JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Keturunan Tionghoa asal Jakarta, gagah dan masih muda. Dia adalah salah satu pilot andalan TNI AU yang menerbangkan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon.

Darah Tionghoa tak menghalangi tekad bajanya untuk mengabdi pada bangsa dan negara. Temannya sering memanggilnya Acong.

Marko Andersen Sasmita pria keturunan Tionghoa asal Jakarta, terpilih menjadi salah satu pilot untuk menerbangkan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon. Sejak duduk di bangku SMA Marko sudah bercita-cita sebagai pilot. Semangat dan kerja kerasnya menjadikan

Marko adalah satu dari delapan wisudawan AAU 2012 yang terpilih masuk skadron tempur. Darahnya Tionghoa, namun punya nyali rajawali. Dia salah satu Pilot Tempur Andalan TNI AU.

Saat ini Marko adalah satu-satunya tentara dalam keluarga besarnya. Namun ia sangat bersyukur karena mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya untuk menggapai cita-citanya sejak SMA itu. 

Lettu Pnb Marko Andersen menjadi contoh, apapun warna darahmu : mengabdi pada negara adalah amanah suci, panggilan hidup mulia. Setiap orang yang memenuhi panggilan hidup itu - apapun bentuk dan caranya - mulia adanya.

Mengingat masalalu, Marko tidak ragu meskipun ia keturunan Tionghoa, karena tekadnya yang kuat untuk menjadi seorang pilot, akhirnya Marko lolos seleksi dan menjadi taruna Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 2008 dan lulus di tahun 2012.

"Sewaktu taruna, dia pernah menjadi Kepala Sekretariat Wing Korps Karbol dan kami biasa panggil dia Acong," kenang Lettu Pas Kholik Maulana, teman seangkatan Marko, dilansir dari Riauonline.

Marko ingin jadi rajawali yang terbang tinggi di langit republik, menjaganya dengan segenap jiwa raga. Dia telah mewakafkan hidupnya dengan menjadi pilot tempur.

“Dari ketinggian langit, rajawali Tionghoa itu seperti berteriak nyaring melengking, Aku 100% Tionghoa, 100% Indonesia. Dan aku menjaga negeriku dengan 100% jiwa ragaku,” demikian tulis Hery Tjahyadi, di akun Instagramnya, Sabtu, (20/8/2021).

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Dua pesawat TNI Angkatan Udara (AU), Cassa A-2105 dan CN-295 A-2901, dikerahkan untuk memodifikasi cuaca di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi ( Jabodetabek) pada Selasa (23/2/2021).

Upaya kerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tersebut bertujuan mengurangi intensitas hujan dan menekan risiko banjir.

"Saat ini titik fokus penyemaian garam berada di daerah pantai timur Lampung, Selat Sunda, Ujung Kulon sampai ke perairan selatan Provinsi Banten, setelah di semai, proses menurunnya hujannya sekitar 1 sampai 6 jam," ujar Koordinator Lapangan Tim BPPT Dwipa Wirawan Soejoed, dalam keterangan tertulis, Selasa (23/2/2021).

Modifikasi cuaca dilaksanakan dalam tiga tahap. Dua tahap dilakukan pesawat Cassa A-2105 dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh.

Pesawat ini diterbangkan Kapten Pnb Wanto di atas ketinggian 9.000-10.000 kaki dengan membawa 800 kilogram garam. Satu tahap dilakukan pesawat CN-295 A-2901 dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma.

Pesawat yang diterbangkan Kapten Pnb Iskandar tersebut mengudara di atas ketinggian 10.000-12.000 kaki dengan membawa 2,4 ton garam.

Penulis : Achmad Nasrudin Yahya
Editor : Kristian Erdianto

Diterbitkan di Berita