Jakarta, CNN Indonesia -- Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memperingatkan Taliban bahwa mereka akan menyerang Afghanistan jika negara tersebut menjadi sarang terorisme lagi. 

"Mereka yang sekarang mengambil alih kekuasaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan bawah teroris internasional tak mendapat tempat," ujar Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg kepada wartawan, seperti dilansir Reuters, Selsaa (17/8).

"Kami punya kemampuan untuk menyerang dari jarak jauh, jika kami menyaksikan kelompok teroris kembali mencoba membangun diri mereka sendiri, merencanakan dan mengatur serangan terhadap sekutu NATO dan negara mereka," ujarnya.

Operasi militer pertama NATO di luar Eropa terjadi pada tahun 2001. Saat itu, mereka mengerahkan ribuan tentara untuk bertempur melawan Al-Qaeda, kelompok teror yang dipimpin Osama Bin Laden bertanggung jawab atas serangan 9/11 di Amerika Serikat. 

Bin Laden adalah satu gerilyawan Taliban. Usai penarikan pasukan tersebut, Taliban dengan cepat bergerak dan merebut kota-kota terbesar di Afghanistan hanya dalam waktu beberapa hari.

Pengambil alihan ibu kota secara tiba-tiba pun membuat ribuan orang berlari menuju bandara. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari kendali Taliban, yang dianggap akan menerapkan sistem ultra-konservatif, sebagaimana tahun 1996-2001.

Di Brussel, seorang jurnalis Afghanistan bertanya kepada Stoltenberg tentang tindakan dunia Barat melihat situasi terkini.

Stoltenberg kemudian meminta Taliban untuk memfasilitasi keberangkatan semua orang yang ingin meninggalkan negara itu. Ia juga mengatakan sekutu pertahanan Barat setuju mengirim lebih banyak pesawat evakuasi ke Kabul.

Di saat yang sama, Stoltenberg menyatakan frustasi dengan kepemimpinan Afghanistan dan menyalahkan pemerintah atas keberhasilan Taliban menduduki istana presiden dengan mudah.

"Sebagian pasukan keamanan Afghanistan bertempur dengan berani," kata Stoltenberg.

"Tetapi mereka tidak dapat mengamankan negara, karena pada akhirnya kepemimpinan politik Afghanistan gagal melawan Taliban dan mencapai solusi damai yang sangat diinginkan orang Afghanistan," lanjutnya

Sebelumnya, Taliban berhasil memasuki Kabul dan menduduki istana kepresidenan Taliban pada hari Minggu (15/8). Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani memilih angkat kaki dan kabur ke luar negeri, demi menghindari pertumpahan darah.

Ghani juga menyatakan Taliban sudah memenangkan seluruh pertempuran. Mereka, katanya, memiliki tanggung jawab untuk melindungi kehormatan, kemakmuran dan harga diri rakyat Afghanistan.

Sebelum sampai Kabul, Taliban telah merebut sejumlah kota strategis di Afghanistan, seperti Herat, Kandahar, Jalalabad, Mazar-i-Sharif dan lainnya. Beberapa di antaranya direngkuh tanpa perlawanan.

Dalam konferensi pers pertama usai menduduki Istana, Taliban berkeinginan membentuk pemerintahan terbuka dan melibatkan perempuan.

(ans/vws)

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia - Kementerian Pertahanan Afghanistan mengatakan angkatan udaranya telah melakukan lebih banyak serangan udara terhadap posisi Taliban di Afghanistan Selatan, sementara kelompok pemberontak tersebut kembali meraih kemajuan di bagian utara negara itu.

Sebuah pernyataan kementerian pertahanan menyebutkan serangan udara itu sendiri sebetulnya dilangsungkan di berbagai penjuru negara itu, termasuk di provinsi Helmand, di bagian selatan Afghanistan, di mana ibu kota provinsinya -- Lashkar Gah -- sedang diperebutkan dengan sengit.

Taliban menguasai sembilan dari 10 distrik polisi di kota itu. Penduduk di Lashkar Gah melaporkan pengeboman besar-besaran terjadi di dekat stasiun radio dan televisi pemerintah, yang berada di bawah kendali Taliban.

Beberapa balai pernikahan dan wisma gubernur provinsi itu terletak di dekat stasiun radio dan televisi itu.

Di Afghanistan Utara, Taliban menguasai sebagian besar ibu kota provinsi, Sar-e-Pul, kata kepala dewannya, Mohammad Noor Rahmani. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok tersebut telah menguasai puluhan distrik di beberapa provinsi di wilayah utara negara itu.

Serangan Taliban tampaknya meningkat dengan dimulainya penarikan terakhir pasukan AS dan NATO pada akhir April. Pasukan keamanan Afghanistan menanggapinya dengan mengintensifkan serangan udara, dengan bantuan pasukan Amerika Serikat.

Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran banyak pihak tentang jatuhnya korban sipil di berbagai penjuru negara itu.

"Kami sangat prihatin dengan keselamatan orang-orang di Lashkar Gah, di Afghanistan Selatan, di mana puluhan ribu orang kemungkinan terjebak dalam pertempuran," kata Stephane Dujarric, juru bicara PBB, Rabu (4/8).

“Kami, bersama dengan mitra-mitra bantuan kemanusiaan kami di Afghanistan, kini sedang mengevaluasi kebutuhan dan tanggapan yang diperlukan di Afghanistan Selatan, jika akses memungkinkan,'' katanya. [ab/uh]

Diterbitkan di Berita