MURIANEWS, Kudus – Jumlah pasien Covid-19 di Kabupaten Kudus hingga Rabu (1/9/2021) pagi masih bertahan di bawah angka 50 kasus, tepatnya 24 pasien. Bahkan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit hanya tersisa enam orang saja.

Sementara 18 pasien lain menjalani isolasi mandiri, karena tak bergejala atau gejalanya ringan. Sementara jumlah akumulasi total Covid-19 di Kabupaten Kudus kini berada di angka 16.823 kasus.

Dengan rincian 24 pasien aktif, 15.419 pasien sudah sembuh dan 1.380 pasien lainnya meninggal dunia.

“Sampai saat ini memang masih sering terjadi fluktuasi kasus, namun angkanya masih di bawah 50 kasus dan kami harapkan juga masih bisa berkurang lagi,” kata Bupati Kudus HM Hartopo, Rabu (1/8/2021) pagi.

Walau demikian, Hartopo berharap masyarakat Kabupaten Kudus untuk terus menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketika beraktivitas di luar rumah. Dengan begitu penularan Covid-19 di Kudus bisa ditekan semaksimal mungkin.

Mulai dari mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak ketika berada di kerumunan, serta mengurangi mobilitas. “Walau berapapun jumlah kasusnya, harus tetap berprokes,” ujarnya. Pihaknya pun memastikan tetap akan memantau dan mengawasi kerumunan di Kota Kretek.

Hanya, pihaknya akan lebih memfokuskan kewaspadaan pada orang luar Kudus yang baik disengaja atau kebetulan berkunjung di Kota Kretek.

“Justru orang luar daerah ini yang perlu diwaspadai karena kita tidak tahu statusnya apakah itu OTG atau tidak, kalau masyarakat Kudus sendiri kami pikir sudah tidak masalah,” kata Hartopo.

Pemkab, kemudian mengoptimalkan pengawasan pada orang luar daerah dengan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala Mikro. Ketua RT dan RW pun diharapkan punya peran lebih untuk ini.

“Sehingga ketika nanti ada orang luar daerah yang berkunjung, langsung didata, dilaporkan ke Satgas sehingga bisa terlacak dengan baik,” tegas dia. Masyarakat di Kabupaten Kudus pun diharapkan untuk tidak lengah akan penerapan protokol kesehatan ketika berada di luar rumah.

Sehingga benar-benar bisa menekan angka penularan Covid-19 di Kudus.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

betanews.id 

Jalur kereta api Semarang-Lasem yang telah lama mati atau non-aktif akan segera direaktivasi. Saat ini Proses studi kelayakan reaktivasi jalur kereta Semarang-Lasem saat ini sudah berjalan.

Reaktivasi jalur yang dulu dioperatori Samarang–Joana Stoomtram (SJS) Maatschappij ini, untuk menumbuhkan perkonomian kawasan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah, Putu Sumarjaya kepada Tim Liputan Khusus Beta News, beberapa waktu lalu. Dia mengatakan, tidak menutup kemungkinan, reaktivasi jalur tersebut bisa dilanjutkan hingga Bojonegoro.

Dia menjelaskan, proses studi kelayakan dilakukan melalui pengumpulan data-data sekunder, permintaan, demand, data RTRW dan survei-survei di lapangan. Melalui studi tersebut akan diperoleh trase dan jadwal rencana pembangunan, serta jadwal operasi.

Studi kelayakan ditargetkan selesai tahun ini.

Studi masih berjalan, lintasnya mana saja yang layak, dan data-data lain masih dikumpulkan. Target studinya tahun ini bisa selesai

Putu Sumarjaya, Kepala BTP Jateng

“Studi masih berjalan, lintasnya mana saja yang layak, dan data-data lain masih dikumpulkan. Target studinya tahun ini bisa selesai, tetapi pelaksanaannya (pembangunan) kapan, belum bisa kami sampaikan,” jelas Putu saat wawancara melalui lalu melalui sambungan Zoom, beberapa waktu lalu.

Putu, begitu dia akrab disapa, tidak bisa memberi informasi lebih terkait rencana reaktivasi jalur Semarang-Lasem. Ia hanya menjelaskan saat ini Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian belum sampai tahapan putusan.

Sehingga pihaknya belum mendapat informasi secara rinci dari pusat. “Ini masih sangat awal, karena studi kelayakannya baru dimulai tahun ini. Nanti kalau hasil studinya sudah jadi, trasenya sudah ditentukan, baru kami akan melakukan sosialisasi,” terangnya kepada tim Liputan Khusus Beta News.

Putu berharap, kepala-kepala daerah yang wilayahnya dilintasi jalur reaktivasi untuk mendukung. Reaktivasi ini dilakukan untuk menumbuhkan perekonomian kawasan di wilayah yang dilintasi jalur.

Pembangunan Jalur Kereta Api Lebih Murah

Djoko Stejowarno, Pengamat Transportasi. Foto: Kaerul Umam

 

Sementara itu, pengamat trasnportasi, Djoko Setijowarno mengungkapkan, kereta api memiliki sejumlah keunggulan dibanding moda transportasi darat lainnya. Selain ramah lingkungan, juga lebih cepat dan tepat waktu.

“Selain itu, pembangunan jalur kereta api ini juga lebih murah jika dibandingkan dengan tol. Biaya perawatan juga tidak sebesar perawatan jalan raya atau tol,” tuturnya.

Menurut penghitungannya, kata Djoko, untuk anggaran jalur layang diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp 500 juta perkilometer. Sementara jalur biasa tanpa hambatan lahan, sekitar Rp 40 juta hingga Rp 50 juta perkilometer.

Selain biayanya yang lebih murah juga proses pengerjaannya lebih cepat.

Dalam proses studi, Ditjen Perkeretaapian juga melibatkan kepala daerah. Yang saya lihat antusiasnya tinggi yakni dari Bupati Pati

Djoko Setijowarno, Pengamat Transportasi

Djoko begitu dia akrab di sapa, mengatakan, bahwa biaya perawatan jalan raya saat ini relatif tinggi karena beban jalan yang berat. Sehingga dengan adanya transportasi kereta diharapkan bisa menjadi solusi lebih murah selain pembangunan jalur tol.

“Dalam proses studi, Ditjen Perkeretaapian juga melibatkan kepala daerah. Yang saya lihat antusiasnya tinggi yakni dari Bupati Pati,” ungkap Djoko.

Di nilai Djoko sebagai bupati paling antusias, Haryanto tidak menampik hal tersebut. Bahkan dirinya mengaku sudah lama menanti realisasi reaktivasi jalur kereta tersebut. Tak hanya menunggu, dia juga sudah beberapa kali mengusulkan adanya reaktivasi itu.

“Saya juga sudah berapa kali mengusulkan dan mengikuti diskusi maupun juga rapat-rapat yang diselenggarakan. Saya sangat mendukung, karena adanya kereta api sudah barang tentu akan menumbuhkan perekonomian,” terangnya saat ditemui di Pendapa Kabupaten Pati, beberapa waktu lalu.

Orang nomor satu di Pati itu memperkirakan, jika mengaktifkan kembali jalur lama, yang akan dihadapi adalah kendala sosial. Karena jalur kereta yang lama saat ini sudah banyak yang menjadi hunian warga dan menjadi tempat publik.

 

Haryanto, Bupati Pati. Foto: Kaerul Umam

 

“Kalau yang sudah dihuni oleh warga, kemudian jadi pemukiman dan tempat publik, sudah barang tentu tidak bisa direaktivasi. Contoh Alun-alun, dulu kan Alun-alun Pati juga jalur kereta api,” kata Haryanto.

Dia berharap reaktivasi bisa segera terlaksana. Selain dirinya, Haryanto juga membeberkan bahwa Bupati Demak, Kudus, Rembang, Tuban dan Bojonegoro juga ikut mendukung. Ia mengaku sudah mengikuti rapat setidaknya tiga kali, dan bertemu kepala daerah lain.

“Saya hadir tiga atau empat kali saat ada diskusi, karena saya berkeinginan untuk bisa merealisasikan itu. Agar keseimbangan bisa terjadi. Jangan sampai nanti kereta ini hanya dibangun di kota-kota besar, seperti Semarang-Solo, Semarang-Jogja kemudian Jakarta-Bandung. Kami juga ingin masyarakat Pati bisa menikmati,” tambahnya.

Dukungan senada juga disampaiakan seorang sejarawan asal Semarang, Tjahjono Rahardjo. Menurutnya, kondisi geografi dan demografi pulau Jawa khususnya, sangat layak untuk dikembangkan transportasi kereta api.

Ia mencontohkan negara Jepang dan Belanda, dari segi kepadatan penduduk dan penyebarannya mirip dengan Indonesia.

“jaringan kereta api di sana luar biasa, orang tidak perlu lagi naik kendaraan pribadi, apalagi naik pesawat. Di tempat kita ini masih diutamakan jalan tol dan Bandara. Kalua di Belanda itu Bandara cuma dua, tapi mereka kemana-mana naik kereta api,” terangnya.

Tim Lipsus 7: Ahmad Rosyidi (Reporter/Host), Dafi Yusuf, Kaerul Umam, Rabu Sipan (Reporter/Videographer), Suwoko (News Editor), Andi Sugiarto (Video Editor), Manarul Hidayat, Avis Rizqi (Video Graphic) Lisa Mayna Wulandari (Translator), Ludfi Karmila, Anif Farizi, Dian Ari Wakhidi (Transkriptor)

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Pemerintah resmi memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali mulai dari 24 Agustus hingga 30 Agutus 2021 mendatang.

Perpanjangan PPKM kali ini pun menjadikan perpanjangan kelima semenjak diberlakukan pada 3 Juli lalu dengan nama PPKM Darurat Jawa-Bali. Kabupaten Kudus kini turun dari level 3 menjadi level 2.

Meski demikian, Bupati Kudus HM Hartopo mengingatkan warga agar tak lengah dan mengendorkan protokol kesehatan (prokes). “Kami mengimbau masyarakat Kudus untuk tidak lengah dengan penurunan status ini, harus terus berprokes,” ujar Bupati Hartopo, Selasa (24/8/2021).

Sederet protokol kesehatan, lanjut Hartopo, yakni terus memakai masker ketika berada di luar rumah, mencuci tangan, menghindari kerumunan, menjaga jarak, dan mengurangi mobilitas.

“Dengan begitu kasus bisa ditekan semaksimal mungkin,” ujar dia. Pemkab, lanjut dia, tetap akan memantau dan mengawasi kerumunan di Kota Kretek.

Hanya, pihaknya akan lebih memilih untuk mewaspadai orang luar Kudus yang baik disengaja atau kebetulan berkunjung di Kota Kretek.

“Justru orang luar daerah ini yang perlu diwaspadai karena kita tidak tahu statusnya apakah itu OTG atau tidak, kalau masyarakat Kudus sendiri kami pikir sudah tidak masalah,” terangnya.

Oleh karena itu, pihak Pemkab akan mengoptimalkan pengawasan pada orang luar daerah dengan PPKM skala mikro. Ketua RT dan RW pun diharapkan punya peran lebih untuk ini.

“Sehingga ketika nanti ada orang luar daerah yang berkunjung, langsung didata, dilaporkan ke Satgas sehingga bisa terlacak dengan baik,” tegasnya.

Jumlah pasien Covid-19 di Kabupaten Kudus hingga Selasa (23/8/2021) kini telah menurun di angka 13 kasus. Sebelumnya, kasus Covid-19 di Kota Kretek sendiri masih di angka 50 orang lebih pada pekan lalu.

“Jumlahnya kini hanya tersisa 13 orang saja, di mana ada tiga pasien dirawat dan 10 sisanya menjalani isolasi mandiri,” ucap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo.

Sementara secara keseluruhan, jumlah kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus kini ada sebanyak 16.904 orang di mana sudah ada 15.515 orang yang dinyatakan sembuh dan 1.376 orang yang meninggal dunia.

 

 

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, KUDUS – Puncak prosesi Buka Luwur Makam Sunan Kudus digelar secara sederhana, Kamis (19/8/2021). Hanya tamu undangan dan panitia yang diperbolehkan mengikuti kegiatan yang berlangsung tepat pada 10 Muharam itu.

Humas Panitia Buka Luwur Makam Sunan Kudus, Muhammad Kharis mengatakan, tanggal 10 Muharram merupakan puncak acara dari Buka Luwur Makam Sunan Kudus. prosesi pemasangan luwur dilakukan secara khusyuk dan terbatas, karena masih dalam masa pandemi Covid-19.

“Ini memang bagian acara terakhir, kita lakukan dengan khusyuk. Undangan kali ini dibatasi dibandingkan sebelum pandemi. Kita juga tidak mengundang tamu dari luar kota. Pejabat pun tidak kami undang,” bebernya.

Selain prosesi pemasangan luwur yang dilaksanakan secara terbatas, lanjut Kharis, pembagian sekitar 24.600 nasi jangkrik juga diberikan langsung ke rumah warga.

Namun, ada juga yang bisa mengambil langsung di Menara Kudus dengan membawa kartu yang sebelumnya diberikan oleh panitia. Orang yang mendapatkan kartu ini adalah pemberi sedekah untuk pembuatan nasi buka luwur.

“Sebelum pandemi, nasinya kita bagikan di sini (area makam Sunan Kudus). Tapi karena ini pandemi, dari panitia menyerahkan langsung ke masyarakat,” terangnya.

Kharis menjelaskan, nasi buka luwur yang dibagikan merupakan nasi dengan menu uyah asem. Dahulu, nasi berkat luwur terdiri dari dua menu, yakni nasi jangkrik goreng dan nasi uyah asem. Namun, yang lebih tersebar di masyarakat malah nasi jangkrik.

“Nasi yang bungkusan kecil (yang dibagikan ke masyarakat) itu menu uyah asem. Menu jangkrik goreng itu yang berkuah. Menu ini biasanya untuk para ulama dan panitia, karena ada kuahnya jadi tidak bisa lama. Jadi yang dibagikan masyarakat itu menu uyah asem, yang lebih kering dan tahan lama,” jelasnya.

Bahan baku pembuatan nasi jangkrik dan nasi uyah asem masih sama. Yakni berbahan dasar daging kerbau, bukan daging jangkrik layaknya penamaan menunya.

“Kenapa dinamakan nasi jangkrik, itu hanya penamaan dari para sesepuh dulu. Bahan dagingnya masih sama, daging kerbau,” kata Kharis.

Di hari sebelumnya, Kharis menjelaskan, sedekah yang diterima panitia untuk membuat nasi buka luwur ada bermacam-macam. Rinciannya, 14 kerbau, 69 kambing, 10.843 kilogram beras,  dan bahan-bahan lainnya. “Jumlah orang yang sudah menyumbang di atas dua ribu,” tandas Kharis.

Editor: Ahmad Muhlisin

Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, KUDUS – Salah satu kuliner khas yang ditunggu masyarakat ketika Buka Luwur Makam Sunan Kudus adalah Bubur Asyura. Bubur yang memiliki rasa unik dan khas ini, hanya bisa dijumpai saat prosesi buka luwur.

Bubur asyura, biasanya akan dibagikan pada sejumlah masyarakat yang berada di lingkup Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus. Untuk sekali memasak, jumlahnya bisa ratusan hingga ribuan porsi.

Tahun ini, ada sebanyak 950 porsi bubur Asyura yang akan dibagikan. 700 porsi bubur yang ditaruh Samir (wadah berbentuk bundar) dan 250 porsi bubur di takir (wadah berbentuk segi empat).

 

Proses pembuatan bubur Asyura yang menggunakan sembilan bahan baku. Foto: Nila Rustiyani.
 
Humas Panitia Buka Luwur Makam Sunan Kudus Muhammad Kharis mengatakan, karena sekarang ini kondisinya masih dalam pandemi Covid-19, untuk menghindari adanya kerumunan, maka bubur Asyura akan dibagikan langsung ke setiap rumah warga.

Kharis menyebut, untuk bahan yang digunakan dalam pembuatan bubur Asyura, ada 9 jenis. Begitupun dengan toppingnya.

“Tidak ada filosofi khusus, hanya mengikuti dari para sesepuh dulu, resepnya memang seperti ini,” kata Kharis saat melihat pembuatan bubur Asyura di salah satu rumah warga, Rabu (18/8/2021).

Kharis merincikan, 9 bahan baku yang digunakan untuk membuat bubur Asyura. Yakni, beras, kacang tanah, kacang tolo atau kacang tunggak, kacang kedelai, kacang hijau, ubi, singkong, jagung dan pisang.

Sekali memasak bubur ini, bisa sebanyak 3 wajan besar. Dengan waktu memasak sekitar 3 jam dan harus diaduk terus hingga menghasilkan tekstur bubur yang diharapkan.

Sedangkan untuk topping bubur, ada telur dadar, ikan teri, jeruk limau, udang, kecambah atau tauge, tahu, tempe, pentol dan cabai merah.

“Pentol ini berasal dari daging yang dicampur dengan kelapa muda dan dibumbui. Setelah itu digoreng,” ungkapnya.

Dalam pembuayan bubur Asyura ini, ada sekitar 30 orang perewang atau yang membantu. Terdiri dari ibu-ibu dan para remaja putri, yang nantinya juga bertugas membagi bubur ke warga sekitar Menara.

Pembuatan bubur Asyura ini, dikatakan Kharis, sebagai tradisi peninggalan ulama dahulu. Sebagai rasa syukur atas nikmat yang diberikan untuk Nabi Nuh ketika selamat dari banjir bandang. Saat kejadian tersebut, bertepatan pada hari Asyura, 10 Muharram.

“Dulu Nabi Nuh memerintahkan umatnya untuk syukuran karena telah selamat dari bencana. Karena bahan makanan yang terbatas, akhirnya makanan yang tersisa dicampur dan diaduk semacam bubur. Hal tersebut dilakukan oleh para ulama dahulu, dan tradisi tersebut diteruskan sampai sekarang,” ceritanya.

Kharis menyampaikan, pada hari ini, Rabu (18/8/2021) atau 9 Muharram, Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) mengadakan berbagai macam kegiatan.

Selain mempersiapkan bubur Asyura sejak pagi tadi setelah Salat Shubuh, juga ada Khatmil Quran Bil Ghaib yang dilakukan oleh 30 orang hafidz. Selain itu, ada pula kegiatan santunan anak yatim piatu yang berjumlah 88 orang.

“Kemudian, malam nanti setelah Salat Maghrib, ibu-ibu dan remaja putri di sekitar Menara melanjutkan kegiatan Maulidan di Masjid Menara Kudus. Selanjutnya setelah Salat Isya, bapak-bapak dan para remaja putra yang melanjutkan kegiatan Maulidan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Jumlah pasien aktif Covid-19 di Kabupaten Kudus kini tersisa sebanyak 216 orang. Dengan rincian sebanyak 69 pasien dirawat di sejumlah rumah sakit rujukan, dan 147 pasien lainnya menjalani isolasi mandiri.

Sementara secara total, kasus corona di Kudus tercatat sudah ada sebanyak 16.260 orang. ”Namun jumlah pasien sembuh sudah ada sebanyak 14.758 orang.

Sedangkan pasien meninggalnya 1.286 orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, Selasa (3/8/2021). Jumlah tersebut, lanjut Badai, telah menurun jauh dibandingkan puncak kasus pada pertengahan Juni 2021 lalu.

Di mana angka tertinggi saat itu adalah sebanyak 2.342 pasien. Kasus harian tertinggi kala itu mencapai 479 orang terkonfirmasi positif Covid-19, dan positivity rate menembus angka 60 persen.

Namun, pihaknya memastikan tak ada penurunan pada kuantitas tracing atau penelusuruan kontak untuk menemukan kasus baru Covid-19 di Kota Kretek. Skala perbandingannya pun dipastikan masih sama.

“Skalanya masih sama, bisa satu banding lima atau satu banding sepuluh,” kata Badai. Jumlah total orang yang dites sendiri, per harinya masih berada di angka 400 hingga 600 orang atau spesimen. Dengan positivity rate di bawah lima persen.

 

 

“Kudus sudah turun jauh untuk angka positifnya, walau memang masih ditemukan kasus baru,” jelas dia. Walau demikian, Badai berharap masyarakat tak mengendurkan penerapan protokol kesehatan 5M.

Mulai dari mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Dengan begitu penyebaran Covid-19 di Kabupaten Kudus bisa ditekan semaksimal mungkin.

“Ini jadi perhatian kita bersama, karena untuk menurunkannya perlu sinergitas baik dari masyarakat, pemerintah, dan unsur-unsur lainnya,” pungkasnya.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

Elshinta.com - Keberhasilan kabupaten Kudus Jawa Tengah menangani lonjakan kasus penyebaran covid-19 beberapa waktu lalu. Membuat Presiden RI menginstruksikan Staf Khusus Kepresidenan untuk melakukan verifikasi lapangan terkait keberhasilan kabupaten Kudus tersebut.

Hal ini tidak lepas dari sinergitas semua pihak. Rombongan staf Presiden disambut oleh Bupati Kudus H.M. Hartopo, jajaran Forkopimda Kudus, Sekda beserta para asisten, dan kepala OPD terkait di gedung Command Center Diskominfo, Rabu (28/7).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati menjelaskan kondisi kabupaten Kudus ketika terjadi lonjakan. "Kondisi kudus mengalami titik terendah bulan april minggu 19, puncaknya kasus terjadi pada 12 juni 2021 kasus aktif sampe 2342.

Kasus harian mencapai 500, kematian 34 per hari. Saat itu, BOR disemua rumah sakit hampir 100% terisi," paparnya. Lonjakan kasus covid terjadi saat idul fitri ketika terjadi lonjakan pemudik yang masuk di kabupaten Kudus.

"Tradisi masyarakat kami saat bulan syawal adalah anjang sana anjang sini, para pemudik berbondong-bondong datang dari berbagai daerah untuk sungkeman," ungkapnya.

Inilah yang menjadi penyebab lonjakan kasus covid dikarenakan masyarakat mulai abai prokes saat bersilaturahmi.

"Ketika masyarakat abai prokes yang seharusnya ditaati, maka memuncaklah persebaran covid-19. Hal tersebut terdeteksi pasca lebaran kemarin," kata Bupati seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Kamis (29/7).

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemkab Kudus melakukan berbagai kebijakan dalam penanganan penyebaran covid termasuk bersinergi dengan pihak terkait.

"Berbagai upaya kami lakukan dalam penanganan kasus ini. Diantaranya bersinergi dengan pemangku kebijakan, penyediaan isolasi terpusat, mengaktifkannya jogo tonggo, penguatan 3T, percepatan vaksinasi dengan melibatkan pihak swasta," ungkapnya.

Adanya penerapan PPKM Mikro telah lebih dulu diterapkan dengan memaksimalkan jogo tongo."Kami terapkan pembatasan aktifitas masyarakat dengan penerapan PPKM Mikro didukung dengan upaya memaksimalkan jogo tonggo," kata Hartopo.

"Kami kumpulkan donasi dalam memaksimalkan jogo tonggo dilingkup paling bawah yaitu tingkat RT, dana tersebut kami gunakan buat mendukung keperluan logistik warga yang tengah melakukan isolasi mandiri," terangnya.

Sementara itu, Abraham Wiratomo Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Khusus Kepresidenan menyimpulkan jika keberhasilan Kudus dalam menangani penyebaran covid terdiri dari beberapa faktor.

"Cara kabupaten Kudus dalam penanganan covid perlu dicontoh, ada tiga poin penting yang harus dilakukan yakni sinergi dari seluruh pemangku kepentingan, transparansi data, eksekusi yang cepat dan tepat. Hal ini dirasa dapat dijadikan contoh untuk daerah lain," jelasnya. 

Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, KUDUS – Sempat mengalami lonjakan Kasus Covid-19, saat ini angka kasus covid di Kudus mulai menurun. Baik angka kasus aktif, maupun angka kematian harian melandai.

Upaya menurunkan angka Covi-19 tersebut diapresiasi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat konferensi video Rakor Penanganan Covid-19 di Jawa Tengah bersama yang berlangsung di Command Center Diskominfo Kudus Senin (26/7/2021).

Hartopo mengungkapkan, pasien Covid-19 di rumah sakit sedikit. RSUD dr Loekmono Hadi menampung total 34 pasien dengan separuh pasien dirujuk dari luar daerah.

Sementara itu, jika dilihat di tingkat RT, zona hijau di Kabupaten Kudus mencapai 92 persen. Meskipun begitu, Hartopo meminta masyarakat tetap disiplin terapkan protokol kesehatan dan melaksanakan PPKM level IV dengan baik.

“Kasus aktif harian Kabupaten Kudus telah melandai. Bahkan, di RSUD pasien Covid-19 hanya 34 pasien. Itu hanya 16 orang yang dari Kudus, sisanya dari luar kota,” ucapnya. 

Sampai saat ini, Kabupaten Kudus pun menunggu kiriman vaksin untuk tahap kedua. Hartopo berharap, vaksin tersebut segera dikirim, sehingga dapat langsung dilakukan vaksinasi.

“Kami masih menunggu kiriman vaksin tahap kedua agar segera kami lakukan vaksinasi,” jelasnya. Merespon hal tersebut, Ganjar Pranowo mengungkapkan segera mengirim vaksin tersebut ke Kudus dalam beberapa hari.

Dalam rakor yang diikuti bupati dan walikota se Jawa Tengah tersebut, Ganjar mengapresiasi upaya Forkopimda Kudus yang tak pernah patah semangat menekan angka kasus Covid-19.

Upaya Kudus dalam menggencarkan isolasi terpusat dan vaksinasi perlu diacungi jempol. Ganjar pun menyebut langkah Kabupaten Kudus dapat menjadi contoh bagi kabupaten lain, sehingga angka Covid-19 segera terkendali.

“Dulu Kudus menjadi salah satu wilayah yang mempunyai kasus aktif Covid-19 tertinggi. Sekarang, berkat kerja keras dan semangat dari Forkopimda Kudus, angka kasus menjadi terkendali. Bisa dicontoh wilayah lain,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, KUDUS – Tangan Ngatmin (44) tampak begitu cekatan menyatukan bilah-bilah bambu dengan lem di halaman depan rumahnya di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Setelah terangkai seperti papan, ia beranjak mengambil pensil untuk menggambar pola sesuai cetakan yang sudah tersedia.

Proses pembuatan pola itu tak berlangsung lama. Karena sejenak kemudian, ia sudah beralih ke gergaji mesin untuk memotong bambu itu sesuai gambarnya. Seperti hari-hari sebelumnya, Ngatmin siang itu sedang membuat biola dari bambu yang kini sudah mendunia.

Pria kelahiran Pati tersebut mengaku setelah lulus sekolah dasar (SD) ia tidak lanjut sekolah, tapi bekerja jadi tukang kayu dan bekerja di bengkel mebel Jepara selama 10 tahun. Nasibnya berubah saat mendapatkan tawaran membuat biola dari temannya yang merupakan pemain alat musik gesek itu.

“Karena belajar bikin biolanya secara otodidak dari YouTube, saya butuh waktu sekitar satu tahun hingga benar-benar menghasilkan biola yang diinginkan. Selama setahun itu biola yang gagal produksi ada puluhan unit,” bebernya, Sabtu (24/7/2021).

 

 

Awalnya, ia membuat biolah berbahan kayu. Namun, lama-lama ia berpikir untuk membuat sesuatu yang baru, yaitu membuat biola dari bambu. Ternyata, idenya itu mendapat sambutan positif dan semakin membesarkan namanya di dunia biola.  

Kini, biolanya tak hanya diminati orang dalam negeri saja, melainkan banyak juga dari mancanegara. “Ya, banyak yang suka. Sebab biola yang berbahan bambu itu lebih antik, suaranya juga lebih bagus,” ungkap pria yang punya dua anak itu.

Untuk harga, kata Ngatmin, biola berbahan bambu dibanderol lebih mahal dari biola kayu. Untuk biola bambu harganya Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per unit. Sedangkan biola kayu hanya Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per unitnya.

“Untuk harga memang labih mahal biola bambu dari pada biola kayu. Karena, biola bahan kayu itu pembuatannya lebih rumit dan butuh waktu lebih lama,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Sejumlah rumah sakit yang melayani vaksinasi Covid-19 di Kabupaten Kudus mulai menunda penyuntikan vaksin untuk dosis dua. Hal ini menyusul sudah tak ada stok vaksin yang dimiliki.

Sejumlah rumah sakit tersebut di antaranya, Rumah Sakit  Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Kudus, Rumah Sakit Mardi Rahayu, hingga Rumah Sakit Islam Sunan Kudus.

Ketiga rumah sakit tersebut pun kompak menunda pelaksanaan vaksinasi dosis dua hingga alokasi vaksin tersedia kembali.

Direktur Rumah Sakit Mardi Rahayu dr Pujianto menyebutkan, pihak RS hingga kini masih memiliki tanggungan penyuntikan vaksin dosis dua kepada 4.562 orang.

Jumlah itu merupakan setengah dari capaian vaksinasi RS Mardi Rahayu yang berjumlah sebanyak 8.993 orang. Terdiri dari kelompok masyarakat umum dan remaja. RS Mardi Rahayu sendiri, baru bisa melayani vaksinasi kembali ketika droping vaksin didapatkan kembali.

“Untuk vaksinasi dosis pertama saja kami sudah berhenti sejak 7 Juli, karena stok vaksin di sini habis dan tidak ada kiriman vaksin lagi,” katanya, Kamis (22/7/2021).

Sementara Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus dr Abdul Aziz Achyar juga turut membenarkan jika RSUD Kudus menunda pelaksanaan vaksinasi dosis dua.

Penyuntikan, sambung dia, baru akan dilakukan kembali setelah mendapat droping vaksin dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus. Di RSI Sunan Kudus sendiri, melalui laman resmi Instagramnya juga mengumumkan jika stok vaksinasi dosis dua untuk saat ini tengah kosong.

Pihak RSI, akan menginformasikan kembali ketika telah mendapat droping vaksin kembali.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita