Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) Ivermectin untuk penggunaan sebagai obat covid-19. Uji klinis akan dilakukan di delapan rumah sakit Jakarta.

"Badan POM sejalan dengan rekomendasi WHO memfasilitasi untuk segera pelaksanaan uji klinik yang diinisiasi oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan," kata Kepala BPOM Penny Lukito melalui konferensi pers yang disiarkan di Youtube Badan POM RI, pada Senin (28/5).

Delapan rumah sakit yang akan melakukan uji klinis Ivermectin adalah RS Persahabatan Jakarta, RS Sulianti Saroso Jakarta, RS Sudarso Pontianak, RS Adam Malik Medan, RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, RS Angkatan Udara Jakarta, RS Umum Suyoto Jakarta dan RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet.

Uji klinis dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan dengan pemberian obat kepada pasien selama 5 hari dan pemantauan dimulai 28 hari setelah pemberian obat.

Penny mengatakan persetujuan uji klinik tersebut diberikan BPOM dengan pertimbangan publikasi beberapa uji klinik yang sudah dilakukan sejumlah negara lain terkait pemakaian Ivermectin sebagai obat covid-19.

Dalam beberapa publikasi tersebut, kata dia, ditemukan bahwa obat yang merupakan obat cacing itu dapat digunakan untuk menanggulangi covid-19.

Ia mengatakan hal ini juga sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan Ivermectin bisa digunakan untuk covid-19 dalam lingkup uji klinis.

"Dengan demikian akses masyarakat untuk obat ini bisa juga dilakukan secara luas dalam pelaksanaan uji klinik," tutur Penny.

Sebelumnya, BPOM memberikan izin edar untuk obat Ivermectin. Namun izin tersebut diberikan dalam konteks pemberian obat untuk pasien kecacingan.

BPOM mengatakan saat ini belum ada bukti yang cukup untuk membuktikan efektivitas Ivermectin dalam kasus covid-19. Untuk itu, dibutuhkan uji klinik sebagai pembukti.

(fey/gil)

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COMPemerintah akan segera melakukan vaksinasi Covid-19 bagi anak-anak berusia 12-17 tahun. Hal tersebut dipastikan seiring dengan terbitnya izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk vaksin Sinovac.

Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam keterangannya di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, (28/6/2021).

"Kita bersyukur, BPOM telah mengeluarkan ijin penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA) untuk vaksin Sinovac yang dinyatakan aman digunakan anak usia 12 sampai 17 Tahun. Sehingga vaksinasi untuk anak-anak usia tersebut bisa segera dimulai," ujar Presiden.

Program vaksinasi Covid-19 nasional sendiri telah mencapai angka 1,3 juta suntikan per hari pada Sabtu, 26 Juni 2021 lalu. Capaian ini lebih cepat dari target yang ditetapkan sebelumnya oleh pemerintah, yakni 1 juta suntikan per hari mulai Juli.

"Hal ini tercapai berkat kerja keras dan gotong royong semua pihak, terutama Kementerian Kesehatan, TNI-Polri, pemda, BUMN, dan pihak swasta yang turut membantu, serta masyarakat yang bersedia divaksin," jelas Presiden.

Meskipun capaian 1 juta vaksinasi per hari telah tercapai, Kepala Negara meminta agar semua pihak tetap bekerja keras agar sehingga angka 1 juta suntikan vaksin per hari dapat terus dilakukan dan bahkan dilipatgandakan.

"Saya ingatkan bahwa seluruh pihak tetap harus bekerja keras agar target 1 juta per hari vaksinasi terjaga sampai akhir Juli dan dapat meningkat dua kali lipat pada Agustus 2021, mencapai 2 juta dosis per hari," ungkapnya.

Seiring dengan vaksinasi yang terus digencarkan oleh pemerintah, Presiden kembali mengingatkan bahwa penyebaran Covid-19 hanya dapat ditekan melalui upaya bersama. Untuk itu, Presiden meminta agar masyarakat terus disiplin menerapkan protokol kesehatan.

"Saya mohon kepada bapak, ibu, dan saudara-saudara, kita semua, untuk tidak ragu divaksinasi, dan tetap berdisiplin menjalankan protokol kesehatan, memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Dan sekali lagi saya ingatkan, tinggallah di rumah selama tidak ada kebutuhan yang mendesak," tandasnya.

Reporter : PD Djuarno
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita
Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews Jakarta - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta Samsul Ma'arif meminta Gubernur DKI Anies Baswedan melibatkan pimpinan ormas dan tokoh agama dalam penanganan Covid-19. Selama ini, kata Samsul, relatif jarang mengajak ormas untuk berembuk.

"Saya ini meminta Gubernur supaya ngajak para pimpinan ormas dan tokoh agam untuk dalam rangka pencegahan Covid, selama ini pak Gubernur itu hampir yang saya rasakan tidak mengajak tokoh-tokoh agama ormas," kata Samsul kepada wartawan, Senin (28/6/2021).

Samsul mengatakan sejumlah fasilitas pendidikan agama bisa dijadikan tempat vaksinasi. Dengan begitu, vaksinasi di Jakarta lebih cepat dan menyebar.

"Minimal untuk vaksin lah bisa tempat-tempat pendidikan agama, sekolah yayasan pondok pesantren itu dijadikan tempat vaksin dan banyak ustaz yang kadang-kadang ketakutan dengan vaksin mendapatkan informasi yang salah sehingga nggak mau vaksin," ujar dia.

Selain itu, kata Samsul, ikhtiar batin juga terus digaungkan oleh para ulama dan ustaz. Pendekatan-pendekatan spiritual tetap dilakukan.

"Itu ikhtiar lahir,ikhtiar batin ya tentu para ulama kiai ustaz ayo bersama-sama pemerintah tiap hari mengadakan zikir, istigasah, doa bersama pendekatan-pendekatan spiritual terus digaungkan terus tokoh-tokoh agama meminta kesadaran masyarakat supaya taat prokes," ujar dia.

Samsul pun mengeluhkan komunikasi Anies kepada para tokoh-tokoh agama. Dia bahkan harus mengirim pesan singkat langsung kepada Anies untuk bertemu dengan pimpinan ormas.

"Selama ini kan hanya gubernur dengan RT/RW, dengan tokoh-tokoh agama tidak disapa tidak disapa gitu kan, mestinya... saya langsung tegas langsung WA, baru direspons iya nanti.. nanti-nanti itu kapan nanti," ujar Samsul.

"Maksud saya respons besok langsung apa sih susahnya ngajak rapat tokoh-tokoh agama dan ormas kondisi seperti ini yang lain bisa ditinggal dulu," sambung dia.

Samsul menjelaskan komunikasi Pemprov DKI dengan para pimpinan ormas dan tokoh agama ini sangat penting. Sebab selama ini masih ada ustaz yang tidak mendapatkan informasi akurat soal vaksin.

"Kadang-kadang ada tokoh agama yang malah memberikan berita yang tidak benar itu ada juga tetapi kalau disapa gubernurnya insyaallah mereka mau," tutur dia.

(knv/fjp)

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus kembali mencatat adanya penurunan jumlah pasien aktif di Kudus,Minggu (27/6/2021) malam. Ini terjadi setelah jumlah pasien sembuh lebih banyak dibanding kasus baru.

Yakni ada 148 pasien sembuh, sementara pasien baru sebanyak 44 orang. Sedangkan pasien meninggal tercatat ada lima orang. Sehingga menjadikan jumlah pasien aktif di Kabupaten Kudus kini menurun kembali menjadi 1.694 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo menyampaikan, untuk saat ini angka kesembuhan mulai berangsur stabil dan cenderung naik. Sementara angka kematian mengalami penurunan.

“Untuk total pasien sembuh kini berada di angka 10.693 orang, sementara jumlah pasien meninggal kini berada di angka 1.107 orang, dari total kasus sebanyak 13.494,” ujar Badai, Senin (28/6/2021).

Sementara untuk jumlah penambahan baru, lanjut dia, mengalami penurunan di tiga hari terakhir. Pada tanggal 25 Juni, penambahan kasus aktif terjadi sebanyak 279 orang.

Kemudian di tanggal 26 Juni menurun ke 186 orang, dan tanggal 27 Juni kemarin menurun lagi menjadi 44 orang saja. Sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus pun kini dikategorikan sebagai zona oranye penyebaran Covid-19.

Namun secara keseluruhan, Kabupaten Kudus masih dikategorikan sebagai zona merah penyebaran Covid-19. Oleh karena itu pihaknya berharap masyarakat bisa melaksanakan disiplin protokol kesehatan secara baik dan benar.

Penerapan prokesnya, seperti rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. “ Serta mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan, sehingga bisa memutus rantai penularan virus ini,” jelas Badai  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

Malaysia lanjutkan penguncian total

Senin, 28 Jun 2021 10:01

Kuala Lumpur (ANTARA) - Pemerintah Malaysia melanjutkan fase pertama penguncian total Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) dalam Rencana Pemulihan Negara (PPN) hingga tiga indikator nilai ambang utama dicapai.

"Ketiga indikator tersebut ialah rata-rata kasus harian COVID-19 menurun di bawah 4,000 kasus, kadar penggunaan katil di ICU sesuai kapasitas, serta kadar vaksinasi bagi populasi yang telah menerima dua dos lengkap mencapai 10 persen," kata Menteri Pertahanan Ismail Sabri Yakoob di Kuala Lumpur, Minggu (27/6).

Peralihan dari fase satu ke fase dua akan mempertimbangkan ketiga indikator tersebut sebelum diputuskan.

"Secara keseluruhan, PPN adalah strategi peralihan keluar dari kemelut pandemik COVID-19, yang meliputi empat fase melibatkan rencana peralihan fase Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) secara bertingkat," katanya.

Berdasarkan penilaian risiko yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM), pemerintah akan melanjutkan lagi tempo fase satu di seluruh negara atau provinsi seperti yang telah diumumkan oleh perdana menteri.

"Situasi saat ini belum berhasil untuk beralih dari fase satu ke fase dua karena jumlah kasus positif baru harian menunjukkan tren mendatar," katanya.

Ismail mengatakan sebelumnya waktu operasi kedai makan dan restoran hanya dibenarkan mulai jam 08.00 pagi hingga 20.00 malam.

"Setelah mempertimbangkan permintaan dan pandangan pengusaha kedai makan, sidang kabinet setuju untuk menukar waktu operasi premis yang menjual makanan mulai jam 06.00 pagi hingga 22.00 malam mulai 28 Juni 2021," katanya.

Pewarta: Agus Setiawan
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Sebanyak 379 pasien Covid-19 di Kabupaten Kudus dinyatakan sembuh pada Sabtu (26/6/2021) petang. Sementara jumlah pasien baru bertambah sebanyak 186 orang, dan pasien meninggal bertambah 20 orang.

Penambahan di tiga kategori tersebut pun memengaruhi jumlah pasien aktif menjadi sebanyak 1.803 orang. Atau menurun sebanyak 212 orang dari hari sebelumnya.

“Dengan rincian 385 pasien menjalani perawatan di rumah sakit, dan 1.418 pasien menjalani isolasi mandiri,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, Sabtu (26/6/2021) petang.

Kemudian secara akumulasi, lanjut Badai, jumlah total warga Kudus yang terpapar Covid-19 hingga saat ini sebanyak 13.450 orang. Sebanyak 10.545 orang sudah dinyatakan sembuh. Sementara pasien meninggal kini berada di angka 1.102 orang.

“Sisanya adalah pasien aktif yaitu sebanyak 1.803 orang,” ujarnya.

Kabupaten Kudus, tambah dia, juga masih memiliki sebanyak 238 pasien suspek yang masih menunggu hasil swab PCRnya. Serta ada sebanyak 211 probable meninggal dunia. Status zonasi di tingkat kecamatan juga mengalami penurunan.

Di mana sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus mengalami perubahan status menjadi zona oranye. Setelah pada awal pekan ini semuanya berstatus zona merah.

Hanya, Badai tetap mengimbau semua warga Kabupaten Kudus untuk terus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Sehingga bisa menekan angka penularan Covid-19.

“Kami terus ingatkan untuk mematuhi protokol kesehatan 5M, yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas,” jelasnya.

Para pasien isolasi mandiri juga diharapkan bisa melakukan isolasi dengan sungguh-sungguh. Apabila rumahnya tidak memadau, disarankan untuk masuk ke isolasi terpusat milik desa ataupun pemerintah.

“Para nakes di rumah sakit juga terus berjuang menyembuhkan pasien Covid-19 yang dirawat,” tandas Badai.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Lonjakan kasus positif Covid-19 masih terjadi di Ibu Kota. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat, penambahan kasus positif Covid-19 mencapai 9.271 orang pada Sabtu (26/6/2021) kemarin.

Ini merupakan penambahan kasus harian tertinggi di DKI Jakarta selama pandemi.

Sebelumnya, penambahan kasus harian tertinggi terjadi pada dua hari sebelumnya dengan 7.505 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, tidak semua penderita Covid-19 harus dirawat di rumah sakit (RS).

"Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan kriteria prioritas pasien yang bisa dirawat di RS, yakni utamanya yang bergejala sedang, berat, dan kritis," kata Widyastuti dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/6/2021).

Bagi pasien Covid-19 tanpa gejala (OTG) dan gejala ringan, tidak perlu isolasi di RS.

OTG adalah pasien terkonfirmasi positif Covid-19, tetapi tidak memiliki gejala. Sementara pasien gejala ringan seperti mengalami demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri otot, tanpa sesak napas.

"Untuk yang bergejala ringan, seperti batuk, pilek, sakit kepala, radang tenggorokan, tidak sesak napas, maupun yang tanpa gejala, bisa menjalani isolasi mandiri saja di rumah atau fasilitas isolasi terkendali,” tutur Widyastuti.

Baik OTG dan pasien gejala ringan diharuskan melakukan pemantauan mandiri, meminum paket obat yang telah diberikan, menjalankan protokol kesehatan, serta terus berkomunikasi dengan petugas kesehatan.

Pemantauan mandiri yaitu dengan memantau suhu tubuh harian, gejala harian, cek kadar oksigen dalam darah (saturasi oksigen) dengan pulse oximeter, memantau tanda-tanda kegawatan (sesak napas, hilang kesadaran, gelisah, keringat dingin, kadar oksigen di bawah 95 persen), dan tetap minum obat untuk penyakit sebelumnya.

Gejala sedang dan berat

Sementara, kriteria prioritas pasien yang perlu dirawat di RS, antara lain jika saturasi oksigen 93 persen atau di bawahnya, mengalami sesak napas, kesulitan/tidak dapat berbicara, penurunan kesadaran, terdapat komorbid, dan bergejala sedang dengan pneumonia.

Pasien yang disebutkan di atas masuk kategori gejala sedang hingga berat, tergantung angka saturasi oksigen.

Maka, yang harus dilaksanakan adalah pasien harus dirujuk ke RS dan menaati tata laksana di RS tersebut.

Terkait dengan RS yang merawat pasien Covid-19, Widyastuti menyatakan, saat ini ada 140 RS di wilayah DKI Jakarta telah merawat pasien dengan gejala sedang hingga ringan.

Dari 140 RS itu, terdapat RSUD/RSKD di bawah Pemprov DKI Jakarta yang seluruhnya telah merawat Covid-19.

RS itu di antaranya RSUD Tanah Abang, RSUD Cempaka Putih, RSUD Sawah Besar, RSUD Tugu Koja, RSUD Pademangan, RSUD Cengkareng, RSUD Kalideres, RSUD Pasar Minggu, RSUD Kebayoran Lama, RSUD Kebayoran Baru,

RSUD Jatipadang, RSUD Kramatjati, RSUD Ciracas, RSKD Duren Sawit, RSUD Tarakan, RSUD Koja, RSUD Pasar Rebo, RSUD Budhi Asih, dan RS Adhyaksa.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Menyusul keberadaan sejumlah varian Covid-19 di global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja mengumumkan varian baru bernama Lambda. Varian itu masuk dalam daftar Variant of Interest atau VOI.

"Pada 14 Juni 2021, varian yang ditetapkan untuk garis keturunan Pango C.37, clade GR/452Q.V1, NexStrain clade 20D, ditetapkan sebagai VOI global dan diberi label WHO Lambda," tulis buletin WHO, dikutip India Today, Sabtu (26/6/2021).

Varian Lambda menambah panjang daftar varian Covid-19 yang beredar di dunia saat ini. Misalnya saja varian Delta yang menyebabkan 'tsunami' Covid-19 di India dan juga masuk dalam klasifikasi VOI WHO pada Mei lalu.

Klasifikasi itu diberikan karena varian terbukti lebih menular, mematikan, atau lebih resite pada vaksin serta perawatan yang dilakukan saat ini. Varian Delta juga telah ditemukan di 92 negara dunia.

Untuk mengenal lebih jauh, berikut sejumlah fakta mengenai varian baru Lamdba:

1. Masuk Varian VOI
WHO menyebutkan Lambda telah lama dipantau sebagai varian yang perlu mendapat peringatan.

Berdasarkan informasi lebih lanjut dan penilaian yang diperbarui, varian ini sekarang telah dianggap sebagai 'memenuhi definisi kerja VOI berdasarkan bukti kemunculan yang berkelanjutan dan dugaan implikasi fenotipik'.

2. Terdeteksi Pertama Kali di Peru
WHO menyebutkan jika Lambda terdeteksi awalnya di Peru pada Agustus 2020. Laporan WHO menyebutkan di negara itu hingga April 2021, 81% kasus merupakan varian Lambda.

3. Meluas ke 29 Negara
Sejak ditemukan di Peru, varian itu dilaporkan telah ditemukan di 29 negara, yakni sebagian besar Amerika Latin termasuk Argentina dan Chili.

Di Chili 32% dalam 60 hari di Chili juga berasal dari varian yang sama. Varian itu beredar bersama pada tingkat yang sama dengan varian Gamma (33%), namun mengalahkan varian Alpha (4%) pada periode yang sama.

Argentina melaporkan prevalensi Lambda sejak minggu ketiga Februari 2021. Sejak 2 April hingga 19 Mei, Lambda menyumbang 37% dari kasus yang ada.

3. Bawa Sejumlah Mutasi

WHO menyebutkan Lambda membawa sejumlah mutasi, yakni dengan dugaan implikasi fenotipik, seperti potensi peningkatan penularan atau kemungkinan peningkatan resistensi terhadap antibodi pentetral.

"Ini ditandai dengan mutasi pada protein lonjakan, termasuk G75V, T761, del247/253, L452Q, F490S, D614G dan T859N," ungkap WHO.

WHO mengatakan telah ada bukti terbatas mengenai dampak penuh dengan perubahan genom. Lembaga itu mencatat studi lebih lanjut mengenai dampak fenotipik diperlukan, untuk lebih memahami dampak pada tindakan pencegahan dan mengendalikan penyebaran.

Selain itu penelitian juga dibutuhkan untuk memahami dampak pada tindakan pencegahan dan mengendalikan penyebaran.

4. Keefektifan Vaksin

Kehadiran varian baru juga diikuti dengan pertanyaan apakah bisa dilawan dengan vaksin yang ada. Namun nampaknya belum ada jawaban soal pertanyaan itu.

Sebab WHO mengatakan dibutuhkan studi lebih lanjut untuk memvalidasi efektivitas vaksin yang berkelanjutan.


(tas/tas)

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo diketahui sempat terpapar Covid-19 beberapa waktu lalu. Badai juga menceritakan, bahwa dirinya juga termasuk salah seorang yang terpapar Covid-19 varian delta.

Ini diketahui dari hasil boratorium tes whole-genome sequencing (WGS) yang dilakukan di UGM Yogyakarta. Saat ini Badai sudah dinyatakan sepenuhnya sembuh dari virus itu. Namun belum diketahui penularannya dari mana.

“Kami belum bisa menemukan sumbernya (Delta) dari mana. Dari hasil lab WGS 28 sama 34 (terdeteksi varian delta), boleh dikatakan termasuk saya.  Saya dan istri saya itu menjadi yang terperiksa dalam spesimen tersebut,” katanya, Sabtu (26/6/2021).

Sebelum terkonfirmasi positif Covid-19 varian delta, ia mengaku tidak pernah melakukan perjalanan ke manapun.  Hanya melakukan aktivitas keseharian seperti saat bekerja. “Masa inkubasi itu 14 hari, selama 14 hari ke belakang (sebelum positif) saya tidak ke mana-mana.

Berada di rumah saja, maksudnya rumah-kantor, dan tengah mengurus di (isolasi) Rusunawa pada waktu dan Akbid. Tidak keluar kota.  Setelah itu saya isolasi, sampai jalan juga tidak pernah lihat, karena di rumah terus,” ujarnya.

Ketika ada instruksi pasien positif diisolasi terpusat di Asrama Haji Donohudan Boyolali, masa isolasi Badai hampir selesai. Sehingga, tidak dibawa ke tempat isolasi tersebut, lantaran sudah melampaui waktu isolasi mandiri lebih dari delapan hari.

“Saya itu ya terkena (varian) delta. Saya ingin membuktikan bahwasanya saya sendiri yang terkena varian delta itu dalam posisi tidak ke mana-mana.  Sehingga memang belum diketahui sumbernya dari mana.

Dilakukan penelusuran hampir sama tidak ada kontak ke mana-mana,  jika dimungkinkan itu peristiwa lokalan saat mudik,” jelasnya. Saat terkonfirmasi positif Covid-19 varian delta, Ia menyebut saat itu dalam status orang tanpa gejala (OTG).

Hanya mengalami sejumlah gejala ringan seperti pusing hingga telinga tidak bisa mendengar. “Yang jelas itu ya pusing, yang kelihatan agak berbeda sedikit itu telinga agak sedikit budek (tuli),  saya kena baru kali ini sekali ini,” ucapnya.

Ia juga menyatakan dirinya merupakan salah satu orang sudah divaksin berbarengan dengan sekitar 7.000 lebih tenaga kesehatan di Kudus yang sudah mendapatkan vaksinasi lengkap.

Namun saat ini dirinya sudah dinyatakan sembuh bersama ratusan nakes lain yang sempat positif. “Saya bersama sebanyak 7.000-sekian nakes telah mendapat vaksin lengkap.

Kemudian yang terpapar sebanyak 700-an, artinya orang yang sudah divaksin bisa terpapar itu 6-10 persen yang juga tanpa gejala, dan 17 dirawat dengan gejala ringan,  dan sebanyak 90 pesen yang terpapar itu sudah selesai isolasi dan dinyatakan sembuh, ” terangnya.

Sehingga, lanjut Badai, bagi yang terpapar dan telah melakukan vaksinasi itu bisa terhindar dari kemungkinan terburuk. Ia juga membandingkan dengan angka kematian mulai melonjak itu sebanyak 400-an orang yang secara umum belum terjangkau vaksin.

“Kalau mau dibandingkan antara vaksin dan tidak itu ada efektivitas vaksin, artinya vaksin punya manfaat daripada tidak,” pungkasnya.  

Reporter: Yuda Auliya Rahman Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mencatat lebih dari 98 ribu orang menjalani tes pemeriksaan Covid-19 pada hari ini. Sebanyak 21,47 persen di antaranya dinyatakan positif Covid-19.

Dalam data yang dipublikasi pemerintah, ada 98.274 orang yang melakukan tes Covid-19 di fasilitas kesehatan. Sebanyak 21.095 orang di antaranya positif Covid-19. Jumlah itu merupakan rekor tertinggi kasus harian di Indonesia.

Secara rinci, ada 55.612 orang menjalani tes RT-PCR. Dari jumlah itu, 20.524 orang dinyatakan terpapar virus corona. Sementara itu, ada 280 orang yang menjalani Tes Cepat Molekuler (TCM). Sebanyak 170 di antaranya positif Covid-19.

Dengan catatan itu, positivity rate dari pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan metode deteksi molekuler/Nucleic Acid Amplification Test (NAAT) mencapai 37,02 persen.

Di saat yang sama, ada 42.382 orang yang dites menggunakan rapid antigen. Namun, hanya 401 orang yang dinyatakan positif Covid-19.

Sebelumnya, epidemiolog meminta pemerintah untuk meningkatkan kapasitas testing sebagai langkah mengatasi lonjakan pandemi, di luar kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat seperti PPKM Mikro.

"Menyasar minimal 200-300 ribu orang per hari untuk dites. Nah itu baru kita bisa punya harapan untuk kebijakan PPKM," kata epidemiolog Universitas Indonesia, Hermawan Saputra, kepada CNNIndonesia.com, Kamis (24/6).

Hermawan mengatakan pendekatan kebijakan yang dilakukan dalam PPKM tidak bisa diandalkan jika tracing dan testing masih lemah.

Indonesia sedang menghadapi lonjakan kasus Covid-19 beberapa pekan terakhir. Fenomena yang disebut sebagai gelombang kedua ini dipicu oleh mobilitas warga saat Lebaran Idulfitri, serta beberapa kegiatan massal seperti hajatan atau kumpul keluarga.

Hari ini, Indonesia mencatat total 2.093.962 kasus Covid-19. Sebanyak 194.776 orang masih positif Covid-19, 1.842.457 orang sembuh, dan 56.729 meninggal dunia.

(dhf/vws)

Diterbitkan di Berita