Skenario kedua menuju kekebalan kelompok

Jumat, 27 Agustus 2021 08:05

Jakarta (ANTARA) - Memasuki bulan ke delapan tahun ini, program vaksinasi COVID-19 di Indonesia terus beradu kecepatan dengan kemampuan bermutasi virus SARS-CoV-2 yang variannya kian beragam serta mudah menular.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin meyakini kalau kecepatan mutasi virus sangat ditentukan oleh pergerakan manusia, karena mutasi dapat terjadi saat ada penularan.

Lonjakan kasus COVID-19 diperkirakan Budi masih akan terus terjadi selama virus belum bisa dikendalikan. "Vaksin jadi satu cara yang paling efisien menangkal Corona bermutasi," katanya saat hadir di dalam diskusi di Podcast Deddy Corbuzier, Rabu (25/8).

Syaratnya, kata Budi, 70 persen populasi di Indonesia telah seluruhnya terlindungi oleh vaksin atau disebut sebagai kekebalan kelompok.

Hampir 18 bulan sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia, sejumlah produsen vaksin COVID-19 menghadirkan beragam produk di Indonesia seperti Sinovac, Coronavac dan Sinopharm yang berplatform inactivated virus, Pfizer dan Moderna berplatform mRNA, AstraZeneca dan Sputnik-V berplatform Adenovirus.

Sebagian besar vaksin tersebut saat ini sudah hadir di Indonsia. Namun bagimana dengan kemanjurannya terhadap varian baru SARS-CoV-2 yang kini ada?.

Kemenkes baru saja merampungkan riset terhadap vaksin berplatform mRNA di Amerika Serikat dan Israel yang memiliki laju penyuntikan dosis lengkap vaksin di atas 50 persen. Hasilnya menunjukkan terjadi penurunan efikasi yang cukup drastis terhadap varian Delta.

Lonjakan kasus di Amerika Serikat dalam sepekan terakhir hampir menyentuh angka 200 ribu kasus konfirmasi per hari dari gelombang sebelumnya mencapai angka 250 ribu per hari dengan jumlah pasien dirawat mencapai 70 persen dari gelombang sebelumnya.

"Namun angka kematian di Amerika Serikat relatif lebih rendah meskipun masih menunjukkan tren penambahan kasus," katanya. Situasi yang sama juga terjadi di Israel yang kini mendekati puncak kasus sebelumnya sekitar 80 persen.

Kondisi berbeda dialami negara yang dominan menggunakan vaksin berplatform Adenovirus, yakni Inggris. "COVID-19 di Inggris juga sedang mengalami peningkatan. Namun situasi yang membedakan dengan Amerika Serikat dan Israel adalah angka pasien yang dirawat dan angka kematiannya lebih landai," katanya. 

Skenario kedua 

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam kesempatan webinar, Selasa (24/8), mengatakan bahwa COVID-19 varian Delta membuat kekebalan kelompok sulit untuk dicapai.

"Memang kita menghadapi satu varian Delta yang tidak memungkinkan kita mencapai herd immunity. Ini sudah dirumuskan tim ahli epidemiologi dari Universitas Gadjah Mada maupun Universitas Airlangga," katanya.

Persoalan yang melatarbelakangi situasi itu adalah reproduksi atau penularan dari varian Delta mencapai lima atau delapan kali lipat lebih cepat dari varian sebelumnya. Di sisi lain, efikasi vaksin yang ada pun masih berkisar pada rata-rata angka 60 persen.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) Slamet Budiarto dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Rabu (25/8), merekomendasikan vaksinasi dosis ketiga atau penguat (booster) untuk masyarakat umum sebagai skenario kedua jika Indonesia tetap ingin mencapai target kekebalan kelompok.

Strateginya adalah memberikan vaksin tambahan kepada peserta vaksinasi di bulan Januari, Februari, Maret, April 2021 yang sudah menerima dosis lengkap Sinovac.

Berdasarkan analisa PB-IDI, vaksin Sinovac mengalami penurunan efikasi dalam waktu enam hingga 12 bulan sehingga berpotensi memperlambat pencapaian kekebalan kelompok yang ditargetkan rampung di triwulan pertama 2022.

Jika kecepatan vaksinasi dosis kedua di Indonesia saat ini mencapai 594.774 per hari dari total sasaran 208 juta orang, kata Slamet, maka butuh tujuh hingga delapan bulan untuk terjadi kekebalan kelompok.

Slamet sependapat bahwa target vaksinasi di Indonesia sebanyak 70 persen populasi sudah tidak relevan dengan perkembangan mutasi virus yang ada saat ini.

Sesuai jurnal ilmiah Australia yang disampaikan Slamet, cakupan vaksinasi di Indonesia perlu ditingkatkan mencapai 86 persen bila efikasi vaksin di Indonesia berkisar 60-70 persen. Sehingga jumlah vaksin yang tersedia pun perlu ditambah.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito mengabarkan bahwa empat industri farmasi swasta mentransfer teknologi pengembangan vaksin COVID-19 di Indonesia melalui PT Bio Farma.

Kandidat industri farmasi swasta yang akan mendampingi uji klinik vaksin COVID-19 dengan berbagai platform bersama Bio Farma di antaranya PT Baylor Medical College yang saat ini sedang mengembangkan vaksin berbasis rekombinan protein subunit dalam proses optimalisasi uji klinik fase 1, 2 dan 3 di Indonesia.

Industri farmasi swasta lainnya adalah PT Etana Biotech bekerja sama dengan Walfax Abogen juga akan memproduksi vaksin berbasiskan mRNA yang pertama di Indonesia yang sedang tahap uji klinik fase ketiga.

Berikutnya adalah PT Biotis Pharmaceutical bekerja sama dengan Universitas Airlangga mengembangkan vaksin Merah Putih. Saat ini prosesnya sedang dalam tahap kedua dari uji praklinik.

Industri farmasi swasta lainnya adalah Genexine Korea bekerja sama dengan PT Kalbe Farma yang sedang mengembangkan vaksin berplatform DNA pertama di Indonesia.

"Saat ini sedang melakukan uji klinik fase 2 dan 3 dan akan ada teknologi transfer juga dengan PT Kalbe Farma," katanya. 

Hidup berdampingan 

Selain mengejar kekebalan kelompok, upaya pengendalian COVID-19 juga ditempuh pemerintah untuk membiasakan masyarakat patuh pada protokol kesehatan, antara lain dengan 3M, 3T, dan mengurangi durasi kontak.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengemukakan pemerintah telah mempersiapkan peta jalan hidup berdampingan bersama COVID-19 yang bertujuan untuk menyeimbangkan kehidupan yang sehat dengan ketahanan sektor ekonomi nasional.

Strategi tersebut menyasar sejumlah sektor kebijakan, di antaranya protokol kesehatan berbasis teknologi informasi, testing dan tracing serta perawatan.

Kebijakan di sektor teknologi diwujudkan lewat aplikasi PeduliLindungi yang saat ini dipakai secara nasional untuk membantu menjaga implementasi protokol kesehatan di berbagai fasilitas publik seperti mal, pasar, tempat ibadah, pariwisata, sekolah, angkutan umum dan sebagainya.

Pada sektor pelacakan kasus lewat kegiatan pengetesan epidemiologi dan penelusuran terus diperkuat secara terarah pada sasaran. Sektor ketiga, kata Nadia, adalah perawatan atau terapeutik pada pasien COVID-19 di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang terus ditingkatkan kapasitasnya.

Seluruh daya dan upaya yang telah dikerahkan oleh pemerintah tentunya tidak akan pernah cukup, sebab simpul dari permasalahan COVID-19 sesungguhnya ada pada prilaku masyarakat. Lantas, sudahkah anda patuh pada protokol kesehatan?.

Oleh Andi Firdaus
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman, menyatakan mutasi Covid-19 varian Delta dapat mempersulit herd immunity atau kekebalan komunal.

Sebab menurut dia dengan semakin efektifnya varian Delta menyebar maka semakin tinggi angka reproduksi dari virus tersebut. Dia menerangkan varian Delta juga menurunkan efektifitas vaksin.

"Bahkan orang yang sudah menjadi penyintas bisa terinfeksi lagi," katanya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (23/8).

Menurutnya dengan kenyataan itu, upaya pengetatan protokol kesehatan serta vaksinasi demi mencapai Herd Immunity yang terus dibangun menjadi mundur.

Herd Immunity, kata Dicky, memang sebuah proses yang panjang sehingga pandemi tidak serta merta usai dengan jika hal itu tercapai. Pandemi, kata dia, baru bisa dinyatakan selesai dengan adanya pengetatan protokol kesehatan dan isolasi mandiri.

Meski begitu, Dicky mengimbau masyarakat tidak khawatir jika herd immunity susah tercapai asalkan tetap konsisten dalam menjaga imun dan mematuhi protokol kesehatan.

Dicky juga menjelaskan menghadapi Covid-19 varian Delta merupakan tantangan tersendiri, karena virus ini memiliki kemampuan untuk mensiasati sistem kekebalan tubuh.

"Pada jenis-jenis virus tertentu itu punya kemampuan menyiasati sistem kekebalan tubuh. Seperti virus HIV itu kenapa sulit mendapatkan vaksinnya karena pinter banget virusnya menyiasati. Dan memang setiap virus ada kekurangan dan kelebihannya," kata Dicky.

Lebih lanjut, Dicky mengatakan kekebalan sistem imun yang terus mengalami penurunan meski sudah divaksinasi memang hal yang tidak begitu mengherankan karena varian Delta terus bermutasi.

"Karena dia bermutasi juga seperti halnya virus influenza, hanya bedanya ini dia memiliki angka reproduksi yang tinggi," ujarnya.

Untuk menghadapi varian Delta ini, menurut Dicky yang perlu diperkuat adalah kesehatan masyarakat.

Senada dengan Dicky, di hadapan parlemen Inggris, Sir Andrew Pollard, seorang profesor infeksi pediatri dan imunitas di Universitas Oxford, mengatakan guna mencapai kekebalan komunal tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat lantaran penyebaran varian Delta.

"Kami tahu sangat jelas dengan virus corona bahwa varian saat ini, varian Delta, masih akan menginfeksi orang yang telah divaksinasi," kata Pollard.

Pollard menjelaskan tidak mungkin herd immunity akan tercapai jika virus bermutasi dan menghasilkan varian virus corona baru. Hal itu juga disebut berpotensi lebih menular pada populasi yang sudah divaksin.

Meskipun sebagian kasus ditemukan dengan gejala lebih ringan, orang yang telah divaksinasi tetap dapat tertular varian Delta. Beberapa ahli berharap herd immunity bisa tercapai seperti halnya campak yang juga sangat menular.

(mhr/ayp)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Adanya mutasi Covid-19 varian Delta disebut dapat mempersulit kekebalan komunal atau Herd Immunity. Hal itu diakui langsung oleh pengembang vaksin AstraZeneca dan Oxford.

Di hadapan parlemen Inggris, Sir Andrew Pollard, seorang profesor infeksi pediatrik dan immunity di Universitas Oxford, mengatakan bahwa mencapai kekebalan komunal tidak mungkin terjadi sekarang, lantaran varian Delta.

"Kami tahu sangat jelas dengan virus corona bahwa varian saat ini, varian Delta, masih akan menginfeksi orang yang telah divaksinasi," kata Pollard.

Terlebih ia menjelaskan tidak mungkin herd immunity akan tercapai, jika virus bermutasi dan menghasilkan varian virus corona baru. Hal itu juga disebut berpotensi lebih menular pada populasi yang sudah divaksin.

Orang yang divaksinasi masih bisa tertular varian Delta, meskipun sebagian kasus ditemukan dengan gejala lebih ringan. Beberapa ahli berharap herd immunity bisa tercapai seperti halnya campak yang juga sangat menular.

Banyak negara telah mencapai kekebalan komunal pada penyakit campak, dengan memvaksinasi 95 persen populasinya, seperti Amerika Serikat (AS), di mana penularan endemik berakhir pada tahun 2000. Hasilnya jika seseorang divaksinasi campak, mereka tidak dapat menularkan virus.

Meski demikian dengan masih menyebarnya virus Corona, vaksin masih memenuhi peran utamanya yaitu melindungi dari gejala parah.

Dikutip The Guardian, konsep kekebalan komunal atau populasi bergantung pada seberapa besar populasi yang memperoleh kekebalan baik melalui vaksinasi atau sebelumnya sudah terinfeksi.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit CDC AS, orang yang divaksinasi yang terkena varian Delta 25 kali lebih kecil kemungkinannya memiliki gejala parah atau meninggal. Mayoritas yang tertular bergejala ringan atau tidak sama sekali.

Tetapi semakin banyak bukti menunjukkan bahwa dengan adanya varian Delta, orang yang divaksinasi dosis lengkap masih dapat menularkan virus. "Kami tidak memiliki apa pun yang akan menghentikan penularan itu ke orang lain," kata Pollard seperti dikutip Science Alert.

Data dari studi React yang baru dilakukan oleh Imperial College London, menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi penuh berusia 18 hingga 64 tahun memiliki risiko 49 persen lebih rendah terinfeksi, dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi penuh memiliki sedikit kemungkinan positif, meskipun setelah melakukan kontak dengan orang yang terpapar virus Corona.

Israel adalah contoh yang baik dalam kekebalan komunal. Kasus positif paparan corona dilaporkan turun, setelah memvaksinasi sekitar 80 persen orang dewasa.

Hal itu mendorong beberapa orang berharap bahwa capaian itu telah melampaui herd immunity, tetapi varian Delta sejak itu membawa lonjakan kasus lain.

(can/DAL)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo serta Ketua Umum dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Utama (PBNU) KH. Said Aqil Siradj meninjau kegiatan vaksinasi massal di Yayasan Al-Mahbubiyah.

Vaksinasi massal untuk mempercepat terciptanya herd immunity atau kekebalan kelompok terhadap virus Corona itu diselenggarakan atas kerja sama TNI, Polri dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta di Yayasan Al-Mahbubiyah, Jalan Jeruk Purut, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (7/7/2021).

"Kami bersama Panglima lanjutkan rencana akselerasi percepatan vaksinasi dan alhamdulillah hari ini kami bisa laksanakan kerja sama dengan NU," kata Sigit. Baca juga: Gawat! Sehari Covid-19 Bertambah 34.379 Kasus

Untuk semakin mempercepat akselerasi Herd Immunity yang ditargetkan Pemerintah, Sigit telah menginstruksikan seluruh jajaran TNI dan Polri, untuk menggandeng seluruh warga NU di Indonesia menggelar vaksinasi massal.

"Jadi kerja sama ini tidak hanya berbatas hanya di pusat, tapi di seluruh wilayah Indonesia dimana NU berada. Kami sudah perintahkan kepada seluruh jajaran kami untuk bisa kerjasama," ujar mantan Kapolda Banten ini.

Dengan adanya kerja sama dengan NU se-Indonesia, Sigit optimistis bahwa, target Pemerintah untuk menciptakan kekebalan kelompok dapat berjalan dengan sebagaimana telah ditargetkan.

"Sehingga akselerasi percepatan pun untuk mencapai target pemerintah di akhir Juli ini diharapkan bisa masuk, kalau kemarin di awal Juli 1 juta, mungkin di akhir Juli dan Agustus bisa masuk jadi 2 juta.

Kemudian selanjutnya Oktober dan November juga bisa dilaksanakan 3 juta sehari," ucap eks Kabareskrim Polri tersebut. 

Senada, Panglima TNI juga menyampaikan apresiasi kepada NU karena mau terlibat aktif dalam program vaksinasi massal guna mempercepat terwujudnya Herd Immunity.

"Alhamdulillah, hari ini kami melaksanakan program Pemerintah yaitu vaksinasi nasional yang dilaksanakan secara serentak," ujar Hadi.

Sementara, Ketum PBNU Said Aqil mengapresiasi kerja keras dari jajaran TNI-Polri, yang melakukan akselerasi Herd Immunity untuk warga Indonesia dalam menghadapi virus Corona.

Dia menyatakan siap dan bakal selalu mendukung vaksinasi massal. Hal ini, menurutnya sebagai wujud pengabdian terhadap bangsa dan negara.

"Kerja-kerja kita lillahi ta'ala sebagai ormas keagamaan, kemasyarakatan tanpa pamrih, betul-betul pengabdian bagi bangsa dan negara. Terutama bekerjasama dengan pihak terkait, dalam rangka bertanggungjawab kepedulian bersama," tutup Said Aqil. Puteranegara

(cip)
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut kekebalan kelompok (herd immunity) terhadap Covid-19 bakal tercapai di Indonesia. Kemungkinan adalah di bulan November 2021 mendatang.

Hal ini dia sampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI. Menurutnya kekebalan kelompok ini tergantung dari jumlah vaksin di Indonesia. Jika jumlah vaksin bisa mencapai sekitar 70% populasi bisa mencapai herd immunity.

"Mencapai herd immunity, perlu vaksinasi 181,5 juta atau 363 juta dosis. Untuk herd immunity perlu 0,7 harus divaksinasi, dibutuhkan 254 juta dosis harus kita terima," jelas Budi dikutip dari kanal Youtube DPR RI, Senin (5/7/2021).

Menurutnya dari keseluruhan kebutuhan vaksin 363 juta dikalikan 70% membutuhkan 254 juta dosis. Angka tersebut dapat tercapai untuk bulan Oktober mendatang. Jika angka tersebut bisa tercapai di bulan Oktober, butuh waktu satu bulan untuk penyuntikan.

"Kalau angkanya di bulan Oktober kita bisa capai angka itu, disuntikkan butuh sebulan. Stok di bulan Oktober akan habis di bulan November, mungkin di bulan November akan tercapai," kata dia.

Namun Budi mengatakan semua hitung-hitungan tersebut bergantung dari supply vaksin ke Indonesia. "Tapi ini sangat bergantung supply vaksinnya. Karena angka ini bergerak terus," ungkap Budi.

Dia menjelaskan jika sampai bulan Juni, Indonesia mendapatkan 70 juta dosis. Jadi di semester kedua ini akan menerima sekitar 290 juta dosis.

Menurutnya akan ada masalah, yakni enam bulan pertama menyuntikkan 70 juta dosis maka sisa hingga akhir tahun melakukan vaksinasi 290 juta dosis. Angka tersebut sekitar 3,5 kali lipat untuk menyuntikkannya.

"Itulah sebabnya kita menggalang TNI dan Polri (untuk vaksinasi)," ungkapnya. Informasi saja, herd immunity berarti 70% total penduduk sudah disuntik vaksin. Dengan tingginya imunisasi maka diharapkan infeksi Covid-19 bisa terkendali.

(roy/roy)

Diterbitkan di Berita

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth Jakarta - Menghadapi lonjakan kasus COVID-19, Singapura akan memberlakukan 'lockdown' atau pembatasan ketat. Kebijakan ini mulai berlaku pada Minggu (16/5/2021) hingga pertengahan Juni 2021.

Menteri Kesehatan Singapura, Gan Kim Yong, mengatakan COVID-19 di negaranya tidak bisa dihadapi dengan hanya mengandalkan herd immunity atau kekebalan kelompok.

"Kami terus mendorong warga Singapura untuk divaksinasi... Namun penting untuk diingat bahwa kami tidak dapat mengandalkan herd immunity," ucap Gan, dikutip dari The Straits Times, Jumat (14/5/2021).

"Akan ada beberapa orang yang tak bisa divaksinasi, karena kondisi medis. Meski (vaksin Corona) dapat melindungi dari penyakit parah, itu tidak sepenuhnya menghentikan infeksi atau penularan," tambahnya.

Menurut Gan, vaksinasi COVID-19 bukanlah satu-satunya cara untuk melawan virus Corona. Oleh karena itu, kata Gan, herd immunity tak bisa menjadi jaminan Singapura bisa terbebas dari COVID-19.

"Vaksinasi harus dilihat sebagai salah satu dari banyak alat yang bisa kita gunakan... Tindakan seperti menjaga jarak tetap sangat penting dilakukan dan upaya pelacakan kontak (contact tracing) adalah bagian tak terpisahkan dari rangkaian alat yang kami gunakan untuk melindungi Singapura," jelasnya.

Diterbitkan di Berita