Novi Christiastuti - detikNews Moskow - Otoritas Rusia mengklaim telah menewaskan hingga 200 militan di Suriah dalam serangan udara yang ditargetkan ke markas 'teroris' di sebelah timur laut kota Palmyra, Provinsi Homs.

Militan di wilayah tersebut diduga merencanakan serangan menjelang pemilihan presiden (pilpres) bulan depan.

Seperti dilansir AFP, Selasa (20/4/2021), klaim tersebut disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataan terbaru pada Senin (19/4) waktu setempat. Rusia merupakan sekutu penting rezim Presiden Bashar al-Assad dalam konflik Suriah yang berlangsung sejak tahun 2011.

"Setelah mengonfirmasi data melalui berbagai saluran di lokasi fasilitas teroris, pesawat-pesawat Angkatan Udara Rusia melancarkan serangan udara," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.

"Dua tempat persembunyian dihancurkan, hingga 200 militan (tewas), 24 truk pikap dengan senapan mesin kaliber besar, juga sekitar 500 kilogram amunisi dan komponen untuk membuat alat peledak rakitan," imbuh pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut tidak menyebut secara spesifik soal tanggal pelaksanaan serangan maupun kelompok yang menjadi target serangan.

Disebutkan Kementerian Pertahanan Rusia bahwa targetnya merupakan 'pangkalan kamuflase' di mana 'kelompok-kelompok teroris' merencanakan serangan di Suriah dan merakit peledak.

"Mereka merencanakan serangan teroris dan serangan terhadap badan-badan pemerintahan di kota-kota besar untuk mendestabilisasi situasi di negara tersebut menjelang pemilihan presiden di Suriah," sebut Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataannya.

Pilpres Suriah dijadwalkan akan digelar pada 26 Mei mendatang. Pilpres ini merupakan yang kedua digelar sejak konflik Suriah pecah tahun 2011, dengan penindakan unjuk rasa antipemerintah menewaskan lebih dari 388 ribu orang. Diperkirakan Assad akan tetap berkuasa di negara yang dilanda konflik itu.

Rusia mulai meluncurkan operasi intervensi militer terhadap konflik Suriah sejak tahun 2015, demi membantu membalikkan gelombang pertempuran.

Pada Senin (19/4) waktu setempat, Kementerian Pertahanan Rusia menyebut para 'teroris' itu mendapat pelatihan di beberapa kamp yang ada di area Provinsi Homs yang tidak dikuasai rezim Suriah. "Termasuk di area Al-Tanf, yang dikuasai oleh militer AS (Amerika Serikat)," imbuh pernyataan itu.

Pada Februari lalu, Rusia mengecam serangan udara AS terhadap milisi yang didukung Iran di wilayah Suriah bagian timur. Rusia menuntut AS menghormati integritas wilayah Suriah. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, pada saat itu menyatakan Rusia ingin mengetahui rencana AS di Suriah.

(nvc/ita)

Diterbitkan di Berita
Syarifudin sindonews.com MOSKOW - Komisaris Presiden Rusia untuk Hak Anak, Anna Kuznetsova, mengungkapkan negaranya telah memulangkan 145 anak Rusia mantan militan ISIS dari Suriah dan Irak sejak wabah Covid-19.
Kuznetsova mengatakan sejak awal tahun lalu, agensinya telah melakukan enam perjalanan untuk membawa anak-anak itu kembali ke Rusia, berkoordinasi dengan pihak berwenang Suriah dan Irak.
 
Tindakan pencegahan diambil setiap saat terkait virus corona. Dia menjelaskan sulit menentukan jumlah anak yang tersisa di Suriah dan Irak, tetapi sejauh ini ada dokumen yang disiapkan untuk mengembalikan 105 anak lagi. 
November lalu, Administrasi Otonomi Kurdi di timur laut Suriah menyerahkan 30 anak Rusia dari militan ISIS yang ditahan di Kamp Al-Hol, tenggara Hasakah.

Sebelumnya, Prancis telah memulangkan tujuh anak pejuang ISIS dari timur laut Suriah. Ini adalah upaya terbaru negara Eropa memulangkan warganya setelah bertahun-tahun enggan melakukannya.
Anak-anak itu berusia antara 2 dan 11 tahun. Mereka tinggal di kamp Al-Hol dan Roj yang dijalankan milisi Kurdi seperti Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG).

Menurut Kementerian Luar Negeri Prancis, anak-anak itu rentan dan telah dirawat di layanan sosial. Pemulangan terakhir ini membuat jumlah anak-anak yang dipulangkan ke Prancis menjadi 35 anak, yang sebagian besar adalah yatim piatu.

Banyak dari mereka yang ditahan di kamp adalah warga asing yang melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung ISIS beberapa tahun setelah revolusi Suriah pecah. Menurut Save the Children, lebih dari 9.000 anak warga asing tetap tinggal di wilayah tersebut dan banyak dari mereka adalah warga negara Eropa, termasuk Inggris.

Di kamp Al-Hol saja, dilaporkan ada 43.000 anak. Meskipun ada seruan organisasi hak asasi manusia dan Amerika Serikat (AS) agar Inggris dan negara Eropa lainnya memulangkan warganya serta mengadili mereka di negara asalnya, banyak yang menolak atau enggan melakukannya.
Pemerintah negara-negara Eropa berdalih risiko keamanan yang akan mereka hadapi jika mereka dipulangkan.
 
Diterbitkan di Berita