JAKARTA, REQnews - Kelompok wanita Afghanistan dengan tegas mendesak PBB tidak memberikan kursi kepada perwakilan pemerintahan Taliban.

Salah satu mantan politisi perempuan Afghanistan, Fawzia Koofi berkata, Taliban adalah kelompok ekstremis yang tak pernah mendengarkan dan menampung aspirasi kaum wanita, namun ingin berkuasa penuh atas negara.

“Ini sangat sederhana. PBB perlu memberikan kursi itu kepada seseorang yang menghormati hak semua orang di Afghanistan," kata Koofi, seperti dikuti Jumat 22 Oktober 2021.

"Kami banyak dibicarakan, tetapi kami tidak didengarkan. Bantuan, uang, pengakuan, semuanya adalah pengaruh yang harus digunakan dunia untuk inklusi, untuk menghormati hak-hak perempuan, untuk menghormati hak semua orang," ujar dia menambahkan.

Sementara eks mantan politikus lainnya Naheed Fareed menyebut, Taliban sudah ingkar janji, dari apa yang mereka kampanyekan bahwa perempuan diizinan bekerja dan mendapatkan pendidikan.

“Ketika Taliban merebut Afghanistan, mereka mengatakan akan memberikan izin kepada perempuan untuk bekerja dan kembali ke sekolah, tetapi mereka tidak menepati janji itu,” kata Fareed. Seperti diketahui, Taliban merebut kekuasaan Afghanistan pada pertengahan Agustus 2021 lalu. 

Setelah berkuasa, Taliban berjanji akan memenuhi serta menghormati hak-hak perempuan sesuai dengan hukum Islam. Namun, kenyataannya, masih terjadi banyak diskriminasi, bahkan Kementerian Urusan Perempuan Afghanistan dihapuskan.

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia Pejabat PBB yang menjadi Koordinator Kemanusiaan dan Kediaman Warga di Yaman, David Gressly, mengatakan konflik dan kekerasan yang terus berlanjut di Yaman berdampak besar pada warga yang sangat ingin dapat segera membangun kembali kehidupan mereka.

Gressly berbicara di Jenewa pada Senin (11/10), sehari setelah ledakan bom mobil di kota pelabuhan Aden yang menewaskan sedikitnya 25 orang dan melukai 110 orang lainnya.

“Saya melihat hancurnya sekolah, pabrik, jalan, jembatan dan juga sistem listrik. Hal-hal yang tujuh tahun lalu membuat Yaman dapat berfungsi, kini sudah tidak lagi ada," katanya.

Pasukan keamanan Yaman dan tim penyelamat berkumpul di sekitar bangkai mobil yang terbakar menyusul ledakan yang melanda kota pelabuhan selatan Yaman, Aden, pada 10 Oktober 2021. (Foto: AFP)
Pasukan keamanan Yaman dan tim penyelamat berkumpul di sekitar bangkai mobil yang terbakar menyusul ledakan yang melanda kota pelabuhan selatan Yaman, Aden, pada 10 Oktober 2021. (Foto: AFP)

Mantan pekerja bantuan itu memperingatkan eskalasi pertempuran baru-baru ini di bagian utara propinsi Marib yang kaya minyak. “Hal ini menambah orang yang mengungsi di kawasan itu, yag sebenarnya sudah mencapai satu juta orang.”

Ia juga memaparkan kantong-kantong wilayah di mana pertempuran masih terus berlanjut sehingga PBB tidak dapat menyampaikan bantuan. Kekhawatiran sejak lama adalah potensi terjadinya kelaparan akut di Yaman.

PBB pada bulan Maret lalu telah menyerukan dikumpulkannya anggaran hingga $3,5 miliar untuk membantu mengatasi bahaya kelaparan akut itu, tetapi hingga saat ini yang terkumpul baru $2,1 miliar. PBB berjanji akan memberikan tambahan $500-600 juta.

Gressly mengatakan warga Yaman membutuhkan lebih dari sekedar layanan darurat seperti kesehatan, pendidikan, air bersih, akses dan dukungan bagi pengungsi di dalam negara itu sendiri, dan dukungan kehidupan.

Anggaran untuk mendanai semua hal itu, tambahnya, hanya mencapai di bawah 20 persen. “Kita tidak dapat mengabaikan hal ini!” tegas Gressly. [em/jm]

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia Para Kepala Negara dan Pemerintahan dunia sejak 21 sampai 27 September 2021 secara bergilir berpidato dalam Sidang Umum PBB di New York baik secara langsung atau secara virtual dengan pidato yang direkam sebelumnya.

Pidato-pidato ini disampaikan sesuai tema sidang Majelis Umum PBB ke-76: "Membangun ketahanan melalui harapan - untuk pulih dari COVID-19, membangun kembali secara berkesinambungan, menanggapi kebutuhan planet ini, menghormati hak-hak rakyat dan merevitalisasi kembali PBB".

Para kepala negara mulai dari Amerika, Eropa, Afrika, hingga Asia, menyampaikan pencapaian negara mereka dalam pencapaian tujuan yang berkesinambungan sesuai dengan target PBB dalam berbagai sektor.

Mereka juga menyampaikan tantangan yang dihadapi negara dan harapan sebagai bagian dari komunitas internasional.

Presiden Joko Widodo yang berpidato pada sidang Majelis Umum PBB secara virtual Rabu (22/9) sore sekitar pukul 16.40 waktu setempat, pada awal pidatonya mengatakan dunia menunggu sidang Majelis Umum PBB memberi jawaban pada keprihatian utama dunia, kapan rakyat akan bebas dari pandemi, kapan ekonomi akan pulih dan tumbuh secara inklusif, bagaimana menjaga planet bagi generasi mendatang dan kapan dunia akan bebas dari konflik, aksi terror dan perang.

Presiden Jokowi juga juga menyampaikan harapan dunia akan bisa mengatasi pandemi COVID-19 secara cepat, adil dan setara karena tidak seorangpun bisa selamat kecuali semua aman.

Pada pembukan sidang Majelis Umum, Sekjen PBB telah menekankan perlunya urgensi dan ambisi yang lebih besar untuk mengakhiri pandemi dan memastikan pemulihan yang adil dan lebih berwawasan lingkungan dan percepatan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Selain pidato para kepala pemerintahan, pertemuan tahunan PBB ini, ditandai dengan rangkaian konferensi internasional PBB dan pertemuan bilteral antar negara yang diharapkan bisa menyoroti tindakan dan solusi yang akan memicu transformasi yang diperlukan untuk mengamankan kehidupan yang sehat, damai, dan sejahtera bagi semua sesuai dengan tema sidang Majelis Umum PBB tahun ini. [my/ka]

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia Setidaknya 27 anak tewas di Afghanistan dalam tiga hari di tengah pertempuran sengit antara Taliban dan pasukan pemerintah, kata PBB.

Lembaga anak-anak PBB, Unicef, mengatakan mereka terkejut dengan "kekerasan parah terhadap anak-anak yang meningkat pesat".

Taliban menguasai banyak wilayah di Afghanistan setelah penarikan pasukan asing. Kelompok itu telah merebut enam ibu kota daerah sejak hari Jumat (06/09).

Mereka menolak seruan internasional untuk gencatan senjata. Lebih dari 1.000 warga sipil terbunuh akibat konflik tersebut dalam satu bulan terakhir.

Dalam pernyataan pers pada Senin (09/09), Unicef mengatakan tindakan kekejaman yang dilakukan terhadap anak-anak "bertambah dari hari ke hari".

Angka 27 kematian anak dicatat di tiga provinsi - Kandahar, Khost, dan Paktia. Sekitar 136 anak lainnya terluka di wilayah-wilayah ini dalam tiga hari terakhir, kata Unicef.

"Afghanistan sudah lama menjadi salah satu tempat terburuk di Bumi bagi anak-anak namun dalam beberapa pekan terakhir dan, bahkan, 72 jam terakhir, itu telah menjadi lebih buruk lagi," kata Samantha Mort dari Unicef Afghanistan kepada BBC.

Anak-anak terbunuh dan terluka akibat bom-bom di pinggir jalan dan dalam baku tembak. Seorang ibu berkata kepada Unicef bahwa keluarganya sedang tidur ketika rumahnya dihantam pecahan peluru meriam, yang mengakibatkan kebakaran dan membuat putranya yang berusia 10 tahun mengalami "luka bakar yang mengerikan".

Banyak anak juga tidur di luar setelah mengungsi dari rumah mereka.

 

Pasukan keamanan Afghanistan di Kunduz, Juli 2020.

Pemerintah Afghanistan mengatakan pasukan keamanan masih bertempur di Kunduz. REUTERS

 

Unicef meminta kedua pihak yang berseteru untuk memastikan anak-anak dilindungi.

Kekerasan terus meningkat

Kekerasan meningkat di seluruh Afghanistan setelah pasukan asing yang dipimpin AS ditarik usai menjalankan operasi militer selama 20 tahun.

Taliban dengan cepat merangsek dan merebut sebagian besar daerah di pedesaan, dan sekarang menyasar kota-kota.

Taliban dilaporkan telah menguasai kota Kunduz di utara, dalam kemenangan mereka yang paling signifikan sejak Mei.

Kota berpopulasi 270.000 orang itu dianggap sebagai pintu gerbang menuju provinsi-provinsi di utara yang kaya akan mineral. Lokasinya strategis karena dekat perbatasan dengan Tajikistan, yang dimanfaatkan untuk menyelundupkan opium dan heroin.

Kunduz juga signifikan secara simbolis bagi Taliban karena merupakan benteng pertahanan penting di utara sebelum 2001. Para militan sempat dua kali menguasai kota itu pada 2015 dan 2016 namun tidak pernah mempertahankannya untuk waktu yang lama.

Pemerintah Afghanistan mengatakan pasukan keamanan masih bertempur di kota tersebut.

 

Pasukan keamanan Afghanistan

Pasukan keamanan Afghanistan menerima pukulan besar dengan jatuhnya Kunduz ke tangan Taliban. REUTERS

 

Kota Zaranj di barat daya merupakan ibu kota daerah pertama yang jatuh ke tangan Taliban dalam serangan besar-besaran. Kota-kota Shebergan, Sar-e-Pul, Taloqan, dan Aybak di utara juga sekarang dilaporkan berada di bawah kendali Taliban.

Para pemberontak itu memasuki Aybak, ibu kota provinsi Samangan, tanpa perlawanan setelah para tetua masyarakat meminta supaya tidak ada lagi kekerasan di kota itu, kata deputi gubernur Sefatullah Samangani kepada kantor berita AFP.

"Gubernur menerima dan menarik semua pasukan dari kota itu," ujarnya. Tolo News dan Shamshad TV juga melaporkan di Twitter bahwa pasukan Afghanistan telah mundur dari kota Aybak tanpa pertempuran. Belum ada pernyataan langsung dari pihak tentara.

Di tempat lain, pesawat-pesawat AS dan Afghanistan telah melancarkan serangan udara, yang belum berhasil menghentikan pergerakan Taliban namun pemerintah Afghan mengatakan puluhan kombatan dari kelompok itu telah tewas.

Pertempuran sengit dilaporkan terjadi di Pul-e-Khumri dan Mazar-e-Sharif, pusat perdagangan di perbatasan dengan Uzbekistan. Para komandan tentara mengatakan mereka telah memukul mundur militan dari pinggiran kota.

Pada Senin pagi (09/09) ledakan keras terdengar di luar kantor polisi di kota Lashkar Gah di selatan, tempat pasukan pemerintah dan Taliban telah bertempur selama lebih dari seminggu.

Warga mengatakan sekitar 20 warga sipil tewas dalam dua hari terakhir, dan sebuah sekolah dan sebuah klinik hancur.

Perebutan sejumlah kota dan pertempuran sengit yang terus berlangsung di kota-kota lainnya telah mengakibatkan ribuan warga sipil mengungsi. Banyak keluarga, beberapa dengan anak-anak kecil dan perempuan hamil, meninggalkan rumah mereka dan pergi ke ibu kota, Kabul.

Departemen Pertahanan AS pada hari Senin mengatakan situasi keamanan di Afghanistan "tidak bergerak ke arah yang benar", namun pasukan keamanan Afghanistan mampu melawan Taliban.

"Ini adalah pasukan militer mereka, ini adalah ibu kota provinsi mereka, rakyat mereka sendiri yang mereka lindungi dan ini akan tergantung pada kepemimpinan yang sanggup mereka tunjukkan di sini pada saat ini," kata juru bicara Dephan AS John Kirby.

Diterbitkan di Berita