TEMPO.CO, Jakarta - Sejak Ahad, 12 September 2021, akun Instagram Official dari John Lennon ramai diperbincangkan di jagat Internet. Hal ini dikarenakan akun yang diikuti lebih dari 2 juta pengguna ini mengunggah penggalan lirik Imagine all the people, Living life and peace dari lagu Imagine milik John Lennon ke berbagai bahasa yang ada di dunia.

Unggahan ini juga menghiasi kanal-kanal media sosial masyarakat Indonesia lantaran akun tersebut mengunggah lirik lagu Imagine itu dalam bahasa Indonesia. Pertama, akun tersebut mengunggah lirik tersebut dalam Bahasa Indonesia, “Bayangkan semua orang hidup dengan damai,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.

Masih dalam slide yang sama, akun ini memberi kejutan dengan mengunggah terjemahan dari lagu Imagine dengan Bahasa Jawa. “Bayangke kabeh wong urip tentrem,” tulisnya. Hal ini banyak menimbulkan respon bagi masyarakat Indonesia.

Pemilik akun @dwita0809 menuliskan, “Boso jowo rekkk.” Selain itu, pemilik akun @mfaisalab juga memberikan respon dengan menuliskan, “Ambu ambune areo colab karo ndarboyeng.” “John Lennon goes medhok,” tulis akun @icadddf.

Selain kedua bahasa tersebut, akun ini juga memposting penggalan lirik Imagine dalam bahasa Sunda di postingan yang berbeda. “Bayangkeun sadayana jalmi hirup tengtrem,” tulis akun tersebut. Hal ini langsung ditanggapi oleh pemilik akun @febyanjaniptrr, “Bayangkeun lamun John Lennon aya keneh,” tulisnya. Akun @vlntn_snrt juga memberikan komentar, “Nama tengah John Lennon adalah Asep,” ujarnya.

Respon yang begitu banyak dari netizen baik di Indonesia maupun berbagai belahan dunia lainnya, tidak lepas dari pesan lagu tersebut. seperti yang diketahui, lagu ini digubah John Lennon pada 1971 dan terinspirasi dari puisi istrinya, Yoko Ono.

Dalam sayatan-sayatan nada yang lembut dan empat chord yang khas, lagu ini sekilas terdengar seperti lagu santai untuk menemani seseorang menyeduh secangkir kopi di sore hari. Namun, diperhatikan lebih jauh, Lennon menambahkan lirik-lirik yang politis dan argumen sosial yang tajam— imagine a world without artificial divisions of faith, politics and greed—dengan suara dan piano yang dapat menembus kesuraman total.

Berikut Lirik Imagine, lagu John Lennopn yang fenomenal itu:

Imagine there's no heaven

It's easy if you try

No hell below us

Above us, only sky

Imagine all the people

Livin' for today

Ah

Imagine there's no countries

It isn't hard to do

Nothing to kill or die for

And no religion, too

Imagine all the people

Livin' life in peace

You

You may say I'm a dreamer

But I'm not the only one

I hope someday you'll join us

And the world will be as one

Imagine no possessions

I wonder if you can

No need for greed or hunger

A brotherhood of man

Imagine all the people

Sharing all the world

You

You may say I'm a dreamer

But I'm not the only one

I hope someday you'll join us

And the world will live as one.

Selain The Beatles serta karya-karya yang menyertainya, John Lennon juga memberikan legacy kepada dunia dengan lagu Imagine-nya. Lagu ini juga menjadi anthem untuk perdamaian. Lagu ini juga diputar di radio-radio Amerika pasca tragedi yang menyerang gedung WTC (World Trade Centre) 20 tahun silam.

GERIN RIO PRANATA 

Diterbitkan di Berita

Diaspora Jawa merupakan salah satu kelompok etnis asal Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Di ibu kota AS Washington, D.C., dan sekitarnya kelompok ini bersatu dalam wadah bernama Paguyuban Orang Jawa (Paguyuban Tiyang Jawi/PTJ) dengan tujuan untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa serta ikut memperkenalkan keragaman budaya Indonesia di Amerika.

Paguyuban Orang Jawa (Paguyuban Tiyang Jawi/PTJ) didirikan sebagai ajang silaturahmi warga Jawa dan bertujuan untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa, terutama bagi generasi muda dan penerus, serta untuk membantu memperkenalkan keragaman budaya Indonesia di Amerika.

Sebagai warga Jawa di Amerika, pengurus dan para anggota PTJ juga ingin mempertahankan ciri-ciri yang khas, nilai-nilai yang luhur, dan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari etnis Jawa, serta tidak melupakan asal-usulnya, atau tidak ingin seperti kata peribahasa, “kacang lupa pada kulitnya.”

Lantip Sri Sadewo, Pengurus PTJ (foto: courtesy).
Lantip Sri Sadewo, Pengurus PTJ (foto: courtesy).

 

Lantip Sri Sadewo, atau yang akrab dipanggil Dewo, adalah salah seorang penggagas, pendiri dan aktivis PTJ. Pria berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah ini telah tinggal di Amerika selama 21 tahun.

Lulusan IKIP Semarang ini mengelola seksi seni budaya dalam kepengurusan PTJ, dan ikut berperan sebagai salah seorang pelatih grup seni reog Ponorogo.

Dewo mengatakan bahwa sebenarnya PTJ berdiri untuk memfasilitasi keinginan dan kerinduan banyak warga diaspora Jawa di Washington, D.C. dan sekitarnya.

"Masyarakat Jawa di sini menanyakan apa sebenarnya wadah untuk berkumpulnya komunitas Jawa karena selama ini, selama puluhan tahun, di Washington tidak ada wadah yang tepat, yang bisa dijadikan sebagai ajang komunikasi antar diaspora Jawa. Makanya kami kemudian membentuk satu tim untuk membentuk kepengurusan PTJ agar kegiatan-kegiatan yang bersifat kejawaan itu kemudian bisa terorganisir, dan alhamdulillah melalui beberapa kegiatan termasuk yang bertempat di kediaman ambassador (Duta Besar RI), bisa kami lakukan,” ujarnya.

Menurut Dewo, masing-masing anggota dan pengurus memiliki kesibukan dengan urusan pekerjaan masing-masing.

Namun, pengurus bertekad akan mengelola PTJ dengan baik dan terus berusaha mengadakan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan untuk mengobati kerinduan tersebut, sekaligus memupuk persaudaraan di antara para anggotanya serta merawat dan meneruskan warisan budaya Jawa kepada generasi muda sekarang dan generasi penerus mendatang.

 

Pengurus grup seni Singo Lodoyo menunjukkan piagam penghargaan yang diterima dari Duta Besar RI di Washington DC (foto: courtesy).
Pengurus grup seni Singo Lodoyo menunjukkan piagam penghargaan yang diterima dari Duta Besar RI di Washington DC (foto: courtesy).

 

"Aktivitas-aktivitas yang kita lakukan salah satunya aktivitas kemanusiaan, aktivitas budaya. Itulah hal yang paling kita pentingkan, yakni ikut melestarikan kebudayaan Jawa sehingga kebudayaan Jawa ini bisa tetap lestari. Walaupun kita berada jauh dari tanah air, akan tetapi kecintaan kita terhadap budaya kita masih tetap kita pertahankan.”

Selain itu, Dewo mengatakan bahwa selama pandemi COVID-19, PTJ ikut merasa prihatin dan peduli dengan kondisi saudara-saudara di Indonesia.

 

Reog Singo Lodoyo pentas pada Festival Bunga Sakura (Cherry Blosson Festival) di Washington DC (foto: courtesy).
Reog Singo Lodoyo pentas pada Festival Bunga Sakura (Cherry Blosson Festival) di Washington DC (foto: courtesy).

 

"Melalui kegiatan ini, kami, baik PTJ maupun Singo Lodoyo, kita bekerja sama, bahu-membahu untuk kemudian mencoba melakukan fund raising, mengumpulkan dana dari teman-teman. Dasar kenapa kita melakukan itu karena kita ikut prihatin, ikut sedih melihat dan mendengar situasi di Indonesia.

COVID-19 begitu merajalela dan banyak sekali kekurangan di antara warga kita, saudara-saudara kita di Indonesia sehingga kami berupaya untuk membantu semampu kami. Kami bukan orang yang mampu dengan jumlah besar, tetapi kami memiliki usaha, memiliki empati untuk berusaha ikut membantu melalui dana yang sampai saat ini kita belum bisa menghitung. Jadi, seberapapun hasil dari kegiatan ini, maupun hasil dari aktivitas panitia nanti sepenuhnya akan kita serahkan ke Indonesia. Siapa dan di mana penerimanya, itu nanti akan kami rembuk lagi.”

Pihak KBRI, menurut Dewo, memberikan sumbangan secara moril, dorongan dan motivasi, dan izin penggunaan fasilitas, seperti juga kepada semua perkumpulan diaspora Indonesia di Washington, D.C. Dia menambahkan, “sangat kami harapkan bahwa tidak hanya KBRI tetapi juga semua pihak, termasuk dari Indonesia bisa mendukung kami untuk tetap melestarikan budaya Jawa di tanah Paman Sam ini.”

Singo Lodoyo adalah grup reog Ponorogo yang walaupun dibentuk jauh sebelum lahirnya PTJ, kini menjadi salah satu bentuk perkumpulan seni kebanggaan warga Jawa di ibu kota Amerika dan sekitarnya.

 

Bandi Wiyono, Ketua grup seni Reog Singo Lodoyo (foto: courtesy).
Bandi Wiyono, Ketua grup seni Reog Singo Lodoyo (foto: courtesy).

 

Bandi Wiyono, pria asli dari Ponorogo, adalah ketua grup yang telah bertahan selama 15 tahun itu.

"Reog Singo Lodoyo didirikan bulan Mei tahun 2006 karena sebagai orang Jawa di perantauan, rasa “kangen” dan cinta budaya Jawa itu tidak bisa dibendung lagi, sehingga akhirnya saat itu kita mengumpulkan iuran, mengumpulkan dana dan akhirnya kita bisa membeli reog satu unit lengkap langsung dari Ponorogo. Reog itu dibawa ke Washington melalui kerjasama dengan Embassy of Indonesia.”

Bandi mengatakan sumbangan KBRI “sangat luar biasa,” terutama dari segi pendanaan. “Kadang-kadang ketika grup reog ini mengadakan tur ke luar daerah, misalnya Chicago atau New York, KBRI juga selalu membantu soal dana, di samping grup juga mendapatkan sponsor,” tambahnya.

Berbagai kegiatan pentas telah dilakukan oleh grup ini, baik partisipasi rutin dalam perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, maupun berbagai event internasional.

“Setiap (ada perayaan) Indonesian Independence Day kita selalu ikut berperan serta, terus sebelum COVID, kita selalu aktif mengikuti kegiatan di International Festival di Takoma Park setiap bulan September. Kita juga mengikuti Bowie International Festival dan kita sudah pernah main di New York dua kali di diaspora community New York, juga di Chicago dan di Philadelphia malah empat kali.”

 

Reog Singo Lodoyo pentas untuk peringatan HUT RI di Wisma Indonesia Washington DC (foto: courtesy).
Reog Singo Lodoyo pentas untuk peringatan HUT RI di Wisma Indonesia Washington DC (foto: courtesy).

 

Menurut Bandi, Singo Lodoyo juga telah pentas di berbagai kota di negara bagian Virginia dalam berbagai event internasional, seperti Asian Heritage Festival. “Jadi kita ikut di dalamnya, semua untuk mempromosikan budaya reog dari lokal ke dunia internasional,” ujarnya.

Bandi merasa bersyukur bahwa reog Ponorogo sebagai salah satu bentuk seni Jawa dihargai di Amerika. “Yang jelas masyarakat Amerika sangat menerima dan sangat antusias dengan budaya reog yang berada di Amerika dan kami mendapatkan support yang luar biasa. Makanya kami bisa berdiri sampai sekarang.”

Kiprah Singo Lodoyo telah membuahkan berbagai penghargaan, mulai dari Duta Besar RI di Washington, D.C., hingga berbagai penyelenggara festival, termasuk untuk kategori “good performance award” pada festival diaspora di Chicago.”

 

Ketua grup Reog Singo Lodoyo menerima penghargaan dari Duta Besar RI di Wasington DC (foto: courtesy).
Ketua grup Reog Singo Lodoyo menerima penghargaan dari Duta Besar RI di Wasington DC (foto: courtesy).

 

Bandi mengatakan sejauh ini telah terjadi tiga kali regenerasi pemain Singo Lodoyo. “Mulai sekarang ini jathil itu semua dari orang kita, tapi kelahirannya di Amerika. Jadi, biar sambil memperkenalkan budaya reog dari orang-orang kita itu, biar mengerti reog itu apa sih. Alhamdulillah anak-anak yang kelahiran di sini mengerti reog semua sekarang ini.”

Bandi menambahkan bahwa Singo Lodoyo sudah bersilaturahmi dengan Bupati Ponorogo untuk mencoba menjajaki kerja sama dengan pemerintah daerah kabupaten di Jawa Timur itu. “Kami juga sudah dua kali melakukan (pertemuan) virtual dan alhamdulillah dia juga sangat mendukung dengan adanya reog yang berada di sini. Semoga nanti menjadi kerja sama yang bagus sekali dan memajukan budaya Ponorogo ke Amerika. Kita hidup di Amerika selalu sibuk bekerja, tapi kita akan cinta dan rindu akan reog Ponorogo. Kita akan melanjutkan supaya reog Ponorogo maju, dari lokal ke pentas internasional.”

 

Franklin Paul Norris, Penulis dan Peneliti (foto: courtesy).
Franklin Paul Norris, Penulis dan Peneliti (foto: courtesy).

 

Berbicara kepada VOA, Franklin Paul Norris, warga Amerika yang beristrikan seorang wanita Jawa menyatakan sangat mendukung berdirinya Paguyuban Tiyang Jawi. “Sumbangan organisasi-organisasi warisan budaya seperti PTJ di Washington, D.C., sebenarnya sangat berharga, terutama bagi orang-orang di Amerika Serikat yang mungkin sama sekali belum pernah mendengar tentang Indonesia maupun penduduk Jawa.”

Paul, yang bekerja sebagai penulis dan peneliti lepas, mengatakan fungsi sumbangsih budaya seperti yang dilakukan oleh PTJ jelas tidak hanya memperkaya ragam dan khazanah budaya dalam suatu komunitas, tetapi terlebih penting lagi dapat menambah perspektif orang-orang dalam komunitas bersangkutan. "Jadi, fungsi sumbangsih budaya dari organisasi semacam ini memberi orang perspektif tambahan untuk memahami dan menemukan arti informasi di sekitar mereka, pengalaman-pengalaman mereka. Dalam dunia modern yang terglobalisasi, orang benar-benar membutuhkan sebanyak mungkin alat perspektif yang berbeda-beda yang dapat mereka kumpulkan untuk membantu mereka menghadapi dan mengatasi dunia modern ini serta semua informasi berbeda yang mereka hadapi setiap hari. Jadi, melalui uluran tangannya, organisasi PTJ benar-benar memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

PTJ, yang menurut pengurusnya beranggotakan sekitar 300 orang (dari perkiraan sekitar 500 orang Jawa di Metropolitan Washington, D.C.), hanyalah salah satu kelompok sosial kemasyarakatan berbasis etnis yang dibentuk oleh diaspora Indonesia di Amerika.

Yudho Sasongko, Minister Counselor dan Kepala Fungsi Penerangan dan Sosial-Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) menyatakan sesuai data yang ada di KBRI, warga negara Indonesia yang mencatatkan diri ke perwakilan RI di seluruh AS jumlahnya diperkirakan 150 ribu orang. Dari jumlah itu, menurutnya, jumlah WNI yang bermukim di District of Columbia, Maryland dan Virginia (DMV) tercatat sekitar 3.000 orang. [lt/ab]

Diterbitkan di Berita

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Budayawan Ridwan Saidi memberikan pernyataan mengejutkan. Ia menyebut bahwa Habib Rizieq adalah seorang Satrio Piningit, sosok yang selama ini kedatangannya ditunggu-tunggu.

"Kalau saya merujuk kepada kebudayaan jawa, Habib Rizieq itu adalah Satrio Piningit, orang yang ditunggu-tunggu," ujar Ridwan Saidi dalam channel Youtube Refly Harun, dikutip pada Jumat (2/1/2021). 

Ridwan kemudian membandingkan kondisi sekarang dengan kondisi perpolitikan di tahun 1950an. Dimana, terdapat perbedaan jauh dalam pengistilahan politikus.

"Kalau kritik kepada partai-partai itu cuma satu saja dalam pandangan kita dengan tahun 1950. Tahun 1950 itu ada yang mereka katakan politikus. Politikus itu mempunyai syarat intelektualitas, punya etika. Kalau sekarang istilahnya pekerja politik. Kalau nggak ada intelektual, nggak ada etika, itu namanya pekerja politik" ungkapnya.

Namun, ada perbedaan mencolok dengan politik tahun 1950, yang mana saat ini sosok idol type itu sudah muncul, yakni Habib Rizieq. "Sekarang sudah ada idol type yang namanya Habib Rizieq, yang ditunggu-tunggu sudah tiba.

Nah benar kalau serius kawan-kawan di Front Persaudaran Islam tu tinggal dirinci program yang tadi, yang termasuk ada, intelektualitas kayaknya belum ada ya?" ungkapnya.

Oleh karena itu, ia meminta agar FPI sekarang bisa bekerja untuk seluruh bangsa.

Ridwan Saidi menilai, Habib Rizieq akan merasa senang jika FPI mau bekerja untuk bangsa Indonesia.

"FPI juga bekerja untuk seluruh bangsa, berkhidmat untuk seluruh bangsa. Sehingga itu akan menggembirakan Habib Rizieq yang mempunyai tesis S2 maupun S3 tentang Pancasila kalau nggak salah, itu akan lebih baik kalau gitu," sebut Ridwan Saidi.

Sementara itu, ungkapan Babe Ridwan Saidi tersebut langsung riuh di media sosial. Warganet heran dengan pernyatan Babe Ridwan dan menudingnya tidak paham akan sejarah.

 

 

"Konsep satrio piningit tuh apa tau gk sih sejarawan abal2 nih. Mendadak jadi sejarawan. Padahal disiplin ilmunya apa coba. Yg bilang sriwijaya perompak pula wkwkwk. Susah jaman skrg banyak orang2 multitalent.Ada pula yg mendadak bisa menguasai semua ilmu pdhl cm filsafat," tulis @NFEffendi.

"Dalam Islam / arab aplagi kilapah ala2 dia, gak ada itu Satrio Piningit. Satrio Piningit hanya berlaku dalam budaya jawa. Si embah ini nglindur apa pikun atau ngomong karena disuruh ya," tulis @AndyBeezee

"Sori mbah, anda tahu tidak artinya satrio piningit, kalau nggak tahu jangan asal ngomong dong, udah sana cuci kaki, cuci tangan, gosok gigi trus ganti baju lanjut tidur, udah malem. Kalau tidur jangan kebablasen ya," @DradjatKuntjor2

Ramalan tentang Satrio Piningit

Dikutip dari berbagai sumber, Satria Piningit atau Ratu Adil merupakan mitologi yang mengatakan bahwa akan datang seorang pemimpin yang akan menjadi penyelamat, ia akan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Raja tersebut disebut juga "Erucokro". Ramalan tentang datangnya Ratu Adil ini berasal dari Prabu Jayabaya, Raja Kediri 1135-1157, yang kemudian diteruskan oleh pujangga Kraton Surakarta, Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1973).

Pertanda kedatangan Ratu Adil adalah adanya kemelut sosial, malapetaka alam, serta jatuhnya raja besar yang ditakuti. Pemerintahan yang mengganti raja yang ditakuti tidak berlangsung lama.

Ratu Adil bersenjata trisula weda. Sebagaimana yang disebutkan oleh ramalan Jayabaya senjata Ratu Adil adalah trisula, senjata bermata tiga dan weda. Untuk kalimat yang satu ini dimaknai secara tersirat, karena Satrio yang dipingit tidak membawa trisula ke mana-mana.

Dalam pemaknaan trisula wedha, secara garis besar bisa dimaknai tiga menjadi satu, seperti ilmu, amal dan iman, bumi, langit, dan isinya: kiri, kanan, tengah: bener, jejeg, dan jujur, atau apa pun yang secara filsafat mengandung makna tiga menjadi satu.

Hal ini, sesuai dengan derajat dewa, sehingga berkelakuan mulia. Ratu Adil, Satria Pininggit bukan Imam Mahdi dan bukan merupakan sosok yang sama, sangat berbeda, Jawa kuno (dwipa) mengenal sosok Ratu Adil dari zaman dahulu, dia adalah sosok keturunan dari Krisna.

Dalam ugo wangsit Sliwangi tertulis jelas bahwa Ratu Adil atau budak angon (kiasan dari orang atau golongan rakyat biasa), disebutkan pula dalam ugo wangsit siliwangi bahwa ratu adil atau budak angon ditemani oleh pemuda berjanggut (orang yang dekat sebagai penasehat).

Dalam ramalan Jayabaya disebutkan bahwa Satrio Piningit itu adalah sosok ksatria pilihan yang akan muncul bersamaan puncak terjadinya goro-goro,  gonjang-ganjing dan ketidakadilan di negeri ini.

Penulis: | Editor: Feryanto Hadi

Diterbitkan di Berita

SintesaNews.com – Indonesia berencana memberlakukan pembatasan yang lebih ketat mulai 3 Juli 2021. Saat ini Indonesia sedang menghadapi gelombang kedua infeksi virus corona dari varian Delta yang lebih menular.

Presiden Joko Widodo hari ini telah memimpin rapat terbatas membahas rincian tindakan baru yang direncanakan, yang disebut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Menurut sumber terpercaya, langkah-langkah baru itu mungkin mengharuskan semua pekerja di sektor yang tidak penting untuk bekerja dari rumah dan melarang makan di restoran.

“Hasil rapat terbatas istana menyepakati: penutupan restoran, mall, WFH seluruh kantor 100%,” kata sumber SintesaNews.com melalui layanan percakapan.

Saat ini hanya 25 persen karyawan perusahaan yang diizinkan bekerja di kantor. Dan tempat makan di restoran dibatasi hingga 25 persen dari kapasitas.

Perjalanan udara domestik akan diizinkan hanya bagi mereka yang telah divaksinasi dan dapat menghasilkan hasil tes swab reaksi negatif.

Tidak jelas apakah langkah-langkah baru akan berlaku secara nasional atau hanya untuk wilayah zona merah, di mana kasus telah meningkat tajam bulan ini.

Menko Marves LBP akan mengambil alih penanganan Covid-19 di Jawa -Bali. Menko Perekonomian Airlangga mengambil tanggung jawab pandemi di luar Jawa dan Bali. Juru bicara Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi membenarkan informasi ini.

“Betul, Menko Maritim dan Investasi telah ditunjuk oleh Bapak Presiden Jokowi sebagai Koordinator PPKM Darurat untuk Pulau Jawa dan Bali,” katanya melalui whatsapp.

“Saat ini sedang diformulasikan tindakan pengetatan yang akan diambil. Pengumuman resmi akan disampaikan oleh Pemerintah,” imbuhnya.

Disampaikannya bahwa supermarket, mall dan sektor-sektor esensial lainnya akan tetap beroperasi dengan jam operasional yang dipersingkat dan prokes yang ketat.

“Dimohon agar tidak panik dengan adanya berita yg beredar di grup whatssapp,” pesannya. “Agar semua pihak tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat, vaksinasi bagi yg sehat dan terus waspada,” pungkas Jodi.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mencatat Kabupaten Kudus menjadi satu-satunya daerah di Pulau Jawa yang masuk kategori zona merah alias wilayah dengan risiko penularan kasus virus corona tinggi di Indonesia pada sepekan terakhir.

Seperti diketahui, di sisi lain, zona merah terbanyak terdapat di Pulau Sumatra.

Berdasarkan data perkembangan terakhir Satgas Covid-19 per 30 Mei 2021, terdapat total 13 kabupaten/kota yang masuk zona merah. Jumlah daerah yang masuk zona merah pada pekan ini bertambah dibanding data pekan lalu yang hanya mencatat 10 wilayah.

Adapun 13 kabupaten/kota yang tercatat masuk zona merah sepekan terakhir yakni Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kemudian empat daerah di Sumatra Barat, yakni Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Pasaman Barat.

Kemudian dua lainnya berasal dari Sumatra Selatan yakni Kota Palembang dan Kota Prabumulih.

Selanjutnya, masing-masing dari Kabupaten Dairi, Sumatera Utara; Kota Pekanbaru, Riau; Kota Batam, Kepulauan Riau; Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat; Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi; dan Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu.

Lebih lanjut, penambahan zonasi juga terjadi di zona oranye atau wilayah dengan risiko sedang penularan Covid-19. Dari pekan lalu tercatat sebanyak 302 wilayah zona oranye, sementara pekan ini bertambah menjadi 322 kabupaten/kota zona oranye.

Seluruh wilayah di DKI Jakarta masuk dalam zona oranye pekan ini.

Sedangkan untuk zona kuning atau wilayah dengan risiko rendah penularan Covid-19 berkurang menjadi 171 wilayah, dari pekan lalu yang mencatat 194 kabupaten/kota masuk dalam zona kuning.

Sementara itu, tujuh kabupaten/kota masuk dalam kategori zona hijau atau tidak ada kasus. Satgas Covid-19 juga mencatat satu wilayah yang tidak terdampak virus corona hingga saat ini adalah kabupaten Dogiyai di Papua.

Adapun data terakhir yang dirilis Satuan Tugas Penanganan Covid-19 terakhir per Selasa (1/6) mencatat terdapat penambahan kasus covid-19 baru sebanyak 4.824 kasus. Sementara untuk kasus sembuh terdapat penambahan sebanyak 5.360 kasus, dan kasus meninggal 145 kasus baru.

Sehingga secara kumulatif, sebanyak 1.826.527 orang dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Dari jumlah itu sebanyak 1.674.479 orang dinyatakan pulih, 101.325 orang menjalani perawatan di rumah sakit dan isolasi mandiri, sementara 50.723 lainnya meninggal dunia.

(ain)

Diterbitkan di Berita

KOMPAS.com- Sejarah Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April, tak terlepas dari kisah dan pemikiran inspiratif dari sosok RA Kartini, putri Jawa yang dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan.

Raden Ajeng Kartini adalah salah satu pahlawan perempuan Indonesia yang berkat pemikirannya membuat emansipasi wanita kian meluaskan peran perempuan.

Sebab, di masa kolonial, terikat pula dengan norma-norma budaya patriartki dalam kehidupannya sebagai perempuan Jawa, peran perempuan dianggap tak setara dengan laki-laki.

Pemikirannya lugas menentang budaya turun temurun tentang peran perempuan yang lazimnya hanya menjalani kehidupan sebagai isteri, ibu dan dianggap tak mampu melakoni peran laki-laki.

Seperti diberitakan Kompas.com, Selasa (21/4/2020), Pengamat Sejarah Edy Tegoeh Joelijanto mengatakan bahwa RA Kartini ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya 'konco wingking'.

Artinya, perempuan bisa berperan lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam bidang pendidikan.

"Perempuan juga bisa menentukan pilihan hidup, tak harus atas paksaan orantua dan perempuan juga bisa sekolah setinggi-tingginya," kata Edy yang pernah mengenyam pendidikan di UKDW Yogyakarta dan Universitas Putra Bangsa Surabaya.

Berdasarkan literatur sejarah, RA Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Putri Jawa yang dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan yang dibesarkan di sebuah keluarga ningrat Jawa.

Ayahnya seorang Bupati Jepara bernama Raden Mas Ario Adipati Sosroningrat, dan ibunya, putri dari seorang guru agama di Teluwakur, Jepara, bernama M.A Ngasirah.

Kartini berasal dari keluarga yang terpandang. Seperti diberitakan Kompas.com, Selasa (21/4/2020) lalu, kakeknya adalah Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang menjadi bupati di usia yang sangat muda, yakni 25 tahun.

Selain dari keluarga terpandang, ia juga berasal dari keluarga yang dikenal cerdas. Sebab, kakak laki-lakinya, Sosrokartono, dikenal sebagai orang yang ahli dalam bidang bahasa.

Perjuangan untuk pendidikan perempuan Di masa itu, belum banyak perempuan yang dapat mengenyam pendidikan. Tidak seperti saat ini, baik laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam memperoleh pendidikan.

Hingga usia 12 tahun, RA Kartini akhirnya memperoleh pendidikan di Europes Lagere School (ELS), dan semua murid di sekolah ini diwajibkan berbahasa Belanda. Namun, tradisi Jawa menghentikan langkah putri Jawa itu mengenyam pendidikan di sekolah.

 

RA Kartini dan adik-adiknya(WIKIMEDIA COMMONS/GPL FDL)

 

Sebab, menurut tradisi, anak perempuan harus tinggal di rumah sejak usia 12 tahun hingga menikah. Kendati tak lagi bersekolah, keinginan Kartini untuk melanjutkan pendidikan, masih sangat kuat. Ia tak pernah berhenti belajar, membaca dan menulis.

Bahkan, di masa itu, Kartini turut berperan membangun kemandirian para perempuan, dengan mengajar membatik para abdi dan gadis-gadis kecil, hingga membuka sekolah kerajinan putri di kabupaten khusus putri bangsawan kota itu.

Bersama kedua saudaranya, RA Kardinah dan RA Rukmini, Kartini menjalankan sekolah kerajinan tersebut. Dalam periode tahun 1896 hingga 1903, RA Kartini menuangkan pemikirannya dalam tulisan yang dimuat di majalah perempuan di Belanda.

Di majalah De Hoandsche Lelie, De Nederlandasche, De Gida dan Soerabainsche Nieus Handelsblad, tulisan-tulisan Kartini dipublikasikan secara luas. Dia juga berkirim surat dengan teman-temannya dari Belanda, salah satunya Abendanon.

Hingga sebuah kabar datang pada Abendanon, yang mengabarkan Kartini akan menikah. KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat mempersunting Kartini pada tahun 1903.

Meski telah menikah, perjuangan RA Kartini dalam membela hak-hak perempuan terus berjalan dan mendapat restu dari suaminya. Kartini meninggal pada usia muda, 25 tahun, empat hari setelah melahirkan anak pertamanya pada 17 September 1904.

 

RA Kartini sedang membatik dengan adik-adiknya Rukmini (tengah) dan Kardinah (kiri).(Dok Museum Pusat Jakarta/Arsip Kompas)

 

Surat Kartini dan sejarah perjuangannya

Melansir Harian Kompas, 1 Januari 2000, surat-surat yang ditinggalkan RA Kartini, menjadi bukti yang menunjukkan kisah-kisah perjuangannya dalam membela emansipasi perempuan di masanya.

Setidaknya ada 106 surat Kartini, yang sebagian besar kemudian diterbitkan untuk kali pertamanya pada tahun 1911 dalam buku berjudul Door Duisternis tot Lict oleh pejabat Belanda, JH Abendanon.

Buku itu terus dicetak ulang hingga empat kali hingga tahun 1923. Cetakan kelimanya pada tahun 1976 merupakan edisi baru yang diperluas dengan mencantumkan surat Kartini yang tidak diterbitkan di edisi pertama.

Surat Kartini dan kisah perjuangannya semakin luas dipublikasikan ke dalam berbagai bahasa.

Setelah bahasa Belanda, buku-buku itu kemudian diterjemahkan dalam bahasa Perancis, Inggris dan Melayu.

Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional Surat Kartini dan kisah perjuangannya yang dibukukan telah membuka mata bangsa ini, tentang kegigihannya memperjuangkan hak-hak perempuan.

RA Kartini pun ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964 oleh Presiden Soekarno, melalui Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964.

Menghormati sejarah perjuangannya, dan guna mengingat pahlawan emansipasi perempuan Indonesia, hari lahir RA Kartini pada 21 April disematkan sebagai Hari Kartini, yang masih kita peringati hingga saat ini.

Editor : Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas

 

Diterbitkan di Berita