulai di pasar makanan laut Wuhan yang memiliki salah satu kelompok kasus paling awal pada Desember 2019.

Penemuan sejumlah kasus lain sebelum wabah pasar Huanan terkuak menunjukkan kemungkinan wabah dimulai di tempat lain. Namun laporan tersebut mencatat, mungkin ada kasus yang lebih ringan yang tidak terdeteksi dan itu bisa menjadi penghubung antara pasar Huanan dan kasus-kasus sebelumnya.

“Karena itu, tidak ada kesimpulan pasti mengenai peran pasar Huanan sebagai asal mula wabah, atau bagaimana infeksi masuk ke pasar itu,'' kata laporan itu. [ab/ka]

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan tidak ada indikasi terkait dengan pembekuan darah, yang telah dilaporkan dalam beberapa hari terakhir atas penggunaan vaksin virus Corona (Covid-19) buatan Oxford atau AstraZeneca.

WHO juga mendesak banyak negara untuk melanjutkan pemberian vaksin tersebut karena tidak ditemukannya indikasi.

"Setiap sinyal keamanan harus diselidiki. Tapi itu adalah vaksin yang baik dan tidak ada hubungan sebab akibat yang telah dibuat antara vaksin dan masalah kesehatan yang dilaporkan," kata Dr Margaret Harris, juru bicara WHO, dikutip dari Independent, Senin (15/3/2021).

Menurut European Medicines Agency, hingga saat ini ada 30 kejadian tromboemboli yang dilaporkan di Eropa setelah vaksin diberikan. WHO sedang menyelidiki kasus penggumpalan darah tersebut, tetapi mengatakan vaksinasi dapat terus berlanjut selama proses peninjauan dilakukan.

Sebelumnya, otoritas kesehatan di Denmark, Norwegia, hingga Islandia menangguhkan penggunaan vaksin itu minggu ini. Langkah ini diambil, setelah ditemukannya tromboemboli (bekuan darah yang bergerak) pada beberapa orang yang telah menerima vaksin.

Namun, saat ini tidak ada bukti bahwa vaksin menyebabkan pembentukan gumpalan darah ini, yang tidak terdaftar sebagai efek samping dari vaksin AstraZeneca. WHO mengatakan, komite penasihat ahli saat ini sedang meninjau laporan tersebut, tetapi bersikeras tidak ada alasan untuk berhenti menggunakan vaksin.

Saat ini, sekitar lima juta orang Eropa telah menerima vaksin AstraZeneca, sedangkan di Inggris mencapai 11 juta jiwa. Badan Pengatur Produk Kesehatan dan Obat-obatan Inggris (MHRA) juga mendesak orang-orang untuk mendapatkan vaksin ketika diminta untuk melakukannya.

"Laporan pembekuan darah yang diterima sejauh ini tidak lebih besar dari jumlah yang akan terjadi secara alami pada populasi yang divaksinasi," ucap Dr Phil Bryan, kepala keamanan vaksin MHRA. Sementara itu, Jerman dan Portugal akan terus mendistribusikan dan menggunakan vaksin.

Pemerintah Portugal mengatakan bahwa manfaat vaksin lebih besar daripada risiko yang ditimbulkannya terhadap pasien. Sama seperti WHO, Portugal juga tidak mengidentifikasi hubungan sebab akibat antara penggunaan vaksin dan pembekuan darah.

Australia, yang telah memberikan 300.000 dosis, juga menyatakan akan melanjutkan pemberian vaksin AstraZeneca. Pihak AstraZeneca mengatakan bahwa analisis data keamanan menunjukkan, tidak ada bukti peningkatan risiko emboli paru atau trombosis vena, pada kelompok usia atau jenis kelamin di negara tertentu dengan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Editor: Heri Firmansyah

Diterbitkan di Berita
Firdaus Anwar - detikHealth Jakarta - Vaksin COVID-19 yang dikembangkan Johnson & Johnson (J&J) telah mendapat izin dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (12/3/2021). Ini jadi jenis vaksin COVID-19 ketiga yang dimasukkan dalam Emergency Use Listing (EUL) setelah vaksin dari Pfizer dan AstraZeneca.

"Setiap alat baru yang aman dan efektif melawan COVID-19 adalah selangkah lebih dekat dalam mengendalikan pandemi... EUL merupakan lampu hijau bagi vaksin untuk bisa dibeli dan didistribusikan oleh COVAX," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (13/3/2021).

Vaksin COVID-19 J&J disebut memiliki kelebihan karena diberikan dalam bentuk dosis tunggal. Artinya vaksin tidak harus disuntikkan dua kali seperti halnya vaksin Sinovac, Pfizer, maupun AstraZeneca untuk memberikan efek perlindungan yang maksimal.

Penasehat senior WHO, Bruce Aylward, juga mengatakan bahwa vaksin COVID-19 J&J tidak membutuhkan tempat penyimpanan yang terlalu dingin.

"Karena itu vaksin ini bisa jadi lebih cocok untuk negara-negara tertentu yang mengalami dampak parah pandemi," kata Bruce.

Rencananya COVAX akan membeli dan mendistribusikan lebih dari 500 juta dosis vaksin COVID-19 J&J


(fds/up)
  
Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (1/3) mengatakan jumlah kasus virus corona bertambah di seluruh dunia untuk pertama kalinya dalam tujuh minggu.

Dalam pengarahan di markas organisasi itu di Jenewa, Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan peningkatan terjadi di empat kawasan: Amerika, Mediterania timur, Eropa dan Asia Tenggara.

Kepala WHO mengatakan peningkatan itu "mengecewakan tapi tidak mengejutkan." Dia mengatakan kenaikan itu sepertinya akibat pelonggaran protokol kesehatan, penyebaran berbagai varian baru, dan "orang-orang mulai lengah." Dia mengisyaratkan bahwa program vaksinasi di seluruh dunia mungkin juga ikut menyebabkannya.

 

Tedros menekankan vaksin akan membantu menyelamatkan nyawa. Tapi apabila negara-negara hanya bergantung pada vaksin, mereka melakukan kesalahan. Dia mengatakan, "Upaya kesehatan masyarakat masih menjadi dasar respons COVID-19."

Dia menambahkan bahwa tes, pelacakan kontak, isolasi, karantina dan akses ke layanan kesehatan masih tetap vital. "Bagi para individu, ini artinya menghindari kerumunan, menjaga jarak, mencuci tangan, mengenakan masker dan mengatur ventilasi," katanya. [vm/ka]

Diterbitkan di Berita

Rendra Saputra - Hops.ID

Pendakwah Ustaz Yahya Waloni menyatakan dirinya tak akan pernah mau pakai masker dan divaksin seumur hidupnya. Hal itu dia katakan lantaran dirinya merasa sehat walafiat.

Dalam sebuah ceramah terbarunya, Ustaz Yahya Waloni juga sangat yakin kalau dia tak bakal kena penyakit yang namanya covid-19.

Pada kesempatan itu, dikutip di Hadist TV, Jumat 26 Februari 2021, Ustaz Waloni lantas menyarankan agar Jokowi menyerukan kepada masyarakat untuk melepas maskernya. Presiden Jokowi juga diajak untuk lebih percaya pada Allah SWT, bukan pada fenomena yang terjadi di dunia saat ini.

“Kalau saya boleh saran ke Pak Jokowi dan Pak Maruf, Pak Jokowi, Pak Maruf, bagaimana kalau kita sepakat bangsa ini berhenti lah ribut-ribut, lepas lah masker-masker semua, enggak usah percaya tuh covad-covid, percaya sama Allah SWT,” kata dia disambut takbir jemaah.

Dia kemudian bertanya kepada jemaah, apakah mau untuk melepas maskernya. Sebab dia sadar kalau jemaah memakai masker bukan karena takut akan penyakit, melainkan sekadar takut dianggap melanggar protokol kesehatan yang ditentukan Pemerintah.
 
 
Presiden Jokowi berpidato di PBB. Foto Ist via SuaraSurabaya.
Presiden Jokowi berpidato di PBB. Foto Ist via SuaraSurabaya.

“Coba saya tanya ke jemaah, mau enggak lepas masker? Antum kan pakai masker ini saya tahu bukan takut penyakit, bukan. Kalau takut penyakit enggak mungkin datang ke sini. Antum pakai masker ini karena antum takut didelik, ditangkap, diproses, kena pasal covad-covid,” katanya lagi.

Ustaz Yahya Waloni lalu bilang, kunci sehat pada dirinya lantaran dia rajin berolahraga. Sehingga dia terbebas dari covid. Termasuk rutinitas push up sebelum mandi yang sering dia lakukan. “Sampai mati saya enggak akan mau divaksin. Sebelum mandi saya push up, bagaimana enggak sehat.
Coba Pak Jokowi mau umumkan, (bilang) ekonomi kita mau tumbuh, jangan percaya WHO, jangan percaya,” katanya lagi.
 
 
Ustaz Yahya Waloni sadar penjara mengancam

Pada kesempatan itu dia lantas menegaskan pernyataannya. Kata Yahya, ungkapan itu bukan berarti dirinya mengajak agar para jemaah untuk tak pakai masker. Sebab masker tak mengapa tetap dipakai selagi pemerintah menganjurkan. Namun yang pasti, dia tak akan mau memakainya karena dia lagi-lagi menyatakan dirinya sehat.

“Nanti saya mau dibilang (dilaporkan) larang vaksin. Saya tak mau terjebak di persoalan itu. Anda nonton di Youtube lalu laporkan saya soal ini. Hahaha, antum baru jadi ular (kamu munafik –menurutnya), saya sudah jadi ular dari dulu,” katanya lagi.

 

Ustaz Yahya Waloni. Foto: Youtube.
Ustaz Yahya Waloni. Foto: Youtube.

 

Di ceramahnya tersebut, Ustaz Yahya Waloni lantas bercerita soal pengalaman bagaimana anaknya mengalami demam ketika melakukan perjalanan dari Jambi ke Riau. Sang istri sempat memintanya untuk menepi ke Puskesmas untuk memeriksa kesehatan anaknya.

Namun oleh Yahya Waloni, tak digubris. “Enggak usah, kalau di sana nanti dibilang covad-covid bagaimana.” Waloni justru meminta agar istri dan anaknya percaya dengan tiupan manjurnya. “Di pom bensin saya tiup sekali hilang itu, saat berhenti di pom bensin.

Kita salat berjamaah, saya tiup, dingin tuh anak. Coba itu kalau di Puskesmas, kalaupun dibilang negatif, pasti kena Rp500 ribu itu,” katanya lagi.

 

Diterbitkan di Berita
Khadijah Nur Azizah - detikHealth Jakarta - Kasus infeksi COVID-19 di Indonesia masih terus bertambah setiap harinya. Pemerintah melaporkan penambahan 10.029 kasus baru COVID-19 pada hari Selasa (16/2/2021) sehingga total pasien terkonfirmasi saat ini adalah 1.233.959 pasien.

Jika dilihat dari jumlah kasus konfirmasi per hari ini, angkanya terlihat menurun. Hanya saja, pemeriksaan spesimen juga mengalami penurunan dibandingkan hari-hari biasanya.

Per Selasa (16/2/2021) jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 28.167 dan menghasilkan kasus positif 10.029 orang dan menjadikan angka positivity rate di Indonesia sebesar 35,60 persen.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) angka ideal positivity rate COVID-19 maksimal 5 persen. Artinya, per hari ini, angka positivity rate Indonesia tujuh kali lipat lebih tinggi dari standar WHO.

Positivity rate adalah persentase jumlah kasus positif COVID-19 dengan membadungkan jumlah tes dengan orang yang positif. Positivity rate dihitung dari kasus positif COVID-19 dibagi jumlah orang yang diperiksa, kemudian dikali 100 persen.

Berikut data positivity rate di Indonesia sepekan terakhir:

16 Februari

Jumlah spesimen: 28.167
Konfirmasi positif: 10.029
Positivity rate: 35,60 persen

15 Februari

Jumlah spesimen: 26.379
Konfirmasi positif: 6.462
Positivity rate: 24,49 persen

14 Februari

Jumlah spesimen: 35.849
Konfirmasi positif: 6.765
Positivity rate: 18,87 persen

13 Februari

Jumlah spesimen: 37.816
Konfirmasi positif: 8.844
Positivity rate: 23,38 persen

12 Februari

Jumlah spesimen: 53.957
Konfirmasi positif: 9.869
Positivity rate: 18,29 persen

11 Februari

Jumlah spesimen: 71.511
Konfirmasi positif: 8.435
Positivity rate: 11,79 persen

10 Februari

Jumlah spesimen: 70.312
Konfirmasi positif: 8.776
Positivity rate: 12,48 persen

(kna/up)
 
Diterbitkan di Berita
Halaman 2 dari 2