Jakarta, CNN Indonesia -- Sebaran mutasi virus corona (Covid-19) varian Delta B1617.2 di Indonesia meningkat 1,9 kali lipat dalam kurun lima hari. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan mencatat 1.823 kasus varian Delta yang tersebar di 31 provinsi.

Berdasarkan laporan per 21 Agustus 2021 yang baru diunggah Balitbangkes Kemenkes, Senin (23/8), hanya tiga provinsi yang masih terbebas dari varian Delta, yakni Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan 80 persen hasil pemeriksaan spesimen lanjutan menggunakan metode whole genome sequence (WGS) dalam sebulan terakhir teridentifikasi sebagai varian Delta.

Menurutnya, kecepatan penularan varian Delta 6-8 kali lebih cepat dari varian Covid-19 lainnya, sehingga mampu menciptakan penularan yang eksponensial. Selain varian Delta, Kemenkes juga mencatat 64 kasus varian B117 Alfa dan 17 kasus varian B1351 Beta.

Ketiga varian tersebut merupakan 'Variant of Concern (VoC)' alias varian yang diwaspadai Badan Kesehatan Dunia (WHO). WHO sejauh ini baru menetapkan empat varian yang masuk dalam kategori ini yaitu B117, B1351, B1617, dan P1. Hanya P1 yang belum teridentifikasi di Tanah Air.

Temuan kasus varian itu teridentifikasi berdasarkan hasil pencarian strain virus baru, WGS, terhadap total 5.360 sampel spesimen. Berikut sebaran provinsi dan temuan kasus dari tiga varian tersebut.

Varian B1617.2 Delta 1.823 Kasus
Sumatera Utara: 29 kasus
Sumatera Barat: 75 kasus
Sumatera Selatan: 9 kasus
Aceh: 18 kasus
Bengkulu: 3 kasus
Riau: 27 kasus
Lampung: 3 kasus
Jambi: 1 kasus
Kepulauan Riau: 3 kasus
Kepulauan Bangka Belitung: 5 kasus
Banten: 22 kasus
Jawa Barat: 287 kasus
DKI Jakarta: 617 kasus
DIY: 20 kasus
Jawa Timur: 20 kasus
Jawa Tengah: 190 kasus
Bali: 23 kasus
Nusa Tenggara Barat: 42 kasus
Nusa Tenggara Timur: 102 kasus
Kalimantan Tengah: 3 kasus
Kalimantan Timur: 187 kasus
Kalimantan Utara: 16 kasus
Kalimantan Barat: 28 kasus
Kalimantan Selatan: 16 kasus
Sulawesi Selatan: 14 kasus
Sulawesi Utara: 8 kasus
Sulawesi Tengah: 20 kasus
Gorontalo: 1 kasus
Maluku: 10 kasus
Papua: 12 kasus
Papua Barat: 12 kasus

Varian B117 Alfa 64 kasus
Sumatera Utara: 2 kasus
Riau: 1 kasus
Sumatera Selatan: 1 kasus
Lampung: 1 kasus
Kepulauan Riau: 7 kasus
DKI Jakarta: 37 kasus
Jawa Barat: 10 kasus
Jawa Timur: 2 kasus
Jawa Tengah: 1 kasus
Kalimantan Selatan: 1 kasus
Bali: 1 kasus

Varian B1351 Beta 17 kasus
Jawa Barat: 2 kasus
DKI Jakarta: 12 kasus
Jawa Timur: 2 kasus
Bali: 1 kasus

(khr/fra)

Diterbitkan di Berita

VIVA – Varian Delta COVID-19, dikenal sangat menular, mudah menyebar dan menimbulkan gejala parah sehingga memicu gelombang kedua virus ini di berbagai negara di dunia.

Di waktu yang sama, varian Delta Plus, yang muncul berurutan dari beberapa kasus yang terjadi di gelombang kedua, disebut membawa mutasi lanjutan dari dua varian yang terlihat menginfeksi bahkan orang-orang yang sudah divaksinasi lengkap, serta menyebabkan kematian.

Tapi, di antara keduanya, manakah yang paling harus diwaspadai? Apakah salah satunya paling menular dibanding yang lainnya?

Dikutip laman Times of India, baik varian Delta dan Delta Plus sama-sama dikategorikan sebagai Variants of Concern (VoC) dan menyebar di banyak negara. Ancaman paling menonjol yang terlihat saat ini adalah di mana cakupan vaksinasi masih rendah.

Varian Delta COVID-19 yang paling bertanggung jawab atas gelombang kedua. Peningkatan kasusnya juga sangat cepat karena tingkat penularannya yang sangat tinggi. Tapi, varian Delta Plus, yang mengandung mutasi dari varian Delta, diberi label lebih mengkhawatirkan.

Secara perbandingan, varian Delta Plus dikatakan hampir 60 persen lebih cepat menyebar dibanding varian Delta.

Meski pengamatan klinis menunjukkan ancaman penularan yang lebih tinggi, namun keberadaan varian Delta Plus masih dalam sisi yang rendah dan hanya ditemukan menyebar dalam tingkat yang lebih lamban dari perkiraan.

Saat ini, meski varian Delta masih menjadi strain COVID-19 yang dominan, dan virusnya sangat aktif, para ahli menyarankan bahwa vairan ini, dengan gejala yang parah bisa menjadi ancaman yang terus ada.

Bukti yang tersedia mengenai penularan dan penyebarannya juga muncul lewat penelitian dan temuan genomik. Menurut para ahli, Delta Plus, meski sangat cepat menyebar dan menimbulkan keparahan, tidak meningkat dengan cepat saat ini.

Varian Delta dianggap ekstrem karena keparahan gejala yang ditimbulkan, dibandingkan dengan strain asli.

Keterlibatan paru-paru, kesulitan bernapas, keluhan gastrointestinal (meski pada kasus ringan atau sedang) yang tinggi menjadi apa yang membedakan dengan variants of concern sebelumnya.

Sementara varian Delta Plus, yang disebut membawa ciri-ciri dari varian Delta dan Beta, secara sifat membawa keparahan yang lebih tinggi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa varian ini bisa dengan mudah menembus pertahanan imun, dan mengikat kuat sel reseptor paru-paru. Lebih banyak studi tengah dilakukan untuk menentukan daftar lebih terelaborasi kemungkinan tanda dan gejalanya.

Meski kebanyakan gejala mirip dengan varian Delta, berikut bisa menjadi tanda yang harus diperhatikan.

- Keterlibata paru-paru di stadium awal
- Sesak napas dan kesulitan bernapas
- Demam yang lebih panjang dan batuk menetap
- Gejala gastrointestinal
- Ruam kulit dan alergi
- Mata kering dan berair
- Kehilangan nafsu makan dan mual

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Adanya mutasi Covid-19 varian Delta disebut dapat mempersulit kekebalan komunal atau Herd Immunity. Hal itu diakui langsung oleh pengembang vaksin AstraZeneca dan Oxford.

Di hadapan parlemen Inggris, Sir Andrew Pollard, seorang profesor infeksi pediatrik dan immunity di Universitas Oxford, mengatakan bahwa mencapai kekebalan komunal tidak mungkin terjadi sekarang, lantaran varian Delta.

"Kami tahu sangat jelas dengan virus corona bahwa varian saat ini, varian Delta, masih akan menginfeksi orang yang telah divaksinasi," kata Pollard.

Terlebih ia menjelaskan tidak mungkin herd immunity akan tercapai, jika virus bermutasi dan menghasilkan varian virus corona baru. Hal itu juga disebut berpotensi lebih menular pada populasi yang sudah divaksin.

Orang yang divaksinasi masih bisa tertular varian Delta, meskipun sebagian kasus ditemukan dengan gejala lebih ringan. Beberapa ahli berharap herd immunity bisa tercapai seperti halnya campak yang juga sangat menular.

Banyak negara telah mencapai kekebalan komunal pada penyakit campak, dengan memvaksinasi 95 persen populasinya, seperti Amerika Serikat (AS), di mana penularan endemik berakhir pada tahun 2000. Hasilnya jika seseorang divaksinasi campak, mereka tidak dapat menularkan virus.

Meski demikian dengan masih menyebarnya virus Corona, vaksin masih memenuhi peran utamanya yaitu melindungi dari gejala parah.

Dikutip The Guardian, konsep kekebalan komunal atau populasi bergantung pada seberapa besar populasi yang memperoleh kekebalan baik melalui vaksinasi atau sebelumnya sudah terinfeksi.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit CDC AS, orang yang divaksinasi yang terkena varian Delta 25 kali lebih kecil kemungkinannya memiliki gejala parah atau meninggal. Mayoritas yang tertular bergejala ringan atau tidak sama sekali.

Tetapi semakin banyak bukti menunjukkan bahwa dengan adanya varian Delta, orang yang divaksinasi dosis lengkap masih dapat menularkan virus. "Kami tidak memiliki apa pun yang akan menghentikan penularan itu ke orang lain," kata Pollard seperti dikutip Science Alert.

Data dari studi React yang baru dilakukan oleh Imperial College London, menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi penuh berusia 18 hingga 64 tahun memiliki risiko 49 persen lebih rendah terinfeksi, dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi penuh memiliki sedikit kemungkinan positif, meskipun setelah melakukan kontak dengan orang yang terpapar virus Corona.

Israel adalah contoh yang baik dalam kekebalan komunal. Kasus positif paparan corona dilaporkan turun, setelah memvaksinasi sekitar 80 persen orang dewasa.

Hal itu mendorong beberapa orang berharap bahwa capaian itu telah melampaui herd immunity, tetapi varian Delta sejak itu membawa lonjakan kasus lain.

(can/DAL)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - China mulai waspada atas lonjakan kenaikan kasus covid-19 yang baru saja terjadi. Berbeda dari yang sebelumnya, virus yang menyebar adalah varian ganas, delta.

Dalam laporan Jumat (6/8/2021), kasus Covid-19 baru menyentuh angka tertinggi sepanjang gelombang baru ini, 124 kasus pada Kamis (5/8/2021). Angka ini naik dari sebelumnya 85 kasus. Dari data itu, 80 kasus merupakan transmisi lokal, naik dari sehari sebelumnya 62 kasus.

Mengutip Reuters, Komisi Kesehatan Nasional mengatakan lonjakan infeksi masih terjadi di provinsi Jiangsu. Di mana ada 61 kasus baru yang dilaporkan atau naik dari sehari sebelumnya 40 kasus.

Xi Jinping diketahui belum mengomentari lebih jauh soal gelombang infeksi tersebut. Namun dari kebijakan yang ditempuh, terlihat kesiagaan cukup tegas.

Kemarin, dalam pernyataan publiknya, ia hanya menyebutkan kembali niat Beijing dalam membantu seluruh dunia dengan mengirimkan vaksin corona dan bantuan-bantuan lainnya.

China akan menyumbangkan 2 miliar dosis vaksin Covid sepanjang tahun ini. Selain itu Negeri Tirai Bambu juga akan memberikan US$ 100 juta atau setara Rp 1,4 triliun untuk program distribusi vaksin global Covax untuk negara-negara berkembang.

"China akan terus melakukan yang terbaik untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi pandemi," kata Xi.

Gelombang di China kali ini terjadi akibat masuknya varian Delta. Varian virus corona ini pertama kali ditemukan di India awal Mei lalu dan masuk ke China lewat penerbangan dari Rusia 20 Juli.

Saat ini, varian itu telah menyebar ke setidaknya 18 provinsi dan puluhan kota. Ini menghasilkan setidaknya empat daerah berisiko tinggi dan 91 daerah berisiko sedang.

Sementara itu, sejak akhir pekan, China sudah mengambil kebijakan penguncian (lockdown) melalui karantina khusus dan wilayah. Media pemerintah Global Times mengklaim beberapa kota tampaknya telah memperlihatkan hasil yang baik.

Di kota Nanjing, masih di provinsi Jiangsu, tempat virus mewabah pertama kali, kurva infeksi harian diklaim mulai datar. Bahkan, kota itu mencatatkan infeksi hingga satu digit saja dalam tiga hari berturut-turut.

Komisi Kesehatan kota Nanjing melaporkan empat kasus lokal baru yang dikonfirmasi pada Rabu (4/8/2021). Sehingga jumlah total infeksi di kota itu menjadi 227 sejak epidemi pecah dari bandara setempat.

Wang Guangfa, seorang ahli pernapasan di Rumah Sakit Pertama Universitas Peking, mengatakan bahwa tren menunjukkan wabah di Nanjing telah dikendalikan.

"Dengan langkah-langkah yang tepat waktu dan akurat untuk memutus rantai penularan, menahan penyebaran virus, dan vaksinasi, kami yakin dapat mengekang lonjakan Covid-19 bahkan dalam menghadapi varian Delta," kata Wang.

Hingga saat ini,China telah mencatat 93.374 kasus virus dan 4.636 kematian sejak wabah itu pertama kali muncul di kota Wuhan.

(mij/mij)

Diterbitkan di Berita

VIVA – Saat ini total ada 11 vaksin COVID-19 yang disetujui untuk digunakan di berbagai belahan dunia. Namun, menurut penelitian terbaru, satu-satunya vaksin yang terbukti paling efektif adalah Oxford-Astrazeneca atau Covishield.

AstraZeneca, yang merupakan vaksin yang paling populer digunakan di seluruh dunia, menjanjikan tingkat kemanjuran yang tinggi. Namun, diliputi kumpulan kontroversi, karena ada laporan munculnya efek samping yang tidak biasa akhir-akhir ini.

Tetapi, evaluasi kritis yang lebih baru telah membuktikan bahwa vaksin Covishield benar-benar telah melakukan tugasnya dengan baik, dengan memberikan lebih banyak antibodi pelindung, terutama dalam melawan varian Delta. 

Dilansir Times of India, studi yang dilakukan oleh ICMR dan NIV bernama 'Netralisasi varian Delta dengan serum vaksin Covishield dan individu yang divaksinasi COVID-19 yang pulih' menetapkan bahwa Covishield atau AstraZeneca yang menjadi vaksin utama di India, sangat efektif terhadap varian Delta. 

Melalui penelitian tersebut diamati bahwa vaksin vektor virus yang dibangun dengan menggunakan teknologi vaksin tradisional itu, mampu menghasilkan lebih banyak antibodi penetralisir yang dapat bekerja melawan virus corona. 

Vaksin yang pertama kali disetujui untuk digunakan di India itu memiliki tingkat kemanjuran hingga 70 persen dan meningkat menjadi 91 persen, setelah dosis kedua diberikan dengan jarak 8-12 minggu. Vaksin ini juga meningkatkan respons antibodi yang lebih tinggi sehingga mencegah COVID-19 yang parah. 

Studi lebih lanjut juga telah memastikan bahwa AstraZeneca lebih efektif pada orang-orang yang reinfeksi atau pernah tertular sebelumnya.

Diamati bahwa orang yang telah pulih dari COVID-19 dan telah mendapat dosis penuh vaksin ini, memiliki lebih banyak antibodi dan respons penetralisir dibanding individu yang belum pernah terinfeksi COVID-19 sebelumnya. Namun, studi investigasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengonfirmasi hal yang sama.

Para ahli menyatakan, mereka yang telah sembuh dari COVID-19 memiliki konsentrasi sel memori-B dan T yang lebih tinggi, sehingga dapat mengingat infeksi dan meningkatkan respons antibodi yang lebih tahan lama dan efektif dengan vaksin ini. 

Ini juga bisa menjadi alasan mengapa seseorang yang telah sembuh dapat mengalami efek samping yang lebih parah dibanding seseorang yang tidak memiliki riwayat COVID-19

Diterbitkan di Berita
Khadijah Nur Azizah - detikHealth Jakarta - Filipina memutuskan untuk mengunci wilayah atau lockdown ibukota Manila selama dua pekan yang dimulai pada Jumat (6/8/2021). Filipina telah melaporkan 10.623 kasus virus Corona baru, lonjakan infeksi satu hari terbesar selama hampir empat bulan.

Kasus Corona di Filipina diperparah dengan kemunculan varian Delta yang membuat tekanan di rumah sakit. Sekitar 13 juta penduduk yang tinggal di Manila diminta untuk tetap tinggal di rumah.

"Pemerintah pusat bersama-sama dengan pemerintah daerah harus bertindak agresif, seolah-olah sudah ada penularan dalam masyarakat," kata juru bicara kementerian kesehatan Maria Rosario Vergeire pada konferensi pers, merujuk pada varian Delta yang sangat menular.

Aturan lockdown ini membatasi aktivitas warga dan hanya bisnis dan pekerjaan penting yang dapat beroperasi. Guna menertibkan warga, pemerintah juga membuat pos pemeriksaan di seluruh wilayah ibu kota.

Pejabat Manila mengatakan mereka akan menggunakan periode lockdown selama dua minggu untuk memvaksinasi empat juta orang di wilayah ibu kota. Filipina menargetkan untuk memvaksinasi hingga 70 juta orang tahun ini.

Sebanyak 450 kasus terkonfirmasi varian Delta COVID-19 telah terdeteksi di Filipina. Namun, para ahli percaya angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, karena kurangnya kapasitas pengurutan genom di negara tersebut.


(kna/kna)

Diterbitkan di Berita

BEIJING, NETRALNEWS.COM - Sedikitnya 20 pejabat di Pemerintah Kota Zhangjiajie, Provinsi Hunan, China, dicopot dari jabatannya akibat kelalaiannya sehingga menyebabkan terjadinya penularan COVID-19 varian Delta secara massal.

Mereka dianggap paling bertanggung jawab terhadap pertunjukan seni di kota wisata yang pernah menjadi lokasi syuting film Avatar yang memicu penyebaran wabah tersebut ke delapan provinsi lainnya di China.

Media setempat pada Kamis, (5/8/2021) menyebutkan di antara yang dikenai sanksi pemecatan itu adalah pejabat level distrik, staf manajemen rumah sakit, dan personel yang terkait dengan pertunjukan seni di gedung teater Charming Xiangxi yang dipadati 2.000 penonton pada 22 Juli lalu.

Ada enam pejabat publik di Distrik Yongding, Kota Zhangjiajie, termasuk Kepala Bidang Kesehatan Xu Xionghui yang didongkel dari posisinya, sebagaimana laporan CCTV.

Xu dianggap tidak berkompeten dalam mengimplementasikan protokol kesehatan dan lemah dalam mengontrol pasien yang terinfeksi, demikian pernyataan otoritas setempat. Di Distrik Yongding hingga Selasa (3/8) terdapat 15 kasus positif COVID-19 varian Delta.

Direktur Departemen Kegawatdaruratan Rumah Sakit Daerah Zhangjiajie, Deng Huabin, yang bertanggung jawab atas tes PCR juga dicopot dari jabatannya lemahnya manajemen hingga menyebabkan kerumunan dan kekacauan di rumah sakit saat tes berlangsung.

Menurut otoritas setempat, kerumunan itu sangat berisiko terjadinya infeksi silang di rumah sakit. Saat ini, baik warga Zhangjiajie maupun wisatawan yang mengisi liburan musim panas, dilarang meninggalkan kota itu.

Sementara itu, seorang pengiring pasien COVID-19 di Rumah Sakit Daerah Zhangjiajie ditangkap polisi.

Biro Keamanan Publik Kota Zhangjiajie mengumumkan bahwa seorang bermarga Ruan melanggar peraturan antipandemi dan undang-undang pencegahan penyakit menular karena menyembunyikan hasil tes positif COVID-19.

Selama 16-30 Juli, dia juga berulang kali mengunjungi kedai kopi di dekat rumah sakit. Seperti diberitakan sebelumnya, seorang perempuan tua asal Nanjing, Provinsi Jiangsu, juga ditangkap polisi karena dianggap memicu terjadinya penularan wabah COVID-19 secara massal di Kota Yangzhou.

Perempuan bermarga Mao melakukan perjalanan sejauh 100 kilometer dari Nanjing ke rumah adiknya di Yangzhou dalam masa larangan bepergian.

Sebanyak 94 warga Yangzhou, termasuk adik Mao, turut terinfeksi COVID-19 varian Delta klaster Nanjing. 

Reporter : Antara
Editor : Nazaruli

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia - Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) hari Rabu (4/8) mengatakan 93% dari seluruh kasus baru virus corona di Amerika adalah varian delta.

Angka terbaru CDC untuk minggu yang berakhir 31 Juli menunjukkan varian delta, termasuk sub-varian keturunannya, yang semuanya diklasifikasikan sebagai varian yang menjadi perhatian, mencakup 93% dari semua kasus di Amerika selama dua minggu terakhir Juli lalu.

Varian itu menyumbang kasus yang lebih tinggi di wilayah tertentu di Amerika, antara lain di Midwest – termasuk Iowa, Kansas, Missouri dan Nebraska – di mana delta menyumbang 98% dari semua kasus.

Di wilayah seperti North dan South Dakota, Colorado, Montana, Utah dan Wyoming, varian delta mencakup 95% dari semua kasus. Angka-angka itu mewakili peningkatan pesat prevalansis varian itu sejak akhir Mei lalu, ketika hanya 3% dari semua kasus yang merupakan varian delta.

CDC juga mengatakan rata-rata kasus harian baru selama seminggu terakhir naik dari 40.597 kasus per hari menjadi 66.606 kasus per hari pada minggu lalu, atau berarti meningkat lebih dari 64%.

Meskipun masih lebih rendah dibanding puncak kasus baru pada perebakan Januari lalu ketika ada 300.000 kasus baru per hari, lonjakan kasus baru ini jauh lebih tinggi dibanding Mei lalu ketika rata-rata kasus harian baru hanya lebih dari 8.000 kasus. [em/jm]

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Kepala Sub Bidang Tracing Satgas Covid-19 Koesmadi Priharto mengungkapkan, hampir 76 persen kasus Covid-19 Indonesia didominasi oleh varian delta.

"Varian yang saat ini sedang ganas-ganasnya dan banyak di Indonesia adalah varian delta. Hampir 76 persen didominasi oleh varian delta tersebut," ungkapnya dalam Dialog KPCPEN, Rabu (4/8/2021). Koesmadi menyebut, varian delta menyebar lebih cepat.

"Tapi kalau daya tahan tubuh kita kuat semuanya tidak akan bisa terjadi," kata Koesmadi. Untuk itu, Ia meminta masyarakat untuk selalu mematuhi protokol kesehatan, serta melakukan vaksinasi untuk mencegah penularan Covid-19.

"Vaksinasi tidak membunuh virus itu, tapi vaksinasi membuat tubuh kita kuat untuk bisa menimbulkan antibodi ketika virus itu masuk ke dalam tubuh kita, dia tidak bisa meluas ke mana-mana.

Diterbitkan di Berita

lokadata.id - Pemerintah Cina melakukan penguncian di sejumlah kota menyusul munculnya kasus baru positif Covid-19. Meski hanya puluhan orang terinfeksi virus korona, pemerintah akan melakukan pengujian massal dan pembatasan perjalanan.

Pemerintah Kota Wuhan pada Selasa (3/8/2021) menyatakan akan melakukan tes Covid-19 untuk seluruh populasinya setelah kota tempat virus korona pertama kali muncul pada akhir 2019 itu melaporkan kasus infeksi lokal pertamanya dalam setahun lebih.

Pejabat senior Wuhan, Li Tao menyampaikan dalam konferensi pers, kota berpenduduk 11 juta itu segera meluncurkan tes asam nukleat menyeluruh untuk semua penduduk.

Pada Senin, pihak berwenang mengumumkan tujuh kasus infeksi penularan lokal yang ditemukan di antara para pekerja migran di kota tersebut. Ini merupakan kasus domestik pertama setelah wabah awal yang disusul dengan lockdown ketat pada awal 2020.

Dilansir France 24, Selasa (3/8), dalam beberapa hari terakhir Cina telah meminta warga di seluruh kota tinggal di rumah-rumah mereka, memutus jaringan transportasi domestik dan melaksanakan tes massal untuk mengatasi wabah terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Selasa, Cina melaporkan 61 kasus domestik saat wabah varian Delta menyebar ke puluhan kota setelah kasus infeksi pada para petugas kebersihan bandara di Nanjing, yang kemudian memicu rantai kasus yang dilaporkan di seluruh negeri.

Kota-kota besar termasuk Beijing telah melakukan tes terhadap jutaan penduduknya, menutup kompleks permukiman, dan mengkarantina kontak terdekat orang yang terinfeksi.

Kota Yangzhou, di dekat Nanjing, merupakan pemerintah daerah terbaru yang memerintahkan warga diam di rumah setelah tes skala besar mendeteksi 40 kasus infeksi baru dalam beberapa hari terakhir.

Lebih dari 1,3 juta penduduk Yangzhou sekarang diam di rumah, di mana hanya satu orang dalam setiap rumah tangga yang diizinkan keluar rumah dalam sehari untuk belanja berbagai barang keperluan, seperti disampaikan pemerintah kota pada Selasa.

Pada Senin, Cina melaporkan 55 kasus baru virus korona yang ditransmisikan secara lokal. Virus menyebar cepat seiring merebaknya varian Delta di lebih dari 20 kota dan 12 provinsi.

Pemerintah daerah di kota-kota besar termasuk Beijing telah menguji jutaan penduduk. Selain itu kompleks perumahan ditutup dan menempatkan orang yang kontak dekat dengan pasien Covid-19 di karantina.

Cina sebelumnya menganggap telah berhasil mengendalikan penyebaran virus Covid-19. Angka kasus Covid-19 hampir nol sejak virus ini ditemukan pertama kali di Wuhan pada 2019.

Namun wabah kembali merebak dari Nanjing akibat masuknya varian delta. Sebanyak sembilan petugas kebersihan di bandara internasional dinyatakan positif pada 20 Juli 2021 yang mengancam keberhasilan Cina mengendalikan wabah.

Setelah itu lebih dari 360 kasus domestik dilaporkan dalam dua minggu terakhir. Di tempat wisata Zhangjiajie, dekat Zhuzhou, wabah menyebar bulan lalu di antara pengunjung teater.

Virus itu kemudian terbawa ke rumah dan menyebar hingga ke seluruh negeri. Zhangjiajie pun memberlakukan lockdown di kota berpenduduk 1,5 juta orang sejak Jumat pekan lalu.

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 4