VOA Indonesia Kepala juru bicara Pemerintah Afghanistan Zabihullah Mujahid hari Rabu (10/11) menyerukan seluruh mantan pilot militer Afghanistan untuk tetap berada di negara itu, dengan mengatakan mereka akan dilindungi oleh amnesti dan tidak akan ditahan.

“Pesan saya adalah tidak akan ada masalah keamanan terhadap para pilot ini di Afghanistan. Tidak ada rencana untuk menangkap mereka. Amnesti telah diumumkan. Para pilot, baik yang berasal dari militer maupun maskapai penerbangan swasta, dapat direkrut kembali dan mengabdi bagi negara ini. Kami akan memfasilitasi mereka. Mereka tidak perlu melarikan diri. Kami ingin kembali mengundang mereka. Kepergian sebagian pilot ini sangat disesalkan,” kata Zabihullah.

Pernyataan itu disampaikan di tengah laporan bahwa lebih dari 140 pilot Afghanistan yang sebelumnya dilatih oleh Amerika dan sejumlah awak pesawat telah meninggalkan Tajikistan dalam sebuah evakuasi yang dimediasi Amerika hari Selasa (9/11), tiga bulan setelah mereka mengungsi ke negara itu pasca pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban. Associated Press belum dapat mengkonfirmasi laporan tersebut secara independen.

Pilot-pilot Angkatan Udara Afghanistan, bersama mitra-mitra mereka dari Amerika, memainkan peran penting dalam perang melawan gerilyawan Taliban selama 20 tahun yang berakhir dengan penarikan mundur seluruh pasukan asing pada akhir Agustus lalu. Serangan udara itu menimbulkan banyak korban di kalangan Taliban dan berulangkali mengusir kelompok gerilyawan itu dari lokasi-lokasi yang mereka rebut di berbagai bagian negara itu.

Ratusan pilot ini melarikan diri ke negara-negara Asia Tengah, termasuk Tajikistan dan Uzbekistan, setelah runtuhnya pemerintahan Afghanistan yang didukung Amerika dan kembali berkuasanya Taliban. Belum jelas berapa banyak pilot militer dan awak yang tersisa di Afghanistan, dan tingkat risiko apa yang mereka hadapi, atau sejauh mana jaminan Taliban itu dapat dipercaya.

Selama tiga bulan terakhir ini ada beberapa laporan pembunuhan balas dendam oleh Taliban, tetapi tidak dalam skala besar dan teroganisir. [em/jm]

 

Sumber: https://www.voaindonesia.com/a/taliban-serukan-mantan-pilot-angkatan-udara-tak-tinggalkan-afghanistan/6308203.html

 

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Keturunan Tionghoa asal Jakarta, gagah dan masih muda. Dia adalah salah satu pilot andalan TNI AU yang menerbangkan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon.

Darah Tionghoa tak menghalangi tekad bajanya untuk mengabdi pada bangsa dan negara. Temannya sering memanggilnya Acong.

Marko Andersen Sasmita pria keturunan Tionghoa asal Jakarta, terpilih menjadi salah satu pilot untuk menerbangkan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon. Sejak duduk di bangku SMA Marko sudah bercita-cita sebagai pilot. Semangat dan kerja kerasnya menjadikan

Marko adalah satu dari delapan wisudawan AAU 2012 yang terpilih masuk skadron tempur. Darahnya Tionghoa, namun punya nyali rajawali. Dia salah satu Pilot Tempur Andalan TNI AU.

Saat ini Marko adalah satu-satunya tentara dalam keluarga besarnya. Namun ia sangat bersyukur karena mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya untuk menggapai cita-citanya sejak SMA itu. 

Lettu Pnb Marko Andersen menjadi contoh, apapun warna darahmu : mengabdi pada negara adalah amanah suci, panggilan hidup mulia. Setiap orang yang memenuhi panggilan hidup itu - apapun bentuk dan caranya - mulia adanya.

Mengingat masalalu, Marko tidak ragu meskipun ia keturunan Tionghoa, karena tekadnya yang kuat untuk menjadi seorang pilot, akhirnya Marko lolos seleksi dan menjadi taruna Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 2008 dan lulus di tahun 2012.

"Sewaktu taruna, dia pernah menjadi Kepala Sekretariat Wing Korps Karbol dan kami biasa panggil dia Acong," kenang Lettu Pas Kholik Maulana, teman seangkatan Marko, dilansir dari Riauonline.

Marko ingin jadi rajawali yang terbang tinggi di langit republik, menjaganya dengan segenap jiwa raga. Dia telah mewakafkan hidupnya dengan menjadi pilot tempur.

“Dari ketinggian langit, rajawali Tionghoa itu seperti berteriak nyaring melengking, Aku 100% Tionghoa, 100% Indonesia. Dan aku menjaga negeriku dengan 100% jiwa ragaku,” demikian tulis Hery Tjahyadi, di akun Instagramnya, Sabtu, (20/8/2021).

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita

Suara.com Mantan pilot Angkatan Udara Israel memberikan testimoni kejahatan perang yang telah dilakukan pemerintah serta militernya.

Menyadur Anadolu Agency, Selasa (18/5/2021), Yonatan Shapira mengungkapkan pemerintahan yang pernah dibelanya adalah "penjahat perang".

Dalam wawancara dengan Anadolu Agency, mantan pilot Angkatan Udara Israel tersebut menjelaskan apa yang ia rasakan ketika masih bergabung dengan militer.

"Saya menyadari selama Intifada kedua, apa yang dilakukan Angkatan Udara Israel dan militer Israel adalah kejahatan perang," kata Yonatan Shapira.

Ia melanjutkan, "Kami meneror jutaan orang Palestina. Ketika saya menyadari itu, saya memutuskan untuk tidak hanya pergi, tetapi juga mengajak pilot lain untuk menolak menjadi bagian dalam kejahatan ini."

Shapira diberhentikan dari militer pada tahun 2003 setelah menentang kebijakan pendudukan dan penindasan pemerintahan Tel Aviv terhadap Palestina.

Sejak saat itu, ia meluncurkan kampanye yang mendorong anggota militer lainnya untuk tidak mematuhi perintah menyerang warga Palestina.

Sebagai hasil dari kampanye yang dia lakukan dengan teman-temannya, 27 pilot militer telah diberhentikan dari Angkatan Udara Israel sejak 2003 karena menentang perang.

Pendidikan militeristik zionis

Shapira juga berbagi pengalaman ketika dia mengenyam pendidikan di Israel. Ia menyebut, sistem pendidikan Israel kental bernuansa militeristik serta zionisme.

"Anda hampir tidak tahu apa-apa tentang Palestina, Anda tidak tahu tentang Nakba 1948, Anda tidak tahu tentang penindasan yang sedang berlangsung," jelas Shapira.

"Mereka dikirim untuk melempar rudal dan bom di pusat kota Palestina. Pada titik tertentu, saya menyadari bahwa ini adalah tindakan terorisme," katanya.

Shapira juga menegaskan kembali, bersama dengan teman-temannya yang mengundurkan diri dari militer, bahwa tindakan pendudukan Israel adalah kriminal.

"... pendudukan ini adalah tindak kriminal yang sedang berlangsung dan kejahatan perang, dan kami tidak ingin terus mengambil bagian dalam kejahatan perang ini," tegasnya.

Shapira juga mengatakan, karena ingin melindungi publik, dirinya harus berada di sisi Palestina, ketimbang menjadi tentara Israel.

"Ini adalah proses psikologis dan sangat sulit tetapi begitu Anda menyadari bahwa Anda adalah bagian dari organisasi teroris, Anda memahami bahwa Anda harus mengatakan tidak, Anda harus mengambil konsekuensi," Shapira menekankan.

Sebanyak 192 warga Palestina, termasuk 58 anak-anak dan 34 wanita, tewas dan 1.235 lainnya terluka sejak Israel memulai serangan udara di Gaza pada 10 Mei.

Militer Israel mengatakan lebih dari 50 pesawat tempur melakukan serangan selama 20 menit di Jalur Gaza sesaat sebelum fajar pada hari Senin.

Mereka menyerang 35 "target teror" dan menghancurkan lebih dari 15 km (9,3 mil) jaringan terowongan bawah tanah milik Hamas, tambahnya.

Belum ada laporan tentang korban baik luka-luka maupun tewas setelah adanya klaim serangan tersebut.

Diterbitkan di Berita